Rumah Adat Sulawesi Selatan – 2 Contoh Rumah Tradisional Daerah Sulsel

Sulawesi Selatan (Sulsel) adalah provinsi dengan penduduk yang heterogen. Dengan banyak suku bangsa yang mendiaminya, karya kebudayaan di Sulsel pun beragam. Begitu juga ketika kita berbicara mengenai rumah adat Sulawesi Selatan. Di provinsi yang beribukota Makassar ini terdapat berbagai jenis rumah adat.

Di antara banyaknya suku atau etnis di Sulawesi Selatan, Suku Bugis-Makassar dan Suku Toraja merupakan yang paling dominan menggambarkan kebudayaan Sulsel. Rumah adat Sulawesi Selatan dari Suku Toraja bernama Tongkonan, adapun dari Suku Bugis-Makassar bernama Rumah Balla. Berikut ini penjelasannya.

Rumah Tradisional Adat Sulawesi Selatan

Rumah Tongkonan

Rumah Adat Tongkonan Toraja Sulsel
credit: sheing tjioe, CC BY-NC-SA 2.0

Istilah Tongkonan dalam bahasa Toraja berasal dari kata “tongkon” yang berarti duduk. Tongkonan bisa bermakna tempat duduk atau bernaung. Rumah adat Toraja ini termasuk yang ikonik mewakili kebudayaan di Indonesia. Dulu rumah ini adalah rumah tinggal, sebelum orang Toraja membangun rumah sendiri.

Struktur Bangunan Tongkonan

Dalam bentuknya, Rumah Tongkonan merupakan rumah panggung dengan denah persegi empat memanjang. Strukturnya terbagi menjadi tiga, yakni sulluk banua (bawah), kale banua (tengah), dan rantiang banua (atas). Masing-masing bagian tersebut terpisah serta memiliki struktur dan konstruksi bangunan yang berbeda. 

Dengan sistem kerangka, Tongkonan menggunakan struktur tumpang tindih dan ikat dari bambu serta ditopang oleh tiang. Sehingga, setiap bagian bisa berdiri sendiri dan terpisah dengan bagian yang lainnya. Rumah adat Toraja ini sepenuhnya dibuat menggunakan material alam, tidak terdapat unsur logam seperti paku.

Tongkonan juga berhias ukiran yang sarat makna, khususnya melambangkan status sosial pemiliknya. Secara simbolis, rumah ini mengambil falsafah dalam ajaran Aluk Todolo. Yang mana, setiap bagian rumah memiliki arti dalam proses kehidupan suku Toraja. Karena itu, Tongkonan menjadi simbol martabat orang Toraja.

Bagian Rumah Adat Tongkonan

  • Tangdo: ruang bagian depan (kale banua) yang menghadap ke utara. Ini adalah tempat penyajian kurban pada saat upacara adat persembahan terhadap Puang Matua.
  • Sali: ruang tengah yang luas dan lebih rendah. Juga merupakan tempat penyajian kurban. Di bagian kiri, kurban untuk ritual Rambu Solo’, bagian kanan untuk Rambu Tuka’.
  • Sumbung: ruang di bagian belakang yang disebut pollo banua yang berarti ekor rumah. Lokasinya berada di sisi selatan dan diyakini sebagai tempat masuknya penyakit.

Posisi Tongkonan harus menghadap ke utara dengan pintu masuk berada di depan rumah. Utara (ulunna langi) dianggap yang paling mulia. Timur (mataallo) tempat matahari terbit, asal kehidupan. Barat (matampu) matahari terbenam, berarti kesusahan. Dan, selatan (pollo’na langi) adalah tempat sesuatu yang buruk.

Fungsi Rumah Adat Tongkonan

Dalam tradisinya, Tongkonan tidak hanya sebagai rumah tempat tinggal, melainkan juga simbol kekuasaan adat. Selain juga menjadi jejak perkembangan budaya masyarakat di Tana Toraja. Ini bukanlah rumah pribadi, namun rumah komunal yang terwariskan secara turun temurun oleh keluarga atau marga suku Toraja.

Sebagai rumah adat, Tongkonan terikat aturan adat. Salah satunya, larangan untuk tidak menggadaikan atau menjual harta Tongkonan. Menjual rumah ini, termasuk areanya diyakini akan membawa bencana. Harta Tongkonan biasanya berada dalam pemeliharaan seorang yang dipercaya (to ma’kampai tongkonan).

Rumah Adat Balla

Rumah Adat Bugis Makassar Sulawesi Selatan
credit: Gunawan Kartapranata, CC BY-SA 3.0

Balla merupakan istilah yang berkaitan dengan arsitektur rumah tradisional suku Bugis-Makassar. Rumah Adat Kajang merupakan salah satu jenis rumah adat Bugis. Sementara itu, rumah bagi suku Makassar, salah satunya bernama Balla Rabbirina. Kedua suku ini memiliki ikatan budaya yang kuat satu sama lain.

Sama halnya dengan Rumah Tongkonan suku Toraja, rumah adat Sulawesi Selatan khas Bugis-Makassar juga mengenal tiga bagian dalam struktur bangunannya. Di antaranya adalah siring atau kolong (bagian bawah), kale balla atau inti/badan rumah (bagian tengah), dan pammakang atau loteng (bagian atas).

Bagian Rumah Adat Balla

  • Siring (Kolong): Menempati bagian paling bawah, siring atau passiringan merujuk pada tempat kotor dan hina. Fungsi umumnya adalah tempat ternak dan alat-alat pertanian. Dulu, juga menjadi tempat para budak dan tahanan.
  • Kale Balla (Inti Rumah): Tempat penghuni rumah untuk hidup dan beraktivitas. Ruang di Kalle Bala menyesuaikan. Namun, yang paling umum setidaknya ada tiga macam, yakni ruang depan, ruang tengah, dan ruang belakang.
  • Pammakang (Loteng): Ruang yang berada di bagian atas rumah. Secara umum fungsinya adalah sebagai tempat penyimpanan hasil pertanian maupun alat-alat atau benda-benda kerajinan seperti tikar dan alat-alat tenun.

Melalui bentuknya, rumah adat Bugis-Makassar Sulawesi Selatan juga menggambarkan stratifikasi sosial pemilik rumah tersebut. Dalam hal ini, tinggi tidaknya derajat seseorang di masyarakat terlihat pada banyak tidaknya susunan timba silla atau tambulayang. Ada lima jenis terkait susunan tersebut.

Timba silla bersusun 5 (lanta’ lima) menunjukkan kediaman atau istana raja. Timba silla 4 susun (lanta’ appa) adalah rumah karaeng (bangsawan), 3 susun (lanta’ tallu) untuk keturunan karaeng. Rumah masyarakat umumnya menggunakan 2 susun (lanta’ rua), dan 1 susun (lanta’ se’re) untuk hamba sahaya.

Perihal Rumah Balla Lampoa

Secara harfiah, Balla Lampoa bermakna rumah besar atau rumah kebesaran. Ini adalah istana kediaman raja Gowa. Bangunan istana ini menempati kompleks situs budaya seluas 3 hektar. Lokasinya berada di Jalan Sultan Hasanuddin No. 48, Kota Sungguminasa, Kabupaten Gowa, Provinsi Sulawesi Selatan.

Rumah Balla Lampoa merupakan bangunan bersejarah. Dibangun pada tahun 1936, setelah Raja Gowa XXXV I Mangimangi Daeng Matutu, Karaeng Bontonompo yang bergelar Sultan Muhammad Tahir Muhibuddin diangkat. Pembangunannya menandai penolakan pendirian bangunan tanpa seizin penjajah Belanda.

Selain sebagai kediaman raja, Balla Lampoa juga menjadi pusat pemerintahan Kerajaan Gowa. Di sampingnya juga terdapat bangunan Istana Tamalate yang memiliki ukuran yang jauh lebih besar. Istana tersebut ada sejak era kepemimpinan Bupati Gowa Syahrul Yasin Limpo pada sekitar tahun 1980-an.


Demikian sekilas tentang 2 jenis rumah tradisional adat di daerah Sulawesi Selatan. Untuk lebih dalam mengenal produk kebudayaan masyarakat Sulsel, baca juga Baju Tradisional Sulsel dan Tarian Khas Daerah Sulsel. Atau, baca artikel sebelumnya terkait rumah adat, yakni Rumah Baloy Kalimantan Utara.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *