Batik Banyumas – Sekilas Sejarah dan Ciri Khas Motif Batik Banyumasan

Banyak daerah di provinsi Jawa Tengah yang menghasilkan karya batiknya sendiri. Kabupaten Banyumas yang beribu kota Purwokerto misalnya. Sebagai bagian wilayah budaya Banyumasan yang cukup berbeda dari budaya Jawa pada umumnya, produk Batik Banyumas pun menawarkan keunikan tersendiri.

Meski popularitas batik di Jawa Tengah lebih menonjolkan Batik Solo dan Batik Pekalongan, Batik Banyumasan juga istimewa. Lebih didominasi warna soga kemerahan dengan latar gading kemerahan. Latar kainnya sering menampilkan ragam hias geringsing, kawung, galaran, parang, dan kembang krokot.

Batik di Banyumas termasuk batik pedalaman yang dipengaruhi oleh batik gaya keraton, baik Batik Yogyakarta maupun Surakarta. Hal ini terlihat dari ragam hias sidoluhur yang juga banyak ditemukan dalam batik Banyumasan. Keunikan lainnya adalah kedua sisi (depan belakang) batik memiliki kualitas yang hampir sama.

Sekilas Sejarah Batik Banyumas

Merujuk dari berbagai sumber, batik di Kabupaten Banyumas berawal dari Sokaraja. Tradisi mbatik di sana dibawa oleh para pengikut Pangeran Diponegoro. Ketika Perang Diponegoro atau disebut juga Perang Jawa pada tahun (1825-1830) berakhir, mereka mengungsi ke berbagai daerah, salah satunya ke Banyumas.

Tersebutlah salah satu pengikut Pangeran Diponegoro, yakni Najendra yang memulai mengembangkan batik celup di daerah Sokaraja. Proses mbatik dilakukan di atas kain mori yang ditenun sendiri. Pewarnanya berasal dari alam, seperti pohon tom dan pohon mengkudu yang menghasilkan warna merah semu kuning.

Sama halnya dengan dunia perbatikan di daerah lain, Batik Banyumas juga mengalami pasang surut dalam perkembangannya. Bisnis batik di sana sempat berjaya pada kisaran tahun 1965-1970-an. Namun, mungkin karena kurangnya minat generasi muda terhadap batik, batik Banyumasan mengalami kesulitan berkembang.

Segala bentuk usaha pun dilakukan para pengrajin batik di sana. Inovasi dan kreasi mengalir untuk menghasilkan sesuatu yang baru yang diterima pasar, namun tanpa meninggalkan identitasnya. Dukungan Pemerintah Kabupaten Banyumas diwujudkan dalam pemakaian seragam batik oleh seluruh pegawai Pemkab.

Selain sentra batik di Sokaraja yang terus berproduksi hingga saat ini, ada juga beberapa sentra lain. Salah satu yang paling lengkap berada di jalan Mruyung di sekitar kompleks alun-alun kota Banyumas. Sentra batik di jalan tersebut juga memungkinkan pengunjung untuk melihat dan belajar membatik.

Perihal Motif Batik Banyumasan

Sebagai batik pedalaman, Batik Banyumasan banyak menampilkan motif tumbuh-tumbuhan dan hewan. Ini berkaitan dengan lingkungannya yang berada di kaki Gunung Slamet, gunung tertinggi di Jawa Tengah. Apa yang ditampilkan cenderung lugas dan tegas mewakili karakter masyarakatnya yang apa adanya.

Sekarsurya, Sidoluhung, Jahe Puger, Cempaka Mulya, Khantil, Ayam Puger, Madu Bronto, Jahe Srimpang, Lumbon (Lumbu), Sungai Serayu, Gunungan, Batu Waljinan, Kawung Jenggot, Dunia Baru, Satria Busana dan Pring Sedapur. Nama-nama yang disebutkan tersebut merupakan beberapa contoh motif Batik Banyumas.

Referensi:

  1. fitinline.com/art…
  2. img: produkbanyumas.co.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *