Rumah Adat Sumatera Barat – Rumah Gadang Minang dan Uma Mentawai

Tentang Sumatera Barat (Sumbar), kita pasti berbicara banyak mengenai masyarakat Minangkabau. Perihal kesenian tradisional, upacara adat, hingga rumah adat Sumatera Barat pun kental menggambarkan lanskap budaya Minangkabau. Meski demikian, suku Mentawai juga tetap mengambil bagian dengan keunikannya.

Selain berasal dari etnis Minangkabau, adat budaya Sumbar juga terwakili oleh etnis Mentawai sebagai suku pribumi dari Kepulauan Mentawai, Sumatra Barat. Demikian pula ketika membahas tentang arsitektur atau bangunan tradisional Sumatera Barat, yang pastinya akan melibatkan rumah adat dari dua suku tersebut.

Daftar Rumah Adat Sumatera Barat

Rumah Adat Suku Minangkabau

Rumah Gadang Minang Sumbar
credit: Bernard Gagnon, CC BY-SA 3.0

Bangunan khas Minang namanya Rumah Gadang. Sebagian orang ada juga yang menyebutnya Rumah Bagonjong, sedangkan yang lain menyebutnya Rumah Baanjuang. Keberadaan rumah ini teramat penting bagi masyarakat Minang serta memiliki nilai filosofi tersendiri yang terkandung dalam setiap bagiannya.

Rumah Gadang memang banyak tersebar di Sumatra Barat. Namun, tidak semua darek (wilayah Minangkabau) boleh mendirikannya dan hanya wilayah dengan status nagari saja. Biasanya dibangun dengan menempati tanah milik keluarga induk secara turun-temurun yang diwariskan dari dan kepada pihak perempuan.

Ini adalah rumah tinggal bersama dengan aturan khas. Seluruh bagian adalah ruangan lepas kecuali kamar yang jumlahnya bergantung jumlah perempuan yang tinggal. Perempuan bersuami mendapat satu kamar, perempuan tua dan anak-anak memperoleh kamar dekat dapur. Gadis remaja menempati kamar bersama.

Bagian dalamnya terdiri dari lanjar dan ruang yang terbatasi oleh tiang. Tiang yang berbanjar dari depan ke belakang untuk menandai lanjar, sedangkan yang berbanjar ke kiri dan ke kanan menandai ruang. Jumlah lanjar selalu bergantung pada besar rumah (2-4 lanjar) dan ruangnya berjumlah ganjil (3-11 ruang).

Gambaran Umum Rumah Gadang

Ciri khas menonjol dari Rumah Gadang adalah beratap runcing menjulang (bergonjong) mirip tanduk kerbau. Asal-usul bentuk atap ini berkaitan dengan tambo (cerita) tentang kemenangan orang Minangkabau dalam adu kerbau dengan raja dari Jawa pada masa lalu. Atap gonjong terbentuk untuk mengenang kemenangan tersebut.

Keunikan lain terlihat pada bentuk rumah yang secara keseluruhan membentuk segi empat membesar ke atas, adapun sisinya melengkung ke dalam sehingga bagian tengahnya lebih rendah. Dengan atap melengkung ke arah samping dan lengkungan badan rumah yang landai, sekilas rumah ini berbentuk seperti kapal.

Rumah adat Sumatera Barat khas Minang ini juga memiliki jendela yang unik. Ukurannya besar, bentuknya mengikuti bentuk rumah yang miring tidak simetris. Jumlahnya pun banyak, mencapai 12 atau lebih secara keseluruhan. Ukuran jendela yang besar memungkinkan sirkulasi udara dan cahaya matahari yang cukup.

Mengingat kondisi alam Sumatera Barat yang rawan gempa, Rumah Gadang didesain tahan gempa. Salah satunya dengan merancang tiang luar menjadi tidak lurus namun sedikit miring ke arah luar. Selain untuk mengantisipasi gempa, desain tersebut juga berguna untuk mengatasi hembusan angin kencang.

Tiang-tiang rumah juga tidak tertanam ke tanah melainkan bertumpu ke atas batu datar yang kuat dan lebar. Kontruksi seperti ini memungkinkan rumah bergerak ketika terjadi gempa. Selain itu, seluruh sambungan tidak menggunakan paku namun pasak kayu yang juga bagus untuk mengantisipasi adanya gempa.

Kekhasan lain dari Rumah Gadang Minangkabau adalah rangkiang atau lumbung, rumah kecil untuk menyimpan padi. Juga, pada sayap kanan dan kiri bangunan terdapat anjuang sebagai tempat penobatan kepala adat atau tempat bersandingnya pengantin. Karena itu, rumah ini juga disebut rumah baanjuang.

Jenis Rumah Gadang Minangkabau

Dahulu, Kerajaan Minangkabau menganut 2 aliran kepemimpinan. Meski pengambilan keputusan sama-sama menggunakan musyawarah, namun satu aliran menetapkan keputusan tertinggi di tangan pemimpin. Aliran yang lain memilih jalan mufakat bersama. Dua aliran inilah yang kemudian mempengaruhi jenis Rumah Gadang.

Rumah Gadang Pola Koto Piliang

Rumah adat Sumatera Barat jenis ini terdiri dari 3 gonjong kiri kanan, 1 gonjong depan, dan 1 gonjong belakang. Bagian kanan kiri bangunan terdapat anjungan (bagian yang agak tinggi) sebagai tempat tertinggi para pemimpin. Anjungan menandai bahwa pemimpin tidak sejajar dengan masyarakat.

Rumah Gadang Pola Budi Caniago

Bangunan tradisional ini memiliki 2 gonjong kanan, 2 gonjong kiri, dan bagian depan belakang masing-masing 1 gonjong. Rumah ini tidak memiliki anjungan sehingga semua sama dan sejajar. Hal ini mengisyaratkan bahwa semua keputusan merupakan hasil musyawarah bersama yang telah mencapai mufakat

Rumah Gadang Kajang Padati

Selain jenis Rumah Gadang yang terpengaruh oleh gaya pemimpinan, terdapat juga jenis Rumah Gadang yang khas dari masyarakat pantai barat Sumatra. Rumah Gadang Kajang Padati namanya. Rumah ini tidak memiliki gonjong, namun atapnya mengadopsi bentuk atap pedati atau pelana yang ujungnya lancip.

Bangunan Rumah Gadang jenis ini memadukan arsitektur Aceh dan Minangkabau. Merujuk pada sejarah, ini berkaitan dengan pernikahan putera Minang dengan puteri Aceh yang tidak berakhir dengan baik. Munculah berbagai aturan, salah satunya Rumah Gadang pantai barat tidak boleh sama dengan yang ada di darek.

Pengaruh arsitekur Aceh pada Rumah Gadang Kajang Padati terlihat juga pada bentuk tangga dan ukirannya. Meskipun pengaruh Minangkabau tetap terlihat pada bentuk motif ornamennya, namun pengaruh Aceh lebi mendominasi. Rumah jenis ini terdapat di Padang, khususnya daerah Kuranji, Pauh dan Koto Tangah.

Rumah Panjang Uma Mentawai

Rumah Adat Uma Mentawai Sumatera Barat
credit: Alex Lapuerta, CC BY 2.0

Rumah Panjang Uma merupakan rumah adat tradisional Sumatera Barat khas suku Mentawai. Seperti halnya rumah adat Minangkabau, Rumah Uma juga merupakan tempat tinggal bersama. Mampu menampung lima hingga sepuluh keluarga. Panjang rumahnya sekitar 30 meter, lebarnya 10 meter dengan tinggi 7 meter.

Secara umum, Rumah Uma memiliki konstruksi pembangunannya tanpa menggunakan paku, akan tetapi menggunakan pasak kayu dengan sistem sambungan silang bertakik. Selain rumah utama, bagian dalam rumah ini terdiri dari beberapa bagian yang masing-masing memiliki nama dan kegunaan tersendiri.

Lalep adalah nama untuk ruangan utama yang berfungsi sebagai tempat tinggal sepasang suami istri dengan pernikahan sah secara adat. Bagian kedua adalah rusuk, tempat bernaung khusus untuk anak-anak muda, para janda, serta mereka yang terasing akibat telah melanggar aturan adat suku Mentawai.


Demikian perihal rumah adat Sumatera Barat. Untuk informasi lebih lengkap, Anda bisa merujuk pada tautan referensi di bawah ini. Sehubungan dengan kebudayaan Sumatera Barat, baca juga Daftar Tarian Khas Sumbar dan Pakaian Adat Sumatera Barat. Atau, lihat Daftar Rumah Adat 34 Provinsi di Indonesia.

Referensi:

  1. gambar atas: Peter Nijenhuis, CC BY-NC-ND 2.0
  2. badanbahasa.kemdikbud.go.id/laman…
  3. https://id.wikipedia.org/wiki/Rumah_G…
  4. https://id.wikipedia.org/wiki/Uma

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *