• sumber : rainbow-outbound.com

Sanghyang Heuleut – Wisata Alam Bersejarah di Bandung

posted in: Jawa, Jawa Barat, Wisata | 0

Sanghyang Heuleut. Berwisata alam ke Bandung Raya akan lebih berkesan ketika kita lebih berfokus pada alam sebagai peninggalan Bandung Purba. Selain keindahan alam yang memanjakan, apa yang tersaji akan memicu pengetahuan kita perihal kesejarahan kawasan metropolitan ini di masa lampau. Setelah sebelumnya ditulis tentang Stone Garden Geo Park Citatah, artikel kali akan membahas Sanghyang Heuleut yang juga erat kaitannya dengan cikal bakal terbentuknya Kota Bandung.

Menariknya, berbicara mengenai obyek wisata alam ini berarti kita akan membicarakan tiga tempat sekaligus, yakni Sanghyang Tikoro, Sanghyang Poek dan Sanghyang Heuleut. Ketiganya adalah peninggalan jejak Sungai Citarum Purba yang berada ditempat yang cukup tersembunyi di dekat PLTA Saguling, Rajamandala. Saat ini, ketiganya menjadi salah satu tujuan wisata alam yang paling diminati, terutama melalui desain alam yang kini banyak tersebar di media sosial.

Istilah “sanghyang” mewakili sesuatu yang disucikan. Dimulai dari “Tikoro” yang berarti “kerongkongan”. Sanghyang Tikoro merupakan kerongkongan alam dimana air mengalir ke dalam tempat yang gelap dan sempit. Inilah gua misterius yang dikatakan sebagai salah satu tempat mengalirnya air saat danau purba Bandung jebol. Aliran air cukup deras, sementara disebelah selatannya dibentengi oleh dinding alam tinggi dan kokoh yang menghubungkan dua puncak, yakni Pasir Kiara (732 meter) dan Puncak Larang (850 meter).

Sanghyang berikutnya berupa gua purbakala, Sanghyang Poek. Gua ini merupakan celah yang terbebani tebing tinggi dengan aliran air yang tak begitu deras. sebelum pintu masuk Goa Sanghyang Poek dihias bebatuan besar yang sangat eksotik dengan lanskap sekitar diagonal. Sehingga setiap pengunjung yang melaluinya harus miring mengikuti kontur alam tersebut. Pintu masuk gua ini memiliki tiga lorong dengan lorong bagian tengah sebagai jalan masik ke Sanghyang Poek.

Selanjutnya adalah sanghyang yang terakhir yang sejauh ini menjadi tempat para penikmat keindahan menghabiskan waktu mereka, yakni Sanghyang Heuleut. Sebuah danau purba mungil nan molek yang mana bagian atasnya dialiri gemericik air bagian dari Sungai Citarum Purba. Disebut danau purba karena merujuk pada format bebatuan yang menghiasi dan membentengi danau ini. Istilah “heuleut” sendiri diartikan sebagai jeda atau batas antara dua hal/waktu. Dalam legendanya, danau ini diyakini sebagai tempat mandinya para bidadari.

Aktivitas di Sanghyang Heuleut

Wisata kali ini milik Anda sepenuhnya, jadi Andalah yang paling tahu cara terbaik untuk menikmatinya. Oleh karena ini adalah wisata alam, sudah pasti diperlukan energi berlebih, termasuk harus hiking sekitar 2 jam dari lokasi parkir yang tersedia. Awalnya, Sanghyang Tikoro akan menjadi tempat pertama yang bisa dinikmati karena lokasinya cukup dekat dengan lokasi parkir di pos pertama. Meski bersebelahan dengan Power House, lokasinya cukup tersembunyi sehingga kita perlu menuruni tangga menuju sebuah pelataran kecil.

Sembari tetap jeli menikmati suasana yang ada, dari pos pertama capailah Power House dalam waktu sekitar 15 menitan. Selain bisa memarkir kendaraan, disini menjadi point untuk menuju Sanghyang Heuleut. Meski mungkin tujuan utama Anda adalah Sanghyang Heuleut, bersabarlah, bukanlah ide buruk jika tetap menghayati perjalanan dan menikmati kesejukan dan panorama alam sekitar. Bisa juga sejenak beristirahat di pinggir pipa-pipa besar PLTA Saguling, ada jalan setapak dan warung kecil disana.

Selanjutnya, tempat yang bisa dikunjungi adalah Sanghyang Poek. Jika rasa penasaran lebih mendominasi, bisa juga mencoba memasuki gua purbakala tersebut. Sementara itu, jika ingin langsung pergi ke Sanghyang Heuleut, dari sini ada dua jalur hiking untuk sampai kesana, pilih salah satunya. Sejak menentukan pilihan, bersiaplah untuk berjalan kaki sekitar 1,5 jam dengan medan yang lebih berat dari sebelumnya. Lagi-lagi, nikmatilah setiap detik perjalanan menyusuri sungai itu, sejauh kurang lebih 3 kilometer hingga sampailah di Sanghyang Heuleut.

Sebagai catatan, sejak pertama kali memarkir kendaraan di sekitaran PLTA Saguling, niatkanlah untuk menjadi petualang yang beretika. Jauhi berbicara kasar, pastikan untuk tetap santun dan bersahabatlah dengan alam dengan tidak membuang sampah sembarangan. Satu hal lagi, jika datang dimusim penghujan, hati-hatilah karena aliran air ditempat ini bisa saja menjadi lebih deras. Di Sanghyang Heuleut, setiap pengunjung bisa melakukan banyak hal, termasuk berenang atau menjelajahi setiap sudut dan carilah sudut terbaik untuk diabadikan.

Jika durasi wisata kali ini cukup banyak, bisa juga mempertimbangkan pergi ke Pabrik Pengolahan Buah Cokelat Cikumpay yang lokasinya tidak jauh dari PLTA Saguling. Di tempat tersebut, Anda bisa melihat pengolahan buah cokelat. Selanjutnya, pertimbangkan juga untuk melebar ke kawasan Citatah, ke Pasir Pawon. Di kawasan itulah Stone Garden Citatah berada, jadi lanjutkan petualangan alam dan sejarah untuk mengetahui asal-usul Bandung dimasa purba. Selamat berwisata!

Tiket & Fasilitas di Sanghyang Heuleut

Berwisata alam, kita tidak bisa mengharapkan fasilitas yang memadai. Sebagai tempat yang masih alami, kawasan Sanghyang Heuleut hanya menyediakan fasilitas seadanya yang bisa didapati di sekitaran PLTA Saguling. Ada dua lahan parkir, satunya di dekat Sanghyang Tikoro, satunya lagi di kebun dekat PLTa Saguling.

Seperti yang disebutkan dalam halaman aktivitas, jika membutuhkan makanan, ada warung kecil di dekat pipa-pipa besar PLTA. Di tempat itulah, Anda bisa beristirahat dan membekali diri secukupnya.

Fasilitas lain di Sanghyang Heuleut berupa jasa. Pihak pengelola juga menyediakan jasa sewa pelampung seharga Rp 20.000 per orang. Selain itu, ada juga jasa pemandu wisata yang harganya cukup bervariasi hingga Rp 50.000 per orang.

Harga Tiket Masuk Sanghyang Heuleut : Setiap pengunjung akan dikenakan tiket masuk sebesar Rp 10.000. Untuk tarif parkir, Rp 5.000 untuk kendaraan roda dua, dan Rp 10.000 untuk kendaraan roda empat.

Rute & Maps Sanghyang Heuleut

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, obyek wisata Sanghyang Heuleut berada di kawasan PLTA Saguling, Rajamandala Kulon, Cipatat, Kabupaten Bandung Barat. Lokasinya berbatasan dengan Kabupaten Cianjur dan Purwakarta dengan akses jalan yang cukup mudah. Dari pusat kota Bandung, tempat ini berjarak sekitar 50 kilometer atau sekitar 1,5 jam perjalanan berkendara.

Dari Bandung, Anda bisa memilih rute melalui jalan Raya Bandung-Cianjur dan setelahnya masuklah ke gerbang Waduk Saguling. Lanjutkan perjalanan melalui jalan yang berkelok-kelok melewati Sanghyang Tikoro. Dari sini pintu gerbang hanya berjarak kurang lebih 200 meter saja. Setelah memarkir kendaraan, lanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menuju Sanghyang Heuleut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *