Rumah Adat Sulawesi Tengah – 3 Jenis Rumah Tradisional Daerah Sulteng

Arsitektur vernakular seperti rumah adat selalu unik karena turut mewakili budaya suku bangsa pemiliknya. Sebagian besar provinsi di Indonesia merupakan rumah bagi sejumlah suku dengan budaya yang berbeda, sehingga rumah adatnya juga beraneka rupa. Rumah adat Sulawesi Tengah (Sulteng) pun demikian adanya.

Provinsi yang beribu kota Palu ini memiliki lebih dari 10 etnis atau suku asli. Namun, berkaitan dengan rumah adat atau rumah tradisional, setidaknya terdapat tiga yang masih bisa kita dapatkan informasinya. Di antaranya adalah Rumah Tambi, Rumah Lobo, dan Rumah Souraja. Berikut penjelasan dari ketiga rumah adat tersebut:

Rumah Tradisional Adat Sulawesi Tengah

Rumah Adat Tambi

Rumah Tambi Sulawesi Tengah
credit: instagram.com/ivullsarkawi_12

Suku Kaili dan Suku Lore memiliki rumah adat unik bernama Tambi. Rumah berjenis panggung dengan 9 tiang yang rendah. Tatanan tiang kayu Bonati itu saling terkait oleh pasak kayu sebagai penyangga lantai papan dasar. Atapnya berbentuk prisma terbuat dari ijuk/rumbia. Atap tersebut sekaligus berfungsi sebagai dinding.

Tambi merupakan rumah tempat tinggal masyarakat pada umumnya, termasuk rumah kepala adat. Perbedaannya terlihat di tangga. Rumah kepala adat tangganya berjumlah ganjil, sedangkan rumah penduduk berjumlah genap. Rumah Tambi berpondasi batu alam, lantainya terbuat dari susunan papan kayu.

Yang menarik, rumah tradisional Sulteng ini hanya memiliki satu ruangan besar untuk semua aktivitas. Tanpa ada kamar atau dapur. Namun, ada dua bangunan tambahan yang melengkapinya. Yakni, Pointua sebagai tempat menumbuk padi dan Buho yang berlantai dua untuk menerima tamu dan lumbung padi.

Sesuai aturan adat, Rumah Tambi harus dibangun menghadap ke utara-selatan dan tidak boleh membelakangi posisi matahari terbit dan terbenam. Seluruh bagian rumah mengandung lambang atau simbol tertentu. Bentuk rumah segitiga mewakili hubungan horisontal (sesama manusia) dan vertikal (Sang Pencipta).

Pada bagian atap depan atau di dalam rumah biasanya akan ada Pebaula, yakni sepasang tanduk atau kepala kerbau yang melambangkan kekuasaan dan kekayaan pemiliknya. Ada juga Bati, ukiran bermotif fauna simbol kesejahteraan dan kesuburan. Saat ini, Rumah Tambi adalah simbol Provinsi Sulawesi Tengah.

Rumah Adat Lobo

Rumah Adat Lobo Sulawesi Tengah
credit: instagram.com/saka_suwirna

Lobo merupakan rumah adat Sulawesi Tengah yang biasanya berlokasi di tengah desa. Jenisnya panggung namun rendah dengan dinding sekira 1 meter, selebihnya terbuka. Bangunan tradisional ini memiliki beraneka fungsi. Selain menjadi tempat musyawarah terkait adat, Rumah Lobo juga merupakan tempat singgah.

Kita bisa menemukan rumah tradisional ini di daerah Kulawi (Pipikoro, Gimpu, dan Lindu). Berdiri di tengah-tengah kampung dengan ukuran 5×4 meter. Struktur rumah ini terbagi 3 zona, yakni Dalika/Padence untuk masyarakat umum, Kanavari untuk para bangsawan dan Totua Ngata. Dan, Avu atau sejenis dapur mini.

Material bangunan sebagian besar adalah kayu. Konstruksinya terbangun dari kayu utuh yang tersusun sedemikian rupa dan bertumpu pada umpak. Secara tradisional, tidak ada unsur logam seperti paku, melainkan diikat menggunakan tali rotan. Penutup atapnya berbahan susunan sirap kayu berukuran kecil dan tipis.

Rumah Adat Souraja

Rumah Adat Souraja Sulteng
credit: instagram.com/kurni625

Banua oge atau Souraja merupakan rumah adat yang di masa lalu berfungsi sebagai kediaman raja dan pusat pemerintahan. Bangunan bersejarah ini hadir atas prakarsa Raja Yodjokodi pada abad 19 Masehi. Dengan luas 32×11,5 meter rumah ini bertipe panggung dari kayu dan memadukan arsitektur Kaili dan Bugis. 

Konstruksi rumah menggunakan 28 tiang penyangga untuk menyangga bangunan induk dan 8 tiang penyangga dapur. Atap berbentuk segitiga, di bagian depan dan belakang atap tertutup papan yang berhias panapiri (ukiran). Sementara itu, pada ujung bubungan atapnya terdapat hiasan bangko-bangko (mahkota berukir).

Bangunan induk Sou Raja terbagi menjadi 4 bagian, yakni Gandaria, Lonta Karavana, Lonta Tatangana, dan Lonta Rarana. Gandaria (serambi) merupakan ruang tunggu tamu. Di bagian depannya ada anjungan tempat bertumpunya tangga masuk. Terdapat 9 anak tangga dengan posisi tangganya saling berhadapan.

Lonta Karavana (ruang depan) merupakan tempat menerima tamu khusus laki-laki. Lonta Tatangan (ruang tengah) tempat bermusyawarah Raja dan para tokoh adat. Di ruangan ini juga ada kamar tidur Raja. Lonta Rarana (ruang belakang) tempat makan Raja dan keluarga, kamar wanita dan tempat menerima kerabat.


Demikian sekilas tentang ragam rumah tradisional adat di daerah Sulawesi Tengah. Terkait produk kebudayaan suku bangsa di Sulteng, Anda juga bisa membaca Baju Tradisional Sulteng dan Tarian Khas Daerah Sulteng. Untuk rumah adat lain di Sulawesi, lihat Rumah Tradisional Sulawesi Barat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *