• sumber : http://asatu.id/files/uploads/2018/01/sendratari-ramayana-e1517324334978.jpg

Sendratari Ramayana – Pelopor Sendratari di Indonesia

Sendratari Ramayana. Kesenian Jawa sangatlah bervariasi yang sebagian besar hadir dalam bentuk seni pertunjukan, baik drama, tari, maupun musik. Disamping itu, ada juga varian lain yang didalamnya mengandung ketiga unsur seni diatas, yakni Sendratari Ramayana di Candi Prambanan. Sebuah drama tari yang telah masuk dalam Guinness World Records sebagai tari kolosal yang paling banyak melibatkan penari sekaligus paling lama dan rutin digelar sejak tahun 1961 hingga sekarang (Pramesti, 2012 : 9).

Sendratari Ramayana atau disebut juga Ramayana Balet adalah drama tari yang disajikan secara kolosal yang seluruh ceritanya disuguhkan dalam rangkaian gerak tari. Tidak ada dialog dalam pertunjukan ini, kecuali sebatas penuturan sinden bersuara khas dan lembut untuk menggambarkan alur cerita melalui tembang bahasa Jawa. Dialog diganti oleh gerak-gerak gestikulasi untuk memvisualisasikan suatu makna melalui sikap-sikap, gerak tangan dan kepala.

Seperti namanya, lakon yang diangkat adalah cerita Ramayana seperti halnya yang tersaji dalam banyak kesenian Jawa, termasuk Wayang Kulit dan Wayang Wong. Epos Ramayana adalah sebuah kisah yang dikenal bukan hanya di Jawa, namun juga di negara-negara Asia, bahkan dikenal oleh sastrawan-sastrawan di seluruh dunia. Di Indonesia, Candi Prambanan mewakili kisah ini dalam bentuk relief yang kemudian dituangkan dalam bentuk visual menjadi Pertunjukan Sendratari Ramayana.

Sejarah Sendratari Ramayana

Sendratari Ramayana merupakan salah satu hasil dari gagasan untuk melaksanakan rancangan bangsa. Hal ini tertuang dalam ketetapan MPRS no 1/MPRS/1960 yang menyatakan “bahwa untuk membiayai pembangunanproyek-proyek pemerintah, diperlukan sumber biaya yang berasal dari sektor pariwisata”. Karena saat itu Pulau Bali telah penuh dan padat oleh turis, maka dicarilah daerah-daerah lain yang dirasa mampu memikat wisatawan mancanegara. Jawa Tengah, termasuk juga Daerah Istimewa Yogyakarta menjadi salah satu tempat yang akan dijadikan proyek pariwisata tersebut.

Dalam hal ini, Candi Prambanan sebagai tempat yang memiliki arti penting dalam perkembangan seni tari di Indonesia, di areanya akan dibangun panggung terbuka Roro Jonggrang. Di panggung itu nantinya, melalui gagasan Menteri G.P.H. Djatikoesoema akan digelar sebuah pertunjukan drama tari dengan mengusung wiracarita Ramayana. Gagasan tersebut tercetus setelah beliau menyaksikan pertunjukan Ballet Royale du Cambode di depan kuil Angkor Wat, Kamboja.

Istilah “sendratari” pertama kali dicetuskan oleh dramawan muda Yogyakarta, (alm) Anjar Asmara pada tahun 1961. Sementara itu, kisah Ramayana dipilih dengan pertimbangan bahwa wiracarita ini hampir ada di semua negara di Asia Tenggara. Pada tanggal 25 Mei 1961, untuk pertama kalinya seni pertunjukan dalam bentuk sendratari dipentaskan, mengisahkan Epos Ramayana dengan media tari dan Gamelan Jawa. Sendratari menjadi ciptaan baru dalam dunia pementasan seni pertunjukan di Indonesia.

“Melihat pertunjukan Sendratari Ramayana berarti menyaksikan kelahiran suatu babak baru di dalam sedjarah seni tari kita, yang merupakan impian dan segala keindahan. Demikianlah kesan dari pertundjukan ini untuk selama-lamanya sehingga sesuatu yang indah dan menakjubkan, salah satu puntjak dari kebahagiaan hidup tiap-tiap pentjinta seni.” (Anjar Asmara dalam Soeharso, 1970:70)

Sesuai dengan rencana awal untuk menghidupkan sektor pariwisata, lahirnya Sendratari Ramayana benar-benar berhasil membangkitkan industri pariwisata di Yogyakarta. Sebagai dampak dari popularitas Sendratari Ramayana Prambanan, lahir pula bentuk-bentuk pertunjukan sendratari serupa yang dikemas untuk wisatawan di berbagai tempat. Banyak pertunjukan Sendratari Ramayana yang juga digelar di keraton, hotel-hotel, restauran-restauran, dan Tempat Hiburan Rakyat (THR).

Meskipun begitu, Sendratari Ramayana Prambanan tetap menjadi yang paling menarik. Latar belakang Candi Prambanan menambah keeksotisan tersendiri pada pertunjukan dramatari tersebut, semua itu semakin sempurna dengan lampu latar yang menghujani pelataran panggung pementasan. Dengan segala nilai lebih dari pertunjukan yang ada disana serta keberlangsungannya sejak 1961 hingga saat ini, Sendratari Ramayana mendapatkan penghargaan rekor dunia Guinness World Records.

Perihal Epos Ramayana

Epos Ramayana merupakan warisan budaya yang diadaptasi dari khasanah sastra klasik India. Menurut Somvir, cerita Ramayana adalah sebuah tradisi yang hidup dan merupakan suatu kekuatan dari suatu warisan kuno untuk seluruh negara di Asia Selatan dan Asia Tenggara. Kisah Ramayana memiliki berbagai versi, namun secara garis besar wiracarita ini menceritakan tentang kisah perjalanan Rama dan Sinta dalam menjalani kehidupan cinta (Briko Alwitanto, 2008 : 1).

Kisah monumental ini diperkirakan berkaitan dengan dua suku India Utara pada Zaman Veda (sekitar abad X-XII sebelum masehi). Didalam cerita ini, nama keduanya adalah nama-nama kerajaan yang dipersatukan melalui pernikahan antara Rama sebagai pangeran dari Kosala dengan Sinta yang merupakan putri raja Videha, yakni Janaka. Versi tertua dari wiracarita ini diperkirakan ditulis oleh Resi Walmiki (valmiki) pada permulaan tahun Masehi.

Di Indonesia, wiracarita ini diduga berasal dari abad IX, dan bukti arkeologisnya terpahat pada relief candi Prambanan. Hal ini menunjukkan bahwa ada kemungkinan cerita Ramayana sudah diterjemahkan secara lisan dari bahasa Sansekerta ke bahasa Jawa Kuno sebelum candi tersebut didirikan. Selain di Prambanan, cerita Ramayana juga terpahat pada dinding candi Penataran di Jawa Timur, yang berasal dari abad XII-XIII, dan diduga sebagai prototipe dari Wayang Kulit Bali sekarang.

Dalam kitab Saridin, pengarang cerita Ramayana Jawa kuna adalah seorang pujangga bernama empu Pujwa pada masa pemerintahan raja Dendrayana dari negara Mamenang. Menurut cerita di Bali, empu Jogiswara yang mengarang kita tersebut pada tahun 1094 atau 1016 Caka, (Haryanto, 1988: 295). Di Indonesia, wiracarita Ramayana biasa disajikan dalam berbagai media seni, termasuk sastra, seni rupa, dan seni pertunjukan.

Cerita Ramayana Jawa yang biasanya dipertunjukkan dalam wayang kulit, wayang orang, langen mandra wanara, serta sendratari adalah bersumber dari serat Rama karya Yasadipura. Serat ini dipilih dengan pertimbangan bahwa karya inilah yang paling ideal bagi orang Jawa dengan alur cerita tidak terlalu berbelit-belit. Meskipun begitu, untuk seni pertunjukan, ada tiga versi yang biasa dipergunakan, yaitu Serat Rama, Rama Keling dan Serat Kandhaning Ringgit Purwa.

Penyajian Sendratari Ramayana

Sejak tahun 1967, episode dalam Sendratari Ramayana telah dipadatkan menjadi empat setelah sebelumnya sejak tahun 1961 mementaskan enam episode. Pemadatan tersebut menghilangkan episode Hanuman Duta dan Pembuatan Jembatan Menuju Alengka karena dirasa kurang menimbulkan klimaks dan tidak menarik perhatian penonton.

Episode yang masih ditampilkan hingga sekarang adalah Hilangnya Sita, Hanuman Duta, Gugurnya Kumbakarna, dan Api Suci Sita. Oleh orang Jawa, Sita biasa disebut dengan Sinta. Tiap episode biasa diawali dengan lantunan nyanyian peshinden. Nyanyian tersebut isinya memberitahukan kepada penonton bahwa pagelaran Ramayana selalu diselenggarakan pada bulan Purnama.

Sebelum cerita dimulai, ditampilkan terlebih dahulu prosesi delapan penari yang mengawal tujuh wanita pembawa sesaji. Setelah berada ditengah pentas, prajurit akan menari gagah, sementara para wanita meletakkan sesaji dan dupa di dekat gamelan. Para wanita kemudian duduk diantara penabuh gamelan untuk melanjutkan tugas sebagai vokalis atau warangga, sedangkan para prajurit keluar pentas.

Seorang pembawa acara di belakang panggung akan membacakan isi cerita sesuai dengan episode yang akan ditampilkan. Pembacaan isi cerita ini dicucapkan dalam bahasa Inggris disertai iringan musik dari gamelan. Penyajian biasanya dimulai dari pukul 19.00 dan berakhir pada pukul 21.00.

Selain disajikan melalui pembagian episode, sejak tahun 1966 sendratari juga disajikan dalam bentuk cerita utuh yang ditangani oleh Yayasan Roro Jonggrang serta grup-gurp tari lainnya. Penampilan cerita utuh umumnya menghabiskan waktu dua jam, dengan pemadatan keempat episode diawali adegan sayembara memperebutkan Sita yang dimenangkan oleh Rama.

Dalam hal ini, Yayasan Roro Jonggrang dapat menampilkan cerita secara episode maupun cerita utuh, sedangkan untuk grup hanya diperbolehkan menampilkan cerita utuh. Grup lain yang tampil di panggung ini bergiliran, selain Yayasan Roro Jonggrang grup lainnya antara lain: Cahya Gumelar, Kasanggit, Guwawijaya, Sekar Puri, Wisnu Murti, dan OMM.

Pada 15 Oktober 2012, Sendratari Ramayana Prambanan mementaskan episode Api Suci secara kolosal. Pementasan inilah yang mendapatkan penghargaan Guinness World Records sebagai pentas tari kolosal Ramayana yang paling banyak melibatkan penari sekaligus yang paling lama dan rutin digelar sejak tahun 1961. Dengan durasi kurang lebih 25 menit, pementasan episode yang disutradarai oleh Timbul Haryono ini digelar di malam hari di panggung terbuka.

Pementasan episode Api Suci Kolosal melibatkan 12 pemain utama dan pembantu, 48 pemeran raksasa, 56 pemeran kera, 16 penari, 28 pemeran setan, dan 70 pemeran api. Penampilan dengan jumlah penari terbanyak dalam satu panggung ini baru pertama kali dilakukan sejak 1961, biasanya dalam satu panggung penari hanya berjumlah 100-150 orang.

Gerak, Tata Busana & Rias

Dalam Sendratari Ramayana, gerakan tari mengacu pada karakteristik gerak Wayang Wong. Pada awalnya, sendratari ini didominasi oleh gaya tari Surakarta dengan sedikit teknik gerak tari gaya Yogyakarta. Dominasi gaya Surakarta pada awal perkembangan Sendratari Ramayana disebabkan oleh koreografer yang ikut dalam proyek awal adalah ahli tari di Surakarta.

Selanjutnya, sejak tampilnya penari muda dari Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI) Yogyakarta, perlahan pengaruh gaya Yogyakarta dan daerah lain pun masuk. Sebagai dampaknya, saat ini di Jawa Tengah terdapat tiga gaya sendratari, yakni gaya Prambanan, gaya Surakarta dan gaya Yogyakarta.

Dalam hal tata busana, Sendratari Ramayana masih mengacu pada Wayang Wong gaya Surakarta, tapi lebih sederhana agar penari lebih leluasa bergerak. Sebagai misal adalah atribut hiasan kepala mengacu pada reliefe Ramayana di Candi Prambanan. Tentara kera menggunakan cat untuk warna kulit.

Sementara itu, warna merah, baik pada selendang atau sampur dan rias pada muka, dikenakan para raksasa atau tokoh-tokoh besar. Busana Rama ada dua, episode pertama menggunakan topong berwarna hitam, adapun pada episode kedua dan selanjutnya memakai mahkota yang biasa digunakan seorang raja.

Kain yang digunakan sebagian besar bermotif batik parang, selain juga ada motiv batik kawung. Penggunaan motif batik parang masih mengacu pada ketentuan istana, motif parang rusak barong besar untuk raja, dan motif parang rusak gendreh sedang untuk ksatria halus, dan motif parang rusak klithik untuk para putri.

Pada adegan Kumbakarna maju perang, ia mengenakan kain putih dipundak sebagai lambang kesucian dan ksatria yang berbudi luhur untuk menggambarkan bahwa ia berperang bukan membela Rahwana.

Dalam hal tata rias, secara umum tidak banyak berbeda dengan riasan pada Wayang Wong. Hal ini dikarenakan riasan tidak banyak berpengaruh pada gerak tari, gerak muka, dan mimik dalam panggung terbuka berukuran besar, dimana penonton duduk jauh dan sulit melihat mimik penari secara detail.

Tata rias umumnya berfungsi untuk penggambaran suatu tokoh. Di Indonesia, muka Rama dan Laksmana berwarna kuning natural. Hal ini berbeda dengan Myanmar, Thailand, Kamboja, dan Malaysia yang merias muka Rama dengan warna hijau kebiru-biruan, sementara Laksmana berwarna kuning.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *