Batik Madura – Sekilas Sejarah dan Keunikan Batik Khas Madura, Jawa Timur

Batik Madura. Batik dan Indonesia bisa dikatakan sebagai dua entitas yang seolah tertanam (embedded). Sejauh ini popularitas batik memang lebih menonjol di Jawa bagian tengah (Jogja, Solo dan Pekalongan). Namun dalam konteks pluralitas, wastra tradisional ini hampir menyeluruh dimiliki semua entitas di Indonesia.

Di ujung utara pulau Sumatera, masyarakat Aceh memiliki Batik Aceh yang khas dan kaya motifnya. Di Jawa Timur, sebelumnya telah juga dituliskan perihal Batik Malangan. Sementara itu, masyarakat Madura di Pulau Madura yang kebudayaannya sangat mewakili citarasa budaya Jawa Timur, tentu memilikinya juga.

Sebagai produk kebanggaan salah satu warisan budaya Indonesia di mata dunia, batik merupakan karya seni dan bukan sekedar kain. Ini adalah kain tradisional dengan perlakuan khusus, sejak dalam pemilihan bahan sampai dengan perawatannya. Terkhusus dalam artikel ini, mari lebih dekat dengan batik khas Madura.

Batik Madura adalah istilah umum yang mewakili wastra batik khas pulau Madura. Empat kabupaten di sana (Bangkalan, Sampang, Pamekasan, Sumenep) masing-masing memiliki motif batik yang unik. Meski demikian, Bangkalan dan Pamekasan terlihat lebih intensif dalam pemasaran dan lebih banyak pengrajinnya.


Sejarah Batik di Madura

Dalam sejarahnya, wastra batik merupakan produk budaya yang awalnya terlahir dalam lingkup kerajaan. Demikian halnya dengan kerajinan batik dalam kebudayaan masyarakat di pulau Madura. Di pulau penghasil garam yang terkenal dengan Tradisi Karapan Sapi ini, kain batik telah ada sejak zaman kerajaan.

Sehubungan dengan hal tersebut, sejarah perbatikan di pulau Madura tidaklah terlepas dari peran kerajaan Pamelingan yang di kemudian hari berganti nama menjadi Pamekasan. Keraton Mandilaras adalah nama pusat pemerintahannya yang pada masa itu berada di bawah kendali Pangeran Ronggosukowati (1530).

Konon, batik mulai dikenal masyarakat Madura secara luas pada kisaran abad ke-16 hingga ke-17 masehi. Awal perkembangannya dimulai dari peperangan yang pernah terjadi di Pamekasan Madura. Suatu perang yang membuat Raden Azhar (Kiai Penghulu Bagandan) harus melawan seorang Ke’ Lesap.

Raden Azhar sendiri merupakan seorang ulama yang juga sebagai penasihat spiritual bagi Adipati Pamekasan, yakni Raden Ismail (Adipati Arya Adikara IV). Sementara itu, Ke’ Lesap merupakan seorang putra Madura yang diketahui sebagai keturunan Cakraningrat I (Madura Barat, Bangkalan) dari istri selir.

Dalam peperangan tersebut tersiar kabar bahwa Raden Azhar mengenakan pakaian kebesarannya yang membuatnya berkarisma dan terlihat gagah berwibawa. Model busananya itu bermotif parang (salah satu motif batik klasik di Indonesia) atau yang dalam bahasa Madura dikenal sebagai motif leres.

Sejak saat itulah, apa yang dikenakan Raden Azhar luas diperbincangkan di Madura, khususnya di kalangan para pembesar di Pamekasan. Terlepas dari apa yang terjadi di Pamekasan, tokoh penting yang dianggap paling berjasa adalah Arya Wiraraja, Adipati Sumenep yang dekat dengan Raden Wijaya (Majapahit) (1).


Ciri Khas Batik Madura

Seperti dikatakan sebelumnya, salah satu motif perbatikan di Madura adalah motif leres atau motif parang jika dalam khasanah batik Jawa. Ini adalah motif batik pedalaman yang menonjolkan garis melintang simetris, selaras pada apa yang biasa ditemukan dalam Batik Solo, Batik Yogyakarta maupun Batik Pekalongan.

Meskipun begitu, motif batiknya unik karena cenderung menghadirkan warna yang berani, biru, kuning, merah, hijau daun misalnya. Warnanya dihasilkan oleh pewarna alami soga seperti mengkudu dan tingi untuk warna merah. Daun tarum menghasilkan warna biru serta kulit mundu dan tawas untuk warna hijau.

Batik dengan warna berani merujuk pada jenis batik pesisiran. Di Madura sendiri juga ada jenis batik pedalaman yang hadir dengan gaya klasik dengan ornamen utama berwarna gelap. Umumnya motif batik di pulau Madura menghadirkan motif tumbuh-tumbuhan, binatang ataupun kombinasi dari keduanya.

Dalam hal visual, motif perbatikannya juga diperkaya dengan hadirnya garis-garis dominan. Dan, yang paling unik adalah salah satu proses pembuatannya yang dikenal sebagai batik gentongan. Ini adalah tradisi membatik merujuk pada proses pewarnaan dengan perendaman di sebuah wadah mirip gentong.

Batik gentongan khas Madura dikenal secara luas karena kekuatan warnanya yang mampu bertahan hingga puluhan tahun. Oleh karena itu harga umumnya lebih mahal jika dibandingkan dengan kain batik biasa. Hal ini juga dikarenakan oleh proses pembuatannya yang menghabiskan waktu hingga satu tahun.

Motif batik gentongan juga cukup rumit dan lebih detail. Untuk membuat satu warna proses perendaman setidaknya 6 minggu dalam gentong khusus. Hingga saat ini, tradisi membatik dengan teknik Gentongan masih dipertahankan di Madura, khususnya oleh pengrajin batik di daerah Tanjung Bumi, Bangkalan, Madura.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *