Seni Kriya dan Kerajinan – Pengertian dan Perbedaan (Seni Rupa Terapan)

Berdasarkan fungsinya, seni rupa terbagi menjadi dua, yakni seni rupa murni dan seni rupa terapan. Seni rupa murni terbatas pada karya seni yang tercipta untuk dinikmati saja, tanpa kepentingan lain. Sementara itu, seni rupa terapan (seni kriya) selain indah juga bernilai fungsional untuk memenuhi kebutuhan manusia.

Kriya atau yang sering disamakan dengan kerajinan adalah cabang seni rupa yang erat kaitannya dengan keluhuran akar budaya, mengusung nilai tradisi yang bermutu tinggi dan adiluhung. Kreatifitas dan inovasi memungkinkan kriya tumbuh dan berkembang memenuhi kebutuhan fungsional maupun non-fungsional.

Pengertian Seni Kriya

Ketika merujuk pada Terminologi dan Perwujudan Seni Kriya Masa Lalu dan Masa Kini, sebuah Pendekatan Historis-Arkeologis (2002) karya Timbul Haryono, istilah kriya secara etimologis berakar dari kata “Kr” dalam bahasa Sanskerta. Artinya adalah “mengerjakan“, dan dari akar kata itulah muncul kata “karya, kriya, dan kerja“.

Mengenai pengertian kriya, FSRD ITB menyebut kriya sebagai bidang keilmuan yang mempelajari pengetahuan, keterampilan, dan kreatifitas berkarya rupa, yang bertolak dari pendekatan medium, kepekaan estetik, kebutuhan keseharian (utiliatrian), dan mengandalkan keterampilan manual (manual dexterity).

Selanjutnya sebagai seni, Timur Raharjo dalam Seni Kriya dan Kerajinan (2011) memaknainya sebagai cabang seni rupa yang memiliki akar kuat, yakni nilai tradisi yang bermutu tinggi atau adiluhung. Kriya juga berarti seni yang dikerjakan secara manual atau dibantu alat lain sebagai benda berguna bagi manusia (T. Bahtiar).

Perbedaan Kriya dan Kerajinan

Dalam konteks masa lalu, pengertian kriya dan kerajinan berbeda karena adanya stratifikasi sosial yang memunculkan dualisme budaya. Kriya identik dengan budaya agung keraton dan menjadi istilah untuk menyebut karya abdi dalem (kriyawan). Sedangkan kerajinan termasuk budaya alit sebagai karya dari perajin. 

Menurut Gustami SP, kriya adalah seni berkualitas tinggi dengan craftmanship tinggi. Tak hanya mengandalkan intensitas rajin, namun juga sarat nilai estetika dan skill berkualitas. Adapun kerajinan terkesan kasar dan tidak tuntas. Misal: pembuatan keris dan pisau jauh berbeda, baik proses, bahan dan skill pembuatnya.

Lahir di lingkungan istana, seni rupa kriya merupakan kreasi para Empu yang sangat mementingkan nilai keindahan dan skill yang tinggi. Kerajinan yang terlahir di luar tembok keraton lebih mementingkan sisi fungsi dan kegunaannya untuk memenuhi kebutuhan praktis masyarakat. Pembuat kerajinan lazim disebut Pandhe.

Dalam kehidupan sosial, perbedaan kriya dan kerajinan terkesan tipis karena sama-sama menggunakan keterampilan tangan. Karena cenderung idealis, produksi kriya relatif tidak massal. Berbeda dengan kerajinan yang bernilai ekonomis sehingga produksinya bisa dalam jumlah besar dan tentu melibatkan banyak perajin.

Melihat pada perbedaan di atas, karya seni rupa kriya bisa saja masuk dalam kategori kerajinan tergantung kadar estetika, kegunaan, dll. Jenis-jenis kriya dan kerajinan bergantung pada bahan dasar pembuatannya. Contohnya: kriya tekstil (berbahan kapas), kriya kayu, kriya keramik, kriya logam, kriya anyaman (rotan), dll.

Referensi:

  1. journal.isi-padangpan…
  2. 1digilib.isi.ac.id/1073/1…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *