Rumah Adat Gorontalo – 2 Nama Arsitektur Tradisional di Daerah Gorontalo

Menempati Semenanjung Gorontalo di Pulau Sulawesi, provinsi Gorontalo adalah daerah yang unik corak kebudayaannya. Dijuluki “Bumi Serambi Madinah” provinsi beribu kota Kota Gorontalo ini kental dengan nuansa budaya Islam. Rumah adat Gorontalo pun demikian. Di setiap bagiannya terkandung nilai keIslaman.

Terdapat sejumlah rumah tradisional adat di daerah Gorontalo. Namun, yang menjadi lambang adat Gorontalo adalah Dulohupa. Selain itu, ada juga Bantayo Poboide. Sebenarnya, masih ada beberapa rumah adat lain, namun sulit mendapat informasinya. Terkait Dulohupa dan Bantayo Poboide, berikut ini penjelasannya.

Contoh Rumah Tradisional Adat Gorontalo

Rumah Adat Dulohupa

Rumah Adat Dulohupa Gorontalo
credit: instagram.com/susiantyaenrang

Yiladia Dulohupa Lo Ulipu Hulondhalo adalah sebutan lain arsitektur rumah khas daerah Gorontalo ini. Bentuknya panggung dengan dominasi material kayu serta atap berbentuk pelana atau segitiga bersusun dua. Secara tradisional, penutup atapnya adalah jerami. Dahulu, ini adalah tempat musyawarah keluarga kerajaan.

Istilah Dulohupa dalam bahasa Gorontalo berarti kesepakatan atau mufakat. Fungsi lainnya sebagai ruang sidang kerajaan. Juga, menjadi tempat merencanakan pembangunan daerah atau menyelesaikan berbagai masalah penduduk. Untuk saat ini, Rumah Dulohupa difungsikan untuk menggelar acara terkait adat.

Struktur Dulohupa dan Filosofinya

Secara filosofis, bentuk rumah tradisional Dulohupa adalah reprentasi kebudayaan suku Gorontalo. Struktur bangunannya menggambarkan badan manusia. Atapnya sebagai kepala, badan rumah mewakili badan manusia, serta pilar penyangga melambangkan kaki. Bentuk panggung juga berfungsi menghindari banjir.

Bentuk atap segitiga dua susun. Susunan atap atas bermakna bahwa agama adalah yang paling utama di Gorontalo. Adapun susunan atap bawah simbol adat dan budaya. Dulu di puncak atap ada Talapua (silang kayu) yang diyakini dapat menangkal roh jahat. Talapua dihilangkan seiring berkembangnya ajaran Islam.

Rumah ini tidak banyak memiliki sekat ruang. Di dinding dekat pintu masuk terdapat Tange lo bu’ulu sebagai lambang kesejahteraan Seperti umumnya rumah panggung tradisional, Dulohupa memiliki anjungan sebagai tempat bersantai. Lalu, Tangga masuk rumah berada di sisi kanan kiri dan terdiri dari 5-7 anak tangga.

Jumlah anak tangga ganjil maknanya pun dalam. Angka 5 adalah simbol rukun Islam dan 5 filosofi hidup orang Gorontalo, yakni bangusa talalo (menjaga keturunan), lipu poduluwalo (mengabdi pada negeri). Dan, batanga pomaya, upango potombulu, dan nyawa podungalo (bertaruh nyawa, mewakafkan dan berkorban harta).

7 anak tangga mewakili tingkatan nafsu yakni amarah, lauwamah, mulhimah, muthmainnah, rathiah, mardhiah, dan kamilan. Pilar penopang juga memiliki makna tersendiri. 2 pilar utama simbol persatuan Gorontalo-Limboto. 6 pilar depan mewakili sifat utama penduduk. Dan, 32 pilar dasar perlambang penjuru mata angin.

Rumah Bantayo Poboide

Rumah Adat Bantayo Poboide Gorontalo
credit: instagram.com/sulawesitours

Istilah Bantayo Poboide merujuk pada dua hal. Bisa berarti balai tempat musyawarah sesuai arti istilahnya. Atau, berarti dewan kerajaan yang bertugas membicarakan sesuatu semata-mata untuk kesejahteraan negeri, membangun moralitas pemimpin sesuai adat dan syarak . Dewan ini berdiri sendiri tanpa ada unsur politik.

Sebagai rumah adat Gorontalo, Bantayo Poboide adalah rumah panggung. Kolong atau ruang bagian bawah, dulu berfungsi sebagai tempat menenun dan menyimpan alat pertanian. Ruangan rumah ini memiliki akses pada bukaan dinding, kecuali lorong di bagian tengah. Dan, terdapat serambi di sekeliling bangunannya.

Material utamanya berasal dari alam, yakni kayu, termasuk dinding, lantai dan plafon yang terbuat dari susunan papan kayu. Dalam sejarah, Rumah Bantayo Poboide dibangun oleh Kolonel A.U MI Liputo selaku tauwa lo lahuwa (sebutan atau gelar kehormatan tertinggi bagi seorang pemimpin di Gorontalo).

Meski ada perbedaan di masing-masing daerah, rumah tradisional adat Gorontalo umumnya berfungsi sama, yakni sebagai tempat musyawarah para pemuka adat. Atau, sebagai tempat menyelenggarakan kegiatan adat seperti pagelaran budaya, dll. Untuk sekarang ini, Bantayo Poboide seolah kehilangan fungsinya.


Demikian sekilas tentang 2 contoh rumah tradisional adat di daerah Gorontalo. Untuk lebih mengenal produk budaya masyarakat di provinsi Gorontalo, Anda juga bisa membaca Baju Tradisional Gorontalo dan Tarian Khas Daerah Gorontalo. Rumah adat di Sulawesi lainnya, baca Rumah Adat Sulteng.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *