Rumah Adat Sumatera Utara – 7 Ragam Asitektur Tradisional Khas SUMUT

Sumatera Utara (SUMUT) merupakan provinsi multietnis yang menampung ragam kebudayaan. Oleh karena itu, rumah adat Sumatera Utara beraneka rupa. Suku Batak, suku Nias, dan suku Melayu yang merupakan penduduk asli wilayah ini, masing-masing memiliki kekhasan tersendiri dalam hal arsitektur bangunan tradisional.

Suku Batak, sebagai etnis terbesar pun memiliki jenis rumah adat yang beragam. Secara umum, rumah adat yang menjadi identitas suku Batak adalah Rumah Bolon. Rumah ini juga yang secara nasional mewakili rumah adat Sumatera Utara. Namun, setiap sub-etnis Batak memiliki bangunan rumah adat tersendiri yang khas.

Artikel ini, selanjutnya berisi sejumlah bangunan tradisional khas Sumatra Utara. Selain beberapa rumah khas Batak, terdapat juga rumah tradisional Melayu dan rumah adat Suku Nias. Sebenarnya, Suku Silabang juga merupakan penduduk asli Sumut, namun cukup terasing sehingga sulit mengetahui kebudayaan mereka.

Rumah Adat Tradisional Sumatera Utara

Rumah Adat Suku Karo

Rumah Adat Karo Sumut
credit: Majesty Yosepin, CC BY-SA 4.0

Rumah adat Karo bernama Siwaluh Jabu. Dalam bahasa Karo, “waluh” artinya delapan dan “jabu” artinya keluarga. Nama tersebut menggambarkan bahwa rumah ini memiliki 8 ruangan yang mampu menampung 8 keluarga. Ini adalah rumah khas masyarakat tradisional Karo dan menjadi bagian kehidupan mereka.

Bangunan rumah ini kokoh, sebagian besar berbahan kayu hutan. Penyambungan tidak menggunakan paku, melainkan pasak. Atapnya adalah ijuk, sedangkan kerangka atapnya batang bambu. Siwaluh Jabu berbentuk panggung dengan bagian bawah berfungsi sebagai tempat ternak, penyimpanan hasil panen, dll.

Sebagai rumah adat, Siwaluh Jabu sangat terikat oleh aturan adat, khususnya saat mendirikannya yang harus melalui serangkaian upacara. Aturan adat juga terkait dengan pembagian ruangan untuk keluarga yang menghuni rumah ini. Setiap ruangan memiliki nama khas untuk menandai siapa yang menempatinya.

Rumah Adat Batak Toba

Rumah Adat Tradisional Sumatera Utara
credit: Ishak jacues, CC BY-SA 4.0

Rumah adat batak Toba yang terkenal dengan nama Rumah Bolon Batak Toba merupakan rumah paling ikonik mewakili rumah adat Sumatera Utara. Salah satu keunikan rumah tradisional ini adalah Gorba, seni ukir atau pahat yang menghiasi bagian luar rumah. Karena itu, nama lain rumah ini adalah Rumah Gorba.

Rumah Bolon Batak Toba berbentuk persegi empat dengan tangga masuk pada bagian tengah depan dari badan rumah. Berjenis rumah panggung dengan tiang-tiang penyangga menopang setiap sudut, termasuk lantainya. Atapnya melengkung pada bagian depan dan belakang dengan bentuk mirip pelana kuda.

Sekilas, bagian dalam Rumah Bolon seperti ruangan besar tanpa kamar. Meski demikian, sebenarnya rumah ini terdiri dari beberapa bagian sesuai fungsinya. Bahan pembuatan Rumah Bolon sebagian besar adalah kayu. Tidak menggunakan paku melainkan tali. Lantainya papan dan atapnya ijuk atau daun rumbia.

Rumah Adat Simalungun

Rumah Tradisional Batak Simalungun
credit: Hardio hasugian, CC BY-SA 4.0

Meski sama-sama bernama Rumah Bolon, rumah adat tradisional Simalungun memiliki keunikan arsitektur tersendiri. Salah satu ciri khasnya adalah bentuk atap yang memiliki limasan berbentuk kepala kerbau lengkap dengan tanduknya. Selain itu, kaki bangunannya adalah susunan kayu yang masih gelondongan.

Secara umum, rumah adat Batak Simalungun ini bahannya sama dengan rumah adat Batak lainnya. Sebagian besar berbahan kayu dan tidak dipaku, namun menggunakan tali, dan atapnya ijuk. Ada tangga di bagian depan dan pintunya pendek agar tamu yang masuk menunduk, tanda hormat pada pemilik rumah.

Rumah Bolon Batak Simalungun juga berbentuk panggung, namun dengan bentuk berbeda dengan yang lainnya. Kolong bawah rumah tingginya mencapai dua meter dan umumnya berfungsi sebagai tempat memelihara hewan ternak. Tiang-tiang rumah ini lebih besar dan terlihat lebih kokoh. Dindingnya dari papan.

Rumah Adat Bagas Godang

Bagas Godang Rumah Adat Mandailing
credit: Halim Rangkuti, Domain Publik

Bagas Godang adalah nama dari arsitekur bangunan tradisional suku Mandailing. Kontruksinya unik berbentuk persegi panjang dengan penyangga kayu-kayu besar berjumlah ganjil. Demikian juga anak tangganya yang berjumlah tujuh atau sembilan. Atapnya berbentuk tarup silengkung dolok, seperti atap pedati.

Bagas Godang merupakan komplek bangunan. Terdiri dari sopo godang (tempat bermusyawarah, berkesenian, dan belajar), sopo jago (pos jaga), sopo gondang (tempat pusaka), dan sopo eme (tempat menyimpan hasil panen). Seluruh bangunan menghadap alaman bolak (halaman luas tempat berkumpul).

Suku Mandailing memiliki banyak persamaan dengan suku Angkola dalam hal bahasa, budaya, dan agama. Sehubungan dengan arsitektur tradisional, rumah adat dua suku Batak ini bernama sama, yakni Bagas Godang. Meski begitu, tetap ada perbedaan. Bagas Godang Angkola umumnya didominasi warna hitam.

Rumah Adat Suku Pakpak

Rumah Adat Pakpak Sumut
credit: batak-network

Keunikan lain dari rumah adat Sumatera Utara juga terlihat dari rumah adat Pakpak. Bentuk bumbungan atapnya melengkung seperempat lingkaran dengan sebuah caban (cawan) pada bagian tengah dan berhias tanduk kerbau. Selain itu terdapat dominasi segitiga, bagian depannya berhias ukiran khas Pakpak.

Rumah ini memiliki binangun (dua tiang besar) pada bagian depan dan satu melmellen (balok besar) di samping rumah. Rumah adat yang berbentuk panggung memiliki tangga, yang berjumlah ganjil menandai keturunan marga tanah (raja), sedangkan yang berjumlah genap menandai bukan keturunan marga tanah.

Dalam fungsinya, rumah adat suku Pakpak merupakan tempat bermusyawarah dalam membahas hal-hal yang menyangkut kepentingan umum. Juga, sebagai tempat mengadakan upacara-upacara adat. Dalam rumah ini, biasanya terdapat berbagai alat musik tradisional, patung dan karya seni budaya Pakpak lainnya.

Rumah Melayu Sumatera Utara

Rumah Tradisional Melayu Deli Sumut
credit: Hüttenbach & Co., H. Mij. Public Domain

Rumah tradisional Melayu Sumatera Utara hampir sama dengan arsitektur Melayu pada umumnya. Bentuknya rumah panggung yang luas dan megah dengan tiang-tiang setinggi 2 meter. Bagian depan terdapat tangga yang terhubung dengan teras. Bagian bawah rumah biasanya berfungsi sebagai tempat bersantai.

Di Sumatera Utara, bangunan adat Melayu bisa kita jumpai di wilayah Deli Serdang, Langkat dan Medan. Masing-masing bangunan mungkin berbeda. Misalnya, ada yang memiliki dua tangga (kanan dan kiri) pada bagian depan. Ada juga yang hanya memiliki satu tangga depan yang terhubung dengan halaman depan.

Rumah Adat Suku Nias

Rumah Adat Nias Sumatera Utara
credit: Ouicoude, CC BY-SA 3.0

Suku Nias memiliki dua jenis rumah adat tradisional, yakni oma sebua dan oma hada. Oma sebua merupakan tempat kediaman kepala negeri, kepala desa, atau kaum bangsawan. Sementara itu, oma hada merupakan rumah tradisional tempat tinggal masyarakat umumnya. Bentuknya adalah rumah panggung.

Sebagai kediaman orang-orang penting, oma sebua memiliki desain khusus yang memungkinkan perlindungan lebih. Akses masuknya hanya berupa tangga kecil yang telah lengkap dengan pintu jebakan. Atapnya sangat curam dengan ketinggian mencapai 16 meter. Tiang-tiang rumah ini besar dari kayu besi.

Oma hada, tiang-tiangnya adalah kayu nibung yang tinggi dan besar. Bentuk rumah tergantung wilayahnya, bulat telur (Nias utara, timur, dan barat) dan persegi panjang (Nias tengah dan selatan). Pada bagian dalam rumah ini terdapat dua ruangan, ruang depan untuk menerima tamu, ruang belakang untuk keluarga.

Bangunan rumah tradisional Nias tidak berpondasi tertanam ke tanah, tidak juga menggunakan paku, sehingga termasuk rumah yang tahan gempa. Pada masa lalu, halaman depan biasanya terdapat patung dan tempat duduk batu, serta terdapat area luas untuk menggelar Upacara Lompat Batu Khas Nias.


Demikian sekilas tentang rumah adat tradisional Sumatera Utara. Baca juga mengenai Rumah Tradisional Suku Aceh dan Rumah Adat Sumatera Barat. Untuk mengetahui lebih banyak mengenai produk budaya masyarakat Sumatera Utara, sebelumnya juga telah dituliskan perihal Daftar Tarian Daerah Sumatera Utara.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *