Sejarah Candi Borobudur – Asal Usul Nama serta Perkiraan Awal Berdirinya

Sejarah Candi Borobudur. Candi Hindu-Buddha merupakan peninggalan purbakala yang hingga saat ini senantiasa mengabarkan masa lalu bangsa Indonesia. Terlepas dari fungsinya sebagai tempat ibadah, bangunan candi termasuk juga berkaitan dengan apapun yang menyertainya adalah definisi lain dari keindahan yang memicu kekaguman setiap orang.

Di antara banyaknya candi di Indonesia, nama Borobudur demikian menonjol. Terkhusus, karena diklaim sebagai kuil Buddha terbesar di dunia. Monumen Buddha ini telah lebih dari 1200 tahun menjadi saksi kejadian-kejadian, tentang kejayaan Syailendra. Juga, tentang persaingan hegemoninya dengan Sanjaya yang kemudian membangun Candi Prambanan, sebagai candi tandingan.

Candi Borobudur sendiri berlokasi di Desa Borobudur, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Dibangun sebagai model alam semesta dan menjadi tempat suci untuk memuliakan Buddha. Sesuai dengan ajaran Buddha, monumen ini dijadikan tempat ziarah untuk menuntun manusia agar beralih dari alam nafsu duniawi menuju pencerahan dan kebijaksanaan.

Eksotika keindahan Borobudur tidak hanya terletak pada arsitektur bangunannya saja, namun juga pada kesejarahannya yang masih penuh misteri. Artikel ini akan mencoba merangkum Sejarah Candi Borobudur, sehubungan dengan dugaan awal pembangunannya serta hubungannya dengan Candi Pawon dan Candi Mendut yang lokasinya segaris lurus imajiner dengan Candi Borobudur.


Asal-usul Nama Candi Borobudur

Seperti umumnya nama candi-candi di Indonesia, asal usul nama Borobudur pun tidak jelas. Sudah menjadi kesepakatan dunia arkeolog bahwa nama candi didasarkan pada nama desa tempat ditemukannya candi tersebut. Istilah borobudur┬ápertama kali disebut dalam buku “History of Java” karya Sir Thomas Stamford Raffles, Gubernur Jendral Inggris yang mengungkap keberadaan candi ini.

Bore-Budur yang kemudian ditulis BoroBudur, kemungkinan ditulis Raffles dalam tata bahasa Inggris untuk menyebut nama desa terdekat dengan candi, yakni desa Bore (Boro). Untuk budur Raffles menduga istilah tersebut mungkin berkaitan dengan buda dalam bahasa Jawa yang berarti purba. Sedangkan arkeolog lain beranggapan istilah budur berasal dari bhudhara yang berarti gunung.

Ada juga yang menyatakan bahwa nama candi ini kemungkinan berasal dari kata Sambharabhudhara yang berarti gunung yang mana di lereng-lerengnya terletak teras-teras. Selebihnya, masih banyak teori yang mencoba menjelaskan asal mula nama Borobudur. Misalnya, nama tersebut berasal dari bahasa Sansekerta, yakni bara yang berarti kompleks candi dan beduhur berarti tinggi.


Tentang Sejarah Candi Borobudur

Sehubungan dengan sejarah Candi Borobudur, sampai saat ini tidak ada bukti tertulis yang menjelaskan siapa yang membangun dan apa kegunaannya. Arsitek yang merancang serta konsep-konsep cara berfikirnya pun belum diketahui secara pasti. Namun, monumen ini diperkirakan dibangun pada masa kejayaan Dinasti Syailendra, yakni pada abad ke-8 hingga ke-9 M.

Perkiraan waktu tersebut didasarkan pada relief karmawibhangga di bagian kaki Candi Borobudur. Jenis aksara pada karmawibhangga sama dengan yang digunakan pada prasasti Karang Tengah (824 M) dan prasasti Cri Kahulunan (842 M). Menurut Casparis, berdasarkan interpretasi dua prasasti tersebut, Borobudur dibangun oleh raja Samaratungga (812-833 M).

Samaratungga merupakan raja bagi Dinasti Syailendra yang menganut agama Buddha Mahayana. Pemerintahannya satu masa dengan Rakai Garung (819-838 M) dan Rakai Warak (810-819 M) dari Dinasti Sanjaya yang menganut agama Hindu Siwa. Bisa jadi pembangunan Candi Borobudur dimaksudkan untuk menandingi kebesaran agama Hindu dengan candi-candinya yang dibangun lebih dahulu.

Demikian halnya dengan Candi Prambanan yang selanjutnya juga dibangun sebagai tandingan Candi Borobudur dan candi-candi Buddha lainnya. Dalam kesejarahan Kerajaan Medang (Mataram Kuno) periode Jawa Tengah, Syailendra yang Buddha dan Sanjaya yang Hindu senantiasa bersaing. Dalam nuansa persaingan inilah banyak candi dibangun, baik yang bercorak Hindu maupun Buddha.

Memang, Samaratungga disebut-sebut sebagai pemrakarsa Borobudur. Namun, sangat diragukan jika bangunan megastruktur tersebut dibangun hanya dalam waktu 21 tahun masa pemerintahannya. Jika merujuk dugaan Jacques Dumarcay, candi ini dibangun selama 100 tahun (750-850 M), maka pembangunannya dimulai jauh sebelum Samaratungga dan peresmiannya pun melewati masa pemerintahannya.

Menariknya, ada juga yang beranggapan bahwa pembangunan Borobudur berlangsung 150 tahun dan dimulai di masa Indra (782-812 M). Jika ini benar, maka pembangunannya melewati masa pemerintahan Mpu Sindok (928-929 M) yang memindahkan ibu kota ke Jawa Timur. Padahal, periode Mpu Sindok diduga sebagai periode mulai ditelantarkannya Candi Borobudur, termasuk juga Candi Prambanan.


Penemuan Kembali & Pemugaran

Sejak ditelantarkan, seiring berjalannya waktu Borobudur terkubur selama berabad-abad di bawah lapisan tanah dan debu vulkanik. Ditumbuhi pohon dan semak belukar hingga bentuknya menyerupai bukit. Di masa Majapahit, nama monumen suci ini pernah disebut “Wihara di Budur” oleh Mpu Prapanca dalam Nagarakretagama. Juga, disinggung dalam dua Babad Jawa yang ditulis pada abad ke-18.

Penemuan kembali Candi Borobudur terjadi ketika Pulau Jawa berada di bawah pemerintahan Inggris (1811-1816). Seorang Gubernur Jendral Inggris, Thomas Stamford Raffles yang memiliki ketertarikan kuat dengan sejarah Jawa, mendengar informasi tentang susunan batu bergambar yang ditumbuhi pepohonan dan semak belukar. Ia menyuruh Cornelius (insinyur Belanda) untuk membersihkannya.

Selanjutnya pada tahun 1835, usaha pembersihan Cornelius dilanjutkan oleh Residen Kedu bernama Hartman. Borobudur dipugar untuk pertama kalinya oleh Theodore Van Erp dari pemerintah Hindia Belanda sekitar tahun 1907-1911. Pemugaran tersebut berkisar pada bagian atas candi (Aruphadatu) yang berupa teras-teras melingkar berisi stupa-stupa teras dan sebuah stupa induk.

Sekitar tahun 1973-1983, dilakukanlah pemugaran kedua oleh pemerintah Indonesia yang bekerjasama dengan UNESCO. Karena tingkat Arupadhatu keadaannya masih baik, maka hanya tingkat-tingkat di bawahnya saja yang dipugar, dibersihkan dan dikembalikan pada posisi semula. Situs bersejarah ini kemudian dimasukkan dalam daftar Situs Warisan Dunia.


Perihal Tiga Candi & Danau Purba

Dalam banyak hal Candi Borobudur selalu dikaitkan dengan Candi Mendut dan Candi Pawon. Selain lokasinya yang tidak terlalu jauh, Candi Mendut dan Candi Pawon juga diduga terkait erat dengan sejarah Candi Borobudur. Dan, yang paling menarik adalah peletakan Candi Borobudur yang segaris lurus imajiner dengan Candi Pawon dan Candi Mendut.

Awalnya, peletakan tiga candi tersebut dianggap suatu kebetulan saja. Namun, ada cerita lokal yang menyebutkan adanya jalan berlapis batu yang dipagari pagar langkan di kedua sisinya yang menghubungkan ketiga candi. Meski tidak ditemukan bukti fisik untuk membenarkan cerita tersebut, para pakar menduga memang ada kesatuan perlambang di antara ketiganya.

Adanya kemiripan langgam arsitektur, ragam hias dan memang berasal dari periode yang sama, semakin memperkuat dugaan bahwa ada keterkaitan ritual antara ketiga candi. Hubungan suci antara ketiga candi ini pun masih terlihat di setiap pelaksanaan Hari Raya Waisak. Prosesi ritualnya dimulai dari Candi Mendut, melalui Candi Pawon dan klimaksnya di Candi Borobudur.

Selain dengan Candi Mendut dan Candi Pawon, sejarah Candi Borobudur juga dihubungkan dengan keberadaan danau purba. Tidak seperti candi-candi lain yang dibangun di tanah datar, Borobudur dibangun di atas bukit berketinggian 265 mdpl dan 15 meter di atas dasar danau purba yang telah mengering. Diduga candi ini dibangun di tepi atau bahkan di tengah danau.

Pada 1931, seorang pakar arsitektur Hindu-Buddha, W.O.J. Sieuwenkamp memperkuat dugaan tersebut. Ia mengajukan teori bahwa Dataran Kedu dulunya adalah sebuah danau, dan Borobudur dibangun melambangkan bunga teratai yang mengapung di atasnya. Bunga teratai, baik yang padma (merah), utpala (biru), maupun kumuda (putih) mudah ditemukan dalam ikonografi seni keagamaan Buddha.

Bentuk arsitektur Borobudur pun mirip teratai. Postur Buddha melambangkan Sutra Teratai yang banyak ditemui dalam naskah keagamaan Buddha Mahayana. Adapun tiga pelataran melingkar di puncak Borobudur diduga melambangkan kelopak bunga teratai. Banyak yang menentang teori Sieuwenkamp, banyak pula yang mendukung dengan bukti adanya endapan sedimen lumpur di dekat situs ini.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *