• sumber : sabdadewi.wordpress.com

Sastra Jawa – Sejarah Perkembangan Kesusastraan Jawa

Sastra Jawa. Kasusastraan telah menjadi bagian dari masyarakat Jawa dengan usia yang sangatlah tua. Pada awalnya kebudayaan asli Jawa sangatlah transendental dengan kecenderungan pada sistem kepercayaan animisme dan dinamisme. Barulah ketika masuknya agama Hindu dan Budha, perubahan besar pun terjadi dimana Kebudayaan India melalui kedua agama tersebut turut mempengaruhi dan mewarnai kebudayaan Jawa, tidak terkecuali terpengaruhnya Kasusastraan Jawa karena seperti diketahui bahwa sastra merupakan bagian dari Budaya.

Kehadiran kasusastraan Jawa bisa dilihat pada kisaran abad ke 7 – 8, yaitu pada masa kejayaan Kerajaan Sriwijaya (Sumatera) hingga Kerajaan Medang (Kerajaan Mataram Kuno, Jawa Tengah). Sastra pada masa tersebut ditandai dengan adanya pahatan Cerita Riwayat Hidup Budha di Borobudur yang berasal dari Kitab LalitaVistara. Sayangnya, oleh karena bahan kitab yang mudah rusak, kondisi politik, peperangan, serta kurangnya perhatian terhadap kebudayaan kuno menyebabkan lenyapnya hasil/corak kasusastraan pada waktu itu.

Selanjutnya, perpindahan pusat kerajaan Mataram Kuno dari Jawa Tengah ke Jawa Timur oleh Mpu Sindok (929 – 947) berdampak pula pada perpindahan pusat perkembangan sastra. Adapun Sejarah sastra Jawa kuno bisa diurutkan pada kekuasaan – kekuasaan berikut ini :

Kerajaan Sindok dan pengganti – penggantinya. Pemerintahan Udayana dan Airlangga di Bali. Kerajaan Airlangga di pulau Jawa. Kerajaan – kerajaan Jenggala dan Kediri , Daha , kerajaan Singasari , kerajaan Majapahit, kerajaan Samprangan Gelgel Bali dan kerajaan Klungkung Bali.

Di Jawa Timur, dengan datangnya Agama Islam serta lenyapnya Kerajaan Majapahit berimbas pada hilangnya Kasusastraan Kawi (Jawa Kuno) di daerah tersebut. Menariknya, Bali diketahui telah bersatu dengan Majapahit dan tetap menjunjung tinggi peninggalan nenek moyang. Sehingga, ada kemungkinan diketahui sebagian besar hasil Kasusastraan Jawa Kuno atau Sastra Jaman Pengaruh India hingga berakhirnya Kerajaan Majapahit.

Secara tertulis studi sejarah Jawa kuno adalah dimulai pada tahun 25 Maret 804 Masehi dengan ditandai ditemukannya Prasasti Sukabumi atau Prasasti Harinjing. Meskipun begitu prasasti tersebut memang ditulis dalam Bahasa Jawa Kuno tapi bukan tergolong teks kasusastraan. Prasasti yang memuat teks kasusastraan adalah Prasasti Siwagreha (Siwagrha / Shivagrha) tahun 856 Masehi yang berisikan sebuah sajak yang disebut dengan Kakawin. Kakawin adalah sajak yang tidak lengkap dan dipercaya sebagai Sastra tertua dalam bahasa Jawa kuno.

Sastra Jawa Kuno

Sastra Jawa Kawi merupakan karya sastra yang menggunakan bahasa Jawa Kuno Disebutkan bahwa Sastra Jawa Kuno ditulis pada kisaran periode abad ke-9 hingga abad ke-14 Masehi. Karya sastra dalam periode ini ditulis dalam bentuk Gancaran (Prosa) dan Kakawin (Puisi) yang mencakup sajak wiracarita, undang-undang hukum, kronik (babad), dan kitab-kitab keagamaan.

Sastra Jawa Kuno ditulis dalam bentuk Manuskrip dan Prasasti. Adapun manuskrip yang menggunakan teks bahasa Jawa Kuno ditemukan berjumlah ribuan. Sementara itu, manuskrip yang berbentuk prasasti berjumlah puluhan hingga ratusan (tidak semua prasasti termuat teks kasusastraan). Contoh Karya Sastra Jawa Kuno diantaranya sebagai berikut :

  • Candakarana : Kamus atau ensiklopedia bahasa Jawa Kuno tertua yang ditulis pada kisaran abad ke-8 masehi (dugaan ini dikarenakan di dalam kitab ini termuat nama Syailendra)
  • Kakawin Ramayana : Syair bahasa Jawa Kuno yang mengisahkan cerita Ramayana. Diduga dibuat di Mataram Hindu pada masa pemerintahan Dyah Balitung sekitar tahun 820-832 Saka atau sekitar tahun 870 M. Kakawin ini disebut-sebut sebagai Adikakawin karena dianggap yang pertama, terpanjang, dan terindah gaya bahasanya dari periode Hindu-Jawa.
  • Terjemahan Mahabrata : Sebuah terjemahan Karya Sastra Kuno dalam bahasa Jawa Kawi. Terdiri dari delapan belas kitab, maka dinamakan Astadasaparwa (asta = 8, dasa = 10, parwa = kitab). Disisi lain, ada pula yang meyakini bahwa kisah ini sesungguhnya merupakan kumpulan dari banyak cerita yang semula terpencar-pencar. Kumpulan cerita ini baru dikumpulkan semenjak abad ke-4 sebelum Masehi.

Sastra Jawa Tengahan

Pada periode ini muncul karya – karya puisi berdasarkan Metrum Jawa (pola bahasa dalam sebuah baris puisi jawa) disebut juga dengan Kidung. Sastra Jawa Tengahan diperkirakan muncul di kerajaan Majapahit pada kisaran abad ke-13 sampai kira-kira abad ke-16. Setelah ini, Sastra Jawa Tengahan diteruskan di Bali menjadi Sastra Jawa-Bali.

Sastra Jawa Baru

Kasusastraan Jawa Baru hadir antara abad kelima belas dan keenam belas Masehi, yakni setelah penyebaran Agama Islam di pulau Jawa. Salah satu contoh karya sastra terpenting pada masa ini adalah Suluk Malang Sumirang. Disamping itu juga didapati sastra bersifat ensiklopedis seperti Serat Jatiswara dan Serat Centhini.

Pada awalnya, gaya bahasa yang dipakai masih mendekati Sastra Jawa Tengahan, setidaknya sampai setelah tahun ~ 1650. Kemudian, bahasa Jawa gaya Surakarta menjadi semakin dominan. Setelah masa ini, ada pula renaisans Sastra Jawa Kuna. Kitab-kitab kuno yang bernapaskan agama Hindu-Buddha mulai dipelajari lagi dan digubah dalam bahasa jawa yang baru.

Sastra Jawa Modern

Sastra Jawa Modern merupakan karya Sastra Jawa yang telah dipengaruhi Sastra Barat. Hadir setelah penjajahan Belanda di Pulau Jawa yakni sejak abad kesembilan belas masehi. Pada periode ini muncul bentuk karya sastra seperti esai, roman, novel, dan sebagainya.

Gaya bahasa pada masa ini masih mirip dengan bahasa Jawa Baru. Perbedaan utamanya ialah semakin banyak digunakannya kata-kata Melayu, dan juga kata-kata Belanda.  Pada masa ini (tahun 1839, oleh Taco Roorda) juga diciptakan huruf cetak berdasarkan aksara Jawa gaya Surakarta untuk Bahasa Jawa, yang kemudian menjadi standar di pulau Jawa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *