Rumah Adat Bali – 11 Bagian Dalam Kompleks Rumah Tradisional Khas Bali

Sebagai salah satu daya tarik pariwisata di Indonesia, Pulau Bali selalu mengagumkan dalam banyak hal. Selain keindahan alam yang menakjubkan, Bali juga menonjol dalam kebudayaan. Demikian juga rumah adat Bali yang menawarkan keindahan arsitektur bangunan tradisional yang khas dan senantiasa dikagumi.

Rumah adat atau rumah tradisional daerah Bali merupakan sebuah kompleks yang di dalamnya mencakup sejumlah bangunan dengan fungsi yang berbeda. Artikel ini sedikit banyak akan menjelaskan perihal ciri khas dan fungsi bangunan-bangunan dalam kompleks rumah adat Bali. Berikut pembahasannya:

Bagian-Bagian Rumah Tradisional Adat Bali

Struktur Rumah Tradisional Adat Bali
credit: Rochelimit, CC BY-SA 4.0

Natah atau Natar

Natah merupakan halaman kosong dalam struktur arsitektur vernakular Bali. Tidak hanya rumah, ada juga Natah Pura, Natah Puri, Natah Desa, dll. Fungsinya sebagai tempat bersosialisasi dan upacara. Secara filosofis, Natah adalah simbol pertemuan Purusa (maskulin) dan Pradana (feminim) atau pertemuan langit dan bumi.

Sanggah Kamulan

Dalam bangunan rumah tradisional Bali, Sanggah Kamulan merujuk pada tempat suci untuk pemujaan. Di areanya terdapat beberapa bangunan suci yang jumlahnya tergantung pemilik rumahnya. Meskipun begitu, setidaknya ada 6 bangunan wajib, yakni Penglurah, Kemulan, Padmasari, Peliangan, Taksu, dan Piyasan.

Bale Daja (Bale Meten)

Dalam fungsinya, Bale Meten merupakan tempat tidur kepala keluarga. Bangunan tempat tinggal dengan lantai bebaturan cukup tinggi dan menjadi bangunan yang tertinggi di antara seluruh bale dalam kompleks rumah adat Bali. Di sisi kanan terdapat ruang suci untuk pemujaan dan menyimpan alat-alat upacara.

Bale Meten atau Bale Daja menempati sisi barat tempat suci untuk persembahyangan (Sanggah) atau berada di zona utara. Bangunannya terdiri dari dua bale di kanan dan kiri. Bale Meten berbentuk persegi panjang yang terkadang memakai saka (tiang) terbuat dari kayu yang berjumlah 8 (sakutus), dan 12 (saka roras).

Bale Dangin (Sikepat)

Menempati sisi timur kompleks bangunan, Bale Dangin terkadang juga disebut Bale Gede (jika menggunakan 12 tiang). Fungsi utamanya adalah tempat upacara, meski juga bisa menjadi tempat tidur. Bale Dangin umumnya memiliki satu bale-bale, namun untuk Bale Gede memiliki dua bale-bale di bagian kanan dan kiri.

Denah Bale Dangin bisa berbentuk persegi atau persegi panjang. Saka atau tiangnya bervariasi, terkadang 6 (sakenem) buah, 8 (sakutus) buah, 9 (sangasari) buah, dan 12 (saka roras) untuk Bale Gede. Meskipun bebaturan Bale Dangin memiliki lantai yang cukup tinggi dari tanah, namun tidak setinggi lantai di Bale Meten.

Bale Dauh (Bale Loji)

Dalam struktur rumah tradisional adat Bali, Bale Dauh atau Bale Loji berfungsi sebagai tempat menerima tamu dan juga tempat tidur bagi anak remaja. Lokasinya berada di sisi barat dengan fasilitas satu bale-bale di bagian dalam. Berbentuk segi panjang dengan saka 6, 8, atau 9 buah. Lantainya lebih rendah dari Bale Dangin.

Bale Delod (Sekenam)

Bangunan Bale Delod atau yang disebut juga Bale Payadnyan merupakan suatu tempat dalam kompleks rumah adat Bali yang berfungsi untuk meletakkan banten ketika melaksanakan upacara tertentu. Atau, sebagai tempat persemayaman sementara ketika ada salah satu anggota keluarga yang meninggal.

Paon atau Dapur

Sebagaimana fungsi pada umumnya, Paon atau dapur adalah tempat memasak bagi keluarga. Biasanya, Paon berlokasi di sisi barat Bale Delod, namun agak ke selatan. Paon pada intinya mirip Pawerangan yang lokasinya berada di bagian belakang dari kompleks bangunan rumah tradisional dalam budaya masyarakat Bali.

Jineng (Lumbung)

Jineng merupakan tempat menyimpan hasil panen, bisa berupa padi ataupun hasil kebun lainnya. Hasil panen disimpan di ruang di bagian atas Jineng. Sementara itu, di bagian bawahnya biasanya menjadi tempat untuk bersantai. Lokasi Jineng atau lumbung ini berada di sebelah tenggaranya bangunan Bale Delod.

Angkul-Angkul

Kompleks rumah tradisional daerah Bali pada umumnya dikelilingi pagar dinding atau tumbuhan yang dijepit bambu. Lalu, di pintu masuknya ada bangunan Angkul-Angkul atau pintu gerbang. Dalam hal ini, untuk bangunan suci seperti pura pintu masuknya menggunakan bangunan Gapura Candi Bentar.

Aling-Aling

Untuk mencegah orang tidak langsung masuk atau melihat pekarangan rumah, di belakang Angkul-Angkul juga terdapat Aling-Aling. Dalam kepercayaan Hindu Bali, secara filosofis bangunan pembatas Angkul-Angkul dan pekarangan ini menjadi penetralisir segala gangguan negatif, baik secara sekala maupun niscala.

Sanggah Pengijeng Karang

Bangunan beratap permanen ini berada di dalam kompleks rumah. Bisa berada di mana saja asal pada posisi “teben” apabila “hulu” nya adalah Sanggah Kemulan. Bisa berada di sisi barat laut kompleks rumah atau di sisi barat bangunan Bale Daja. Fungsinya adalah pelindung dan pengasuh rumah beserta segala isinya.


Demikian sekilas tentang struktur bangunan rumah tradisional adat Bali. Untuk lebih mengenal produk kebudayaan masyarakat Bali, Anda perlu juga membaca Baju Tradisional Bali dan Tarian Khas Daerah Bali. Rumah adat lain di Kepulauan Nusa Tenggara, baca Rumah Tradisional NTB dan Rumah Tradisional NTT.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *