Candi Ratu Boko – Antara Kedamaian dan Kemolekan Matahari Terbenam

Candi Ratu Boko. Istilah candi dalam bahasa Indonesia lebih dimaknai sebagai bangunan tempat ibadah peninggalan purbakala Hindu-Buddha. Namun, bagaimana dengan Ratu Boko? yang di lokasinya tertulis “keraton” di awal namanya. Menurut Legenda Roro Jonggrang, situs ini adalah sisa-sisa reruntuhan kerajaan Ratu atau Prabu Boko, ayah “gadis langsing” tersebut.

Berdasarkan legenda itu pula situs purbakala ini terhubung dengan Candi Prambanan dan Candi Sewu. Adapun ketika merujuk pada prasasti yang ditemukan, nama asli kompleks ini adalah Abhayagiriwihara (biara di bukit penuh kedamaian) sehingga benar juga bahwa ini adalah kompleks candi. Ada juga yang mengatakan, Ratu Boko merupakan bagian dari kompleks kerajaan yang difungsikan sebagai tempat ibadah khusus keluarga raja.

Sebuah bangunan arsitektur purba, sejarahnya masih berselimutkan misteri. Terlebih jika ada dongeng lokal yang menyertainya. Jadi, jika sobat pembaca adalah traveler penyuka sejarah dan budaya, datangi saja Candi Ratu Boko. Kagumi arsitekturnya sembari mencari tahu info lebih lanjut perihal sejarahnya. Artikel ini akan menjadi pengantar maya petualangan wisata Anda. Sebagai bekal informasi, pastikan saja tuntas membacanya.

Candi Ratu Boko Jogja
sumber: @takeatriptours

Sekilas Sejarah Keraton Ratu Boko

Candi Ratu Boko atau Keraton Ratu Boko diperkirakan mulai dibangun oleh raja dari Wangsa Syailendra pada kisaran abad ke-8. Prasasti Abhayagiriwihara yang berangka tahun 792 M adalah bukti tertulis yang ditemukan di situs ini. Abhaya berarti damai atau bebas dari bahaya, giri berarti gunung atau bukit, dan wihara adalah tempat ibadah penganut agama Buddha. Abhayagiriwihara berarti biara di atas bukit penuh kedamaian.

Dalam prasasti itu disebutkan bahwa Raja Tejahpurnapane Panamkarana telah memerintahkan pembangunan Abhayagiriwihara. Raja yang disebut diduga adalah Rakai Panangkaran (746-784 M). Ada yang mengatakan Rakai Penangkaran mengundurkan diri sebagai raja karena menghendaki ketenangan rohani. Ia ingin memusatkan pikiran pada masalah keagamaan sehingga dibangunlah wihara bernama Abhayagiri pada tahun 792 M.

Abhayagiri merupakan bangunan berlatar belakang agama Buddha karena Rakai Penangkaran adalah penganut Buddha. Hal ini dibuktikan dengan adanya Arca Dyani Buddha. Namun, karena kemudian hari kekuasaan diambil alih oleh raja-raja Mataram Hindu, bangunan ini pun selanjutnya dipengaruhi oleh Hinduisme dan Buddhisme. Unsur-unsur Hindu bisa diketahui dengan adanya Arca Durga, Ganesha, dan Yoni.

Menariknya, kompleks yang dulunya dibangun sebagai tempat peribadatan ini diduga diubah menjadi keraton. Dilengkapi juga dengan benteng pertahanan bagi raja bawahan yang bernama Rakai Walaing Pu Kumbayoni (898-908 M). Nama Abhayagiri pun diganti menjadi Kraton Walaing. Menurut Prasasti Siwagrha, tempat ini disebut sebagai kubu pertahanan yang terdiri atas tumpukan ratusan batu oleh Balaputra.

Meski demikian, tidak sedikit yang meragukan bahwa pernah ada istana di dataran ini. Terlebih jika dihubungkan dengan Legenda Ratu Boko. Salah satu alasan yang mendasari keraguan tersebut adalah batuan dasar yang merupakan batuan kapur. Batuan kapur sangat berpori, sehingga air tidak bisa bertahan lama. Jika pernah ada kerajaan, tempat ini harusnya menampung ratusan orang yang tinggal.

Pada era 1950an, dataran ini hanya ditinggal beberapa keluarga petani. Dan, masalah utama mereka adalah kekurangan air. Jika memang tetap dihubungkan dengan kerajaan, ada asumsi yang lebih masuk akal, yakni Ratu Boko merupakan bagian dari kerajaan yang luas. Kegiatan kerajaan dapat dilakukan di dataran rendah, sementara di dataran tinggi digunakan untuk ritual khusus keluarga kerajaan.

Sunset Ratu Boko
sumber: @daysouttravel

Daya Tarik & Aktivitas di Ratu Boko

Keraton Ratu Boko merupakan kompleks sisa-sisa bangunan megah di sebuah bukit pada ketinggian 196 mdpl. Di sini setiap yang datang akan merasakan kedamaian. Hal ini senada dengan nama prasastinya yang bermakna biara di bukit penuh kedamaian. Larut dalam ketenangan, sementara sejauh mata memandang hanya keindahan, lanskap kota Yogyakarta, Candi Prambanan yang berlatar belakang Gunung Merapi.

Area keseluruhannya adalah 25 H dan terbagi menjadi empat bagian. Di bagian tengah terdapat bangunan gapura utama, area lapang, Pasabean, Candi Pembakaran, kolam, dan batu berumpak. Di bagian tenggara, ada pendopo, balai-balai, beberapa candi, kolam, serta kompleks Keputren. Di bagian timurnya ada kompleks goa, stupa Buddha dan juga memiliki kolam. Sementara itu, di bagian barat hanya berupa perbukitan.

Dari pintu masuk, wisatawan biasa memulai penjelajahan dengan meniti tangga hingga tiba di gapura. Sejauh ini gapura Candi Ratu Boko merupakan spot paling ikonik yang sering dijadikan latar belakang untuk berswafoto. Bagi penggemar fotografi, banyak sekali sudut-sudut indah yang bisa diambil gambarnya. Momen terbaiknya adalah ketika sore hari menjelang senja. Sunset di Ratu Boko adalah salah satu yang terbaik di Jogja.

Setelah memasuki gapura, hamparan rumput hijau dengan satu pohon besar menyambut dengan nuansa teduh. Area ini lazim dipilih sebagai tempat bersantai setelah puas berkeliling di Keraton Ratu Boko. Dari sini, sobat traveler bisa lanjutkan menuju ke Paseban serta aula seperti bekas pendopo kerajaan. Berjalanlah lebih ke dalam lagi untuk menemukan reruntuhan batu yang disusun sedemikian rupa.

Masih banyak spot yang bisa di eksplorasi. Jangan lupa juga mengunjungi sebuah sumur penuh misteri di arah tenggara Candi Pembakaran. Konon, nama sumur tersebut adalah Amerta Mantana atau air suci bermantra. Banyak mitos sehubungan dengan sumur tersebut, salah satunya adalah keberuntungan bagi yang memanfaatkannya. Kunjungi juga dua goa yang ada, yakni Goa Lanang di atas dan Goa Wadon di bagian bawahnya.

Situs Ratu Boko adalah bangunan purbakala yang memiliki keunikan tersendiri dibanding dengan situs-situs peninggalan lainnya. Secara keseluruhan tidak berupa candi atau kuil, melainkan seperti sebuah tempat tinggal. Pastikan menelusurinya lebih dalam agar mendapatkan yang lebih banyak lagi. Waktu kunjungan terbaik adalah sore hari. Sekitar pukul 17.00 WIB, keindahan matahari terbenam sudah bisa dinikmati di sini.


Fasilitas Wisata Situs Ratu Boko

Bersama dengan Candi Borobudur dan Candi Prambanan, Ratu Boko masuk dalam satu BUMN, yakni PT Taman Wisata Candi. Oleh karenanya, situs ini pun telah mengalami penataan ulang untuk dijadikan tempat pendidikan dan kegiatan budaya. Beberapa bangunan tambahan bisa dilihat di depan gapura, yakni restoran dan Plaza Andrawina. Selain itu, ada juga camping ground dan fasilitas trekking, paket edukatif arkeologi.

Fasilitas lain yang tersedia di kompleks Keraton Boko adalah tempat ibadah berupa Mushola, kios-kios souvenir dan gazebo. Lahan parkirnya pun luas, serta terdapat sejumlah toilet atau kamar mandi umum. Sementara itu untuk akomodasi, dengan mudah ditemukan beragam jenis penginapan, seperti hotel, guest house dan homestay. Penginapan terdekat hanya berjarak kurang dari satu kilometer saja.

Keraton Ratu Boko di Yogyakarta
sumber: visitingjogja.com

Harga Tiket Masuk Candi Ratu Boko

KeteranganHarga
HTM WisnusRp. 40.000
HTM Wisman25 Dollar (± Rp 354 ribu)
Parkir Roda 2Rp. 5.000
Parkir Roda 4Rp. 10.000
Opsi Penginapan Lihat Daftar
Note: harga tidak selalu akurat, bisa berubah sewaktu-waktu.

Peta Lokasi & Rute Candi Ratu Boko

Keraton Ratu Boko berada di Gatak, Bokoharjo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, DIY. Sekitar 16 km dari pusat kota Yogyakarta atau sekitar 3 km dari Candi Prambanan. Rute bisa dimulai dari Jl Laksda Adisutjipto dan Jl Raya Solo – Yogya ke arah timur. Di persimpangan Pasar Prambanan, belok kanan ke Jl Prambanan – Piyungan. Manfaatkan peta berikut untuk mempermudah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *