Rumah Adat Sulawesi Utara – 3+ Nama Rumah Tradisional di Daerah Sulut

Berada di ujung utara Pulau Sulawesi, Sulut atau Sulawesi Utara merupakan provinsi dengan corak kebudayaan yang unik. Beberapa suku yang mendiaminya memiliki adat istiadat dan budaya yang berbeda. Membahas rumah adat Sulawesi Utara, berarti berbicara mengenai lebih dari satu rumah adat di sana.

Di antara etnisitas yang heterogen, suku Minahasa merupakan suku bangsa yang paling dominan di Sulut. Walewangko atau Rumah Pewaris adalah rumah tradisional Minahasa yang mewakili rumah adat di daerah Sulawesi Utara. Selain itu, ada juga Rumah Bolaang Mongondow dari budaya suku Bolaang Mongondow.

Rumah adat atau rumah tradisional lainnya termasuk Pamangkonang dan Bale Lawo dari masyarakat Sangihe. Sedikit banyak artikel ini akan membahas rumah-rumah adat tersebut. Meskipun kurang lengkap, namun sekiranya bisa menjadi gambaran awal untuk kita mengenal rumah adat Sulut. Berikut penjelasannya:

Rumah Tradisional Adat Daerah Sulawesi Utara

Rumah Adat Walewangko Minahasa

Rumah Adat Minahasa Sulawesi Utara
credit: flickr.com/karenchen, CC BY-NC-ND 2.0

Bangunan rumah tradisional Sulawesi Utara khas Minahasa ini berbentuk panggung yang keseluruhannya terbuat dari kayu ulin yang kuat. Nama lainnya adalah Rumah Pewaris. Pada dinding, ujung atap, pagar, tangga, dan bagian rumah lainnya berhias ukiran-ukiran dengan dominasi warna kuning, putih, dan hitam.

Selain untuk memperindah arsitekturnya, ukiran pada Walewangko juga dipercaya sebagai penangkal bala. Demikian juga dengan desain tangga di bagian kanan dan kiri terkait dengan kepercayaan Minahasa dalam mengusir roh jahat. Jika roh naik dari tangga yang satu maka akan turun lagi melalui tangga lainnya.

Selain menjadi ikon budaya masyarakat Minahasa, dulu rumah ini berfungsi sebagai rumah tempat tinggal tetua adat. Dahulu, Rumah Walewangko memiliki satu ruangan saja. Untuk membuat sekat-sekat biasanya menggunakan tikar yang terikat tali rotan atau ijuk. Untuk saat ini, Rumah ini memiliki beberapa ruangan.

Terdapat 3 ruang dalam Rumah Pewaris, yakni Lesar, Sekey dan Pores. Lesar adalah ruang utama/depan mirip dengan beranda yang tak berdinding. Sekey (serambi/ruang tamu) memiliki dinding, berada setelah pintu masuk. Pores biasanya bersambung dengan dapur dan kamar, untuk menerima kerabat dan tamu wanita.

Rumah Adat Bolaang Mongondow

Rumah Tradisional Adat Sulawesi Utara
credit: CC BY-SA 3.0

Dengan material kayu jati, Rumah Bolaang Mongondow (Bolmong) khas masyarakat Bolaang Mongondow juga mengadopsi bangunan rumah panggung. Ketinggian rumah adat ini bisa mencapai 2 meter dan memiliki Dungkolon atau serambi depan. Bentuk atap rumah melintang panjang ke belakang terbuat dari ijuk.

Sebagai rumah berjenis panggung, Rumah Bolmong dilengkapi sebuah tangga untuk memasuki rumah yang terletak di bagian depan. Struktur umum bangunannya terdiri atas 4 ruang, yakni Dungkolon (serambi depan), Situp (kamar), Dodungon (dapur), dan Yu’ong In Baloi atau satu ruang besar yang berada di tengah rumah.

Selain itu juga terdapat kamar khusus anak gadis pingitan di bagian atas. Ada tangga naik melalui kamar di bagian bawahnya agar kalau anak tersebut keluar diketahui kedua orang tuanya. Ritual memingit gadis Bolaang Mongondow biasanya berlangsung 40 hari, selama itu anak tersebut tidak boleh menyentuh tanah.

Mengenai rumah tinggal, orang Bolaang Mongondow mengenal beberapa istilah. Di antaranya Komalig (istana raja), Silidan (rumah masyarakat biasa), Genggulang (tempat istirahat di kebun), Baloi (rumah penduduk yang sudah permanen). Serta, Lurung atau Laig yakni rumah atau pondok dengan bentuk sederhana.

Rumah Tradisional Adat Sangihe

Rumah tinggal bagi masyarakat Sangihe bernama Pamangkonang yang selanjutnya berkembang menjadi Rumah Ikat. Bangunannya tidak mengenal unsur logam seperti paku, melainkan diikat dengan rotan. Awalnya rumah Sangihe tidak memiliki bilik, baru di awal tahun 1800an ada bilik dalam konstruksi rumahnya.

Sama seperti rumah adat lain di Sulawesi Utara, rumah suku Sangihe berupa rumah panggung. Berdiri di atas tiang yang tinggi dengan tangga yang bisa diangkat. Ada satu serambi dan bilik tinggal yang sama luasnya, serta bilik tidur di kanan kirinya. Jika ada keluarga yang menikah, rumah akan disambung di belakang.

Masyarakat Sangihe juga mengenal Bale Lawo untuk menyebut bangunan umum yang menampung banyak orang. Berfungsi sebagai tempat pertemuan masyarakat dalam kesatuan hukum komunitas adat Sangihe dengan sang raja. Bangunan Bale Lawo sekaligus berfungsi sebagai kediaman atau istana sang raja.


Demikian sekilas tentang ragam rumah tradisional atau rumah adat di provinsi Sulawesi Utara. Sehubungan dengan karya kebudayaan masyarakat Sulut, baca juga Baju Tradisional Sulut dan Tarian Khas Daerah Sulut. Atau, baca juga artikel rumah adat Sulawesi yang lainnya, yakni Rumah Tradisional Adat Gorontalo.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *