• sumber : geotimes.co.id

Suku Tengger, Jawa Timur – Sejarah Masyarakat di Kaki Gunung Bromo

posted in: Jawa, Jawa Timur, Sejarah | 0

Suku Tengger. Setelah berwisata ke pegunungan kaldera Tengger, tepatnya ke Gunung Bromo, saya menjadi tertarik untuk menuliskan artikel mengenai Suku Tengger yang merupakan suku pribumi dari kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru.

Dengan semakin populernya Gunung Bromo dan Semeru sebagai tujuan wisata dan pendakian, bisa jadi sebagian pembaca telah mengetahui sebagian mengenai suku tersebut atau paling tidak pernah mendengar mengenai keberadaannya. Artikel ini ditulis dengan harapan semoga bisa menjadi wawasan tambahan bagi semua yang saya rangkum dari berbagai sumber.

Suku Tengger telah menjadi Sub Suku Jawa setelah ditetapkan pada Sensus BPS tahun 2010 dengan populasi berkisar 500.000. Sebagian besar masyarakat Tengger menganut Agama Hindu, sedangkan sebagian kecil ada juga yang Beragama Islam, Budha dan Kristen.

Dalam keseharian, mereka berbicara menggunakan dialek atau bahasa Tengger. Secara linguistik bahasa tersebut termasuk rumpun bahasa Jawa ( turunan basa Kawi yang mempertahankan kalimat-kalimat kuno yang sudah tak digunakan lagi dalam Bahasa Jawa modern).

Sejarah Suku Tengger

Sejarah masyarakat Tengger bermula pada kisaran tahun 100 sebelum Masehi. Tersebutlah orang-orang Hindu Waisya yang teguh memeluk Agama Brahma yang sebelumnya banyak bertempat tinggal di daerah pantai yakni Pasuruan dan Probolinggo. Pada tahun 1426, pengaruh Agama Islam mulai masuk ke Pulau Jawa. Kenyataan ini membuat keberadaan mereka terdesak dan mulai mencari tempat baru yang sekiranya sulit untuk dijangkau oleh pendatang hingga sampailah mereka di Pegunungan Tengger.

Kelompok masyarakat Tengger banyak ditemukan di pedalaman Gunung Bromo tepatnya di daerah Probolinggo. Namun dengan semakin tersebarnya bahasa dan pola kehidupan sosial, Suku Tengger bisa juga kita dapati di Lumajang (Ranupane kecamatan Senduro), Malang (desa Ngadas kecamatan Poncokusumo), dan Pasuruan. Sementara itu, pusat kebudayaan aslinya adalah di sekitar pedalaman kaki Gunung Bromo.

Perubahan kepercayaan yang dianut masyarakat Tengger terjadi pada kisaran abad ke-16 yang diawali dengan datangnya orang-orang beragama Hindu Parsi (Persia). Dari sini, petangan-petangan atau ngelmu-ngelmu yang dimiliki orang Tengger masih dipengaruhi oleh pemujaan terhadap matahari, bulan, bintang-bintang sebagai pengendali dari keempat unsur utama : api, air, tanah, udara. Akan tetapi pada saat ini petangan dan ngelmu yang mereka miliki juga dilakukan oleh penduduk Tengger yang beragama Islam, karena nenek moyang mereka beragama Hindu Parsi.

Berbicara mengenai Suku Tengger kita dihadapkan pada suatu suku dengan budi pekerti yang luhur pada setiap aspek kehidupan. Gambaran sebuah ketaatan pada aturan dari sebuah keyakinan yang dipegangnya. Mereka juga yakin bahwa mereka adalah keturunan langsung Majapahit karena leluhur mereka adalah Putri Raja Majapahit (Roro Anteng) yang merupakan Istri dari Putra Brahmana (Joko Seger).

Banyak sumber yang mengatakan bahwa istilah Tengger sendiri adalah diambil dari nama belakang pasangan suami istri tersebut (Roro An-Teng dan Joko Se-Ger). Perasaan sebagai satu saudara dan satu keturunan Roro Anteng-Joko Seger itulah yang menyebabkan suku Tengger tidak menerapkan sistem kasta dalam kehidupan sehari-hari.

Selain itu, keberadaan Suku Tengger sangat dikaitkan dengan Upacara Yadnya Kasada atau Kasodo yang merupakan Hari Raya Mereka. Ritual tersebut bermula dari sebuah perjanjian dalam Legenda Roro Anteng dan Joko Seger. Adapun kisah tersebut telah saya rangkum dalam artikel pelengkap dari artikel ini yakni “Sejarah Ritual Kasada Masyarakat Tengger”.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *