Rumah Adat Sulawesi Tenggara – 3 Jenis Rumah Tradisional Daerah Sultra

Di Pulau Sulawesi, kita bisa menemukan banyak suku bangsa asli yang tersebar di setiap provinsi, tidak terkecuali di Sulawesi Tenggara (Sultra). Banyaknya suku otomatis melahirkan ragam corak kebudayaan. Sebagai salah satu produk budaya, rumah adat Sulawesi Tenggara pun beraneka macam.

Berbicara rumah adat atau rumah tradisional di Sulawesi Tenggara berarti, setidaknya kita membahas rumah adat Tolaki. Suku Tolaki merupakan suku paling dominan di Sultra. Selebihnya, ada juga rumah suku Buton, suku Moronene, dan suku Muna. Semuanya unik karena berasal dari adat dan budaya yang berbeda.

Dalam artikel ini telah tersaji penjelasan mengenai 3 rumah adat suku yang tersebut di atas, Suku Tolaki dan Suku Moronene memiliki kemiripan terkait rumah adat. Meski bukan pembahasan yang benar-benar lengkap, namun sekiranya artikel ini bisa menjadi gambaran awal untuk kita mengenal rumah adat Sultra.

Rumah Tradisional Adat Sulawesi Tenggara

Rumah Adat Tolaki

Rumah Tradisional Suku Tolaki Sulawesi Tenggara
credit: instagram.com/arietoursino

Suku Tolaki mengenal istilah Laika (Konawe) dan Raha (Mekongga) untuk menyebut rumah. Istilah lain yang menunjuk rumah adalah poiaha. Meski demikian, sejauh ini nama Laika lebih populer. Rumah adat Tolaki di Sulawesi Tenggara berbentuk panggung dan memiliki banyak jenis. Berikut ini contohnya:

  • Laika Mbu’u: Rumah pokok dengan bentuk dan ukuran lebih besar dari rumah biasa dan dapat menampung beberapa keluarga. Pendirian rumah jenis ini umumnya ditempatkan di pinggir kebun atau ladang, khususnya menjelang panen.
  • Laika Landa: Rumah di tengah atau di pinggir kebun. Berfungsi sebagai rumah tinggal sementara selama proses pengelolaan kebun. Ketika panen usai dan padi telah berada di lumbung padi, penghuninya pun meninggalkan rumah ini.
  • Laika Wuta: Sebutan untuk rumah tinggal dengan ukuran lebih kecil daripada Laika Landa. Salah satu ciri khasnya adalah bentuk atapnya seperti rumah jengki.
  • Laika Patande: Juga berada di tengah-tengah kebun namun hanya sebagai tempat peristirahatan saja. Oleh karena itu, bentuk konstruksi bangunannya lebih kecil ketimbang Laika Landa.
  • Laika Kataba: Rumah yang terbuat dari balok dan papan. Menariknya, rumah ini dibangun dengan memakai sandi atau kode tertentu. Rumah semacam ini terdapat di daerah Lawulo, Konawe.
  • Laika Sorongga: Nama lainnya adalah Laika Nggoburu merupakan rumah makam raja atau keluarga raja di masa lalu di era kerajaan Konawe. Penghuninya adalah beberapa keluarga penjaga makam.
  • Laika Owose: Rumah besar tempat kediaman raja. Terlihat tinggi dan kuat dengan material dari kayu, bambu, dengan atap daun rumbia. Rumah ini juga berhias ukiran di beberapa sudutnya.
  • Raha Bokeo: Rumah raja-raja di Mekongga, Kolaka. Ukurannya besar dengan penggunaan tiang hingga 70 buah. Umumnya rumah ini terdiri atas rumah induk, ruang tinumba, teras depan, dan dapur.
  • O’ala: Bangunan khusus untuk tempat penyimpanan. Menyimpan benda-benda apapun yang berkaitan dengan keperluan hidup. Salah satunya merupakan tempat menyimpan padi atau lumbung padi.
  • Laika Walanda: Rumah pesangrahan yang memanjang dengan gaya arsitektur khas Belanda. Fungsinya sebagai tempat pesta. Ruang tengahnya kosong, adapun di kanan-kiri adalah ruang istirahat.
  • Laika Mbondapo’a: Salah satu jenis rumah panggung yang berfungsi khusus untuk memanggang kopra. Bentuknya mirip rumah jengki tak berdinding dengan desain lantai agak tinggi dari dasar tanah.

Rumah Adat Buton

Rumah Adat Buton Sulawesi Tenggara
credit: instagram.com/suyatno50

Rumah adat Sulawesi Tenggara dari suku Buton yang terkenal bernama Malige. Nama lainnya adalah Kamali. Bentuknya panggung dan terbentuk dengan sistem kait, tanpa tali pengikat maupun paku. Sistem ini juga memanfaatkan pasak kayu tanpa ada unsur logam. Material utamanya terbuat dari kayu jati dan wola.

Rumah besar ini adalah tempat kediaman raja bagi Kerajaan Buton dan keluarganya. Sesuai dengan namanya, Malige berasal dari kata Mahligai atau istana. Bangunan rumahnya megah dengan 4 lantai. Lantai dua lebih kecil dari lantai satu, lantai tiga lebih kecil dari lantai dua. Dan, lantai empat lebih luas dari lantai tiga.

Lantai satu terdiri dari 7 ruang. Selain sebagai tempat menerima tamu, lantai ini mencakup kamar sultan dan keluarganya. Lantai dua juga memiliki 7 ruang, untuk kamar tamu keluarga, kantor, gudang, kamar keluarga sultan dan aula. Lalu, lantai tiga adalah tempat bersantai dan lantai empat sebagai tempat penjemuran.

Selain bangunan utama, rumah adat Buton juga memiliki bangunan tambahan berukuran kecil di bagian belakang. Fungsinya sebagai dapur dan toilet. Kedua bangunan itu terhubung oleh jembatan. Ciri khas Malige terlihat dari ukirannya yang unik, di antaranya ukiran buah nanas, buah butun, daun ake, kelopak teratai, dll.

Rumah Adat Muna

Rumah Adat Bharugano Wuna Sultra
credit: instagram.com/mr.la23

Rumah adat suku Muna adalah Bharugano Wuna. Nama tersebut berasal dari bahasa Muna kuno, berarti diri manusia. Bangunan adat ini baru diresmikan 2017 sebagai upaya mengembalikan kebesaran adat Muna. Duhulu, para pemimpin Muna sempat membangun rumah adat, namun tak terawat dan akhirnya rusak.

Dalam bentuknya, rumah tradisional suku Muna terbagi menjadi beberapa jenis. Hanya saja, tidak ada istilah spesifik yang mewakili jenis tersebut. Material utama bangunannya adalah kayu jati. Terkait dengan fungsinya, kompleks bangunan adat ini akan menjadi pusat kebudayaan dan adat masyarakat suku Muna.


Demikian sekilas tentang ragam rumah tradisional adat Sulawesi Tenggara. Untuk mengenal lebih jauh terkait kebudayaan masyarakat di Sultra, Anda bisa membaca Baju Adat Sulawesi Tenggara dan Tarian Khas Daerah Sulawesi Tenggara. Rumah adat lain di Sulawesi? baca juga Rumah Tradisional Sulawesi Selatan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *