Sejarah Candi Prambanan serta Kisah Rara Jonggrang yang Menyertainya

Sejarah Candi Prambanan. Semua orang tahu bahwa Kompleks Candi Hindu yang berada di perbatasan Yogyakarta dan Jawa Tengah ini adalah yang terbesar di Indonesia. Tidak hanya itu, bahkan menjadi salah satu yang termegah di Asia Tenggara selain Angkor Wat di Kamboja. Pesonanya pun senantiasa menjadi daya tarik kunjungan wisatawan dari seluruh dunia.

Trimurti adalah sebutan tiga candi utamanya sebagai persembahan tiga dewa utama; Siwa sang penghancur, Wisnu sang Pemelihara, dan Brahma sang Pencipta. Di antara ketiganya, Siwa adalah yang utama. Oleh karenanya, Candi Siwa merupakan yang terbesar dan tertinggi, menjulang hingga 47 meter. Di ruang utamanya pun ada arca Siwa setinggi tiga meter.

Dalam sejarah Candi Prambanan, merujuk pada Prasasti Siwagrha, nama asli candi ini adalah Siwagrha yang berarti “Rumah Siwa“. Sebutan lain bagi salah satu Situs Warisan Dunia UNESCO ini adalah Candi Roro Jongrang. Nama tersebut berkaitan dengan Legenda Roro Jonggrang yang mencoba menjelaskan dari sisi lain tentang asal usul Candi Prambanan.


Perihal Sejarah Candi Prambanan

Tidak diketahui pasti kapan dan atas perintah siapa candi ini dibangun. Namun, jika merujuk pada Prasasti Siwagrha yang ditemukan di sekitar candi, kuat dugaan bahwa Prambanan dibangun pada sekitar abad ke-9 oleh raja Kerajaan Medang (Mataram Kuno) dari wangsa Sanjaya. Prasasti yang berangka tahun 778 Saka (856 M) tersebut ditulis pada masa pemerintahan Rakai Pikatan.

Berdasarkan prasasti yang kini berada di Museum Nasional Indonesia itu pula diketahui bahwa nama asli kompleks candi adalah Siwagrha (bahasa Sanskerta yang bermakna “Rumah Siwa”). Dan, memang di garbhagriha (ruang utama) candi terdapat arca Siwa Mahadewa. Tinggi arca tersebut mencapai 3 meter sehingga menunjukkan bahwa di candi ini dewa Siwa lebih diutamakan.

Jika diurutkan, pembangunan Candi Prambanan dimulai oleh Rakai Pikatan (raja keenam Kerajaan Medang) sekitar tahun 850 M. Kemudian dikembangkan serta diperluas oleh Raja Balitung Maha Sambu. Candi agung Hindu ini dibangun sebagai tandingan Candi Borobudur dan Candi Sewu, keduanya adalah candi Buddha yang berlokasi tidak jauh dari Prambanan.

Sanjaya yang Hindu dan Sailendra yang Buddha adalah dua wangsa yang saling bersaing. Hadirnya Prambanan menandai kembali berkuasanya Sanjaya atas Jawa. Atau, menandai Hinduisme Saiwa kembali mendapatkan dukungan kerajaan yang sebelumnya Sailendra lebih mendukung Buddha aliran Mahayana. Hal ini menandakan bahwa Kerajaan Medang mengalihkan dukungan keagamaannya.

Setelah diperluas oleh Dyah Balitung, komplek bangunan candi terus disempurnakan secara berkala oleh raja-raja Medang Mataram berikutnya. Perluasan itu termasuk penambahan ratusan bangunan candi tambahan di sekitar candi utama. Sayangnya sejak Mpu Sindok memindahkan ibu kota kerajaan ke Jawa Timur sekitar tahun 930-an, perlahan candi ini rusak dan runtuh.

Bangunannya runtuh sempurna akibat gempa bumi hebat pada abad ke-16. Namun, keberadaannya masih dikenali. Sisa-sisa reruntuhan candi inilah yang kemudian mengilhami lahirnya legenda Roro Jonggrang. Sementara itu, pasca perpecahan Kesultanan Mataram tahun 1755, letak Candi Prambanan menjadi pembatasan wilayah Kesultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta.


Penemuan dan Pemugaran Candi

Dalam sejarah Candi Prambanan, penemuan kembali reruntuhan bangunan terbesar (Candi Syiwa) dilaporkan oleh C.A. Lons tahun 1733. Upaya penggalian dan pencatatan awal dimulai di bawah pengawasan Groneman. Penggalian selesai tahun 1885 dan dilanjutkan kembali tahun 1902 oleh van Erp, yang mana batu-batu reruntuhannya dikelompokkan dan diidentifikasi secara lebih terperinci.

Tahun 1918, di bawah pengawasan Dinas Purbakala yang dipimpin P.J. Perquin, pemugaran Prambanan berlanjut hingga Candi Syiwa dapat direkonstruksi kembali. Upaya tersebut dilanjutkan oleh panitia pemugaran pimpinan De Haan tahun 1926. Pembangunan Candi Syiwa pun semakin disempurnakan hasilnya serta dimulainya persiapan untuk membangun Candi Apit.

Dua Candi Apit rampung tahun 1932, pemugarannya dipimpin oleh V.R. van Romondt. Upaya itu terpaksa berhenti tahun 1942, saat Jepang mengambil alih pemerintahan Indonesia. Setelah tersendat, akhirnya pemugaran Candi Syiwa dan Candi Apit rampung tahun 1953. Pemugarannya seakan tidak pernah selesai, hingga saat ini pun masih berlangsung secara bertahap.

Denah asli Candi Prambanan berbentuk persegi panjang. Terdiri atas halaman luar dan tiga pelataran, di antaranya; pelataran jaba (luar), tengahan (tengah), dan njeron (dalam). Pelataran luar membujur seluas 390 m2 lahannya kosong tanpa ada bangunan dengan dikelilingi pagar batu yang kini runtuh. Belum diketahui apakah semula ada bangunannya atau tidak.

Pelataran tengah memanjang seluas 222 m2, dulunya juga dikelilingi pagar batu yang kini tinggal reruntuhan. Di sini ada empat teras berundak yang makin ke dalam makin tinggi. Teras pertama (bawah) terdapat 68 candi kecil, di teras kedua ada 60 candi dan teras ketiga 52 candi. Adapun teras paling atas (keempat) terdapat 44 candi. Semua candi bentuk ukurannya sama.

Pelataran dalam letaknya paling tinggi dan dianggap paling suci. Bentuknya segi empat seluas 110 m2 dengan tinggi sekitar 1,5 m dari teras teratas pelataran tengah. Pelataran ini dikelilingi turap dan pagar batu, serta di keempat sisinya memiliki gerbang gapura paduraksa dengan sepasang candi kecil. Namun, saat ini hanya gapura sisi selatan saja yang masih utuh.

Di pelataran dalam ada 2 baris candi membujur ke arah utara selatan. Di barisan barat ada 3 candi menghadap ke timur. Candi Wisnu di utara, Candi Syiwa di tengah, dan Candi Brahma di selatan. Di barisan timur ada 3 candi menghadap ke barat. 3 candi ini disebut candi wahana (kendaraan), masing-masing diberi nama sesuai dengan binatang tunggangan dewa yang candinya berada di hadapannya.

Candi Wisnu berhadapan dengan Candi Garuda, Candi Syiwa berhadapan dengan Candi Nandi (lembu), dan Candi Brahma berhadapan dengan Candi Angsa. Keenam candi saling berhadapan membentuk lorong. Kecuali Candi Syiwa, 5 candi lain bentuk ukurannya sama, berdenah dasar bujur sangkar seluas 15 m2, tingginya 25 m. Di ujung lorong masing-masing terdapat Candi Apit saling berhadapan.


Kisah Legenda Candi Prambanan

Dalam sejarah Candi Prambanan di atas telah disebutkan, legenda Roro Jonggrang hadir di tengah masyarakat setelah Prambanan benar-benar runtuh. Cerita rakyat ini ada seiring tidak diketahuinya latar belakang sejarah sesungguhnya, siapakah raja dan kerajaan apa yang membangunnya. Olah imajinasi mencipta kisah Candi Prambanan dan dikenal sebagai kisah Rara Jonggrang.

Arca Durga di dalam ruang utara Candi Siwa diyakini sebagai perwujudan Putri Rara Jonggrang. Bahkan kisah ini tidak hanya menyangkut Prambanan, namun juga situs-situs bersejarah lain di Jawa, seperti Ratu Boko dan Candi Sewu. Menariknya, situs-situs tersebut telah ada sejak abad ke-8 dan ke-9, sementara kisah ini baru disusun pada zaman Kesultanan Mataram pada kisaran abad ke-17.

Rara Jonggrang berarti “dara atau gadis langsing”. Dongeng lokal ini menceritakan tentang kisah cinta seorang pangeran terhadap seorang putri. Sayangnya, cinta itu harus berakhir dengan dikutuknya sang putri akibat dari tipu muslihat yang dilakukannya. Kisah ini berkaitan dengan dua kerajaan bertetangga yang konon ada di Jawa Tengah, yakni Pengging dan Baka.

Kerajaan Pengging yang makmur dan subur dipimpin oleh Prabu Damar Maya yang berputra Raden Bandung Bondowoso yang perkasa dan sakti. Sementara itu, raja bagi Kerajaan Baka adalah raksasa pemakan manusia, yakni Prabu Baka. Ia dibantu oleh seorang patih bernama Gupala. Meskipun dari bangsa raksasa, Prabu Baka memiliki putri cantik yang diberi nama Rara Jonggrang.

Kisah ini dimulai dari Prabu Baka yang menyerukan perang dengan kerajaan Pengging demi memperluas kerajaannya. Mengetahui rakyatnya banyak yang tewas dan menderita, Prabu Damar Maya pun mengirim Bandung Bondowoso untuk menghadapi Prabu Baka dan ia berhasil membunuhnya. Patih Gupala lari kembali ke Keraton Baka dan melaporkan kabar kematian Prabu Baka pada Rara Jonggrang.

Kerajaan Baka jatuh dalam kekuasaan Kerajaan Pengging, Bandung Bondowoso menyerbu dan memasukinya hingga bertemu dengan Putri Lara Jonggrang. Bandung Bondowoso pun langsung terpikat oleh kecantikan sang putri, jatuh cinta dan melamarnya. Sayangnya lamaran itu ditolak, karena sang putri tidak ingin menikah dengan pembunuh ayahnya dan penjajah negaranya.

Karena terus dirayu, sang putri bersedia namun dengan dua syarat yang mustahil. Pertama, membuat sumur Jalatunda. Kedua, membuat seribu candi dalam waktu satu malam. Berkat kesaktian Bandung Bondowoso, syarat pertama terpenuhi. Namun ia diperdaya, disuruh turun sumur untuk memeriksanya. Sesampainya di bawah, oleh Patih Gopala sumurnya ditutupi timbunan batu.

Karena sakti, Pangeran Bandung Bondowoso pun berhasil mendobraknya dan keluar. Ia sempat marah, namun kembali tenang setelah dibujuk sang putri dan ia kembali berusaha mengupayakan syarat kedua. Untuk mewujudkannya, sang pangeran memanggil segala jenis makhluk halus dari perut bumi. Berkat bantuan mereka, usaha membangun candi pun hampir selesai, 999 candi tercipta.

Lagi-lagi, sang putri memperdaya. Ia membangunkan para dayang istana dan para perempuan desa agar mulai menumbuk padi. Ia juga memerintahkan membakar gundukan jerami di sisi timur. Karena mengira pagi telah tiba, para makhluk halus ketakutan dan kembali masuk ke perut bumi. Usaha Pangeran Bandung Bondowoso pun gagal karena hanya mampu menyelesaikan 999 candi saja.

Sang pangeran murka, setelah mengetahui kecurangan Rara Jonggrang. Ia mengutuk sang putri tersebut menjadi batu hingga berubah menjadi arca cantik yang indah untuk menggenapi candi terakhir. Menurut kisah ini, Ratu Boko adalah istana Prabu Baka, 999 candi adalah Candi Sewu. Sedangkan arca Durga Mahisashuramardini di Candi Prambanan adalah perwujudan Rara Jonggrang.


2 Responses

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *