• sumber : tradisikita.my.id

Tari Angguk, Yogyakarta – Hasil Perpaduan Unik Dari Tiga Budaya

posted in: Jawa, Seni dan Budaya, Tari, Yogyakarta | 0

Tari Angguk. Sungguh menarik ketika melihat belasan penari cantik menarikan tarian tradisional Yogyakarta namun dengan menggunakan kostum tari ala militer zaman Belanda, kacamata hitam, kaos kaki serta pakaian bercorak kebelanda-belandaan.

Itulah Tari Angguk, sebuah tarian rakyat yang sangat simbolis dari Kulon Progo, Yogyakarta yang dikatakan sebagai pengembangan dari Tari Dolalak dari Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Ditilik dari tata busana yang ada, bisa diperkirakan bahwa tarian ini terlahir di zaman penjajahan Belanda di Indonesia. Sebuah kreasi seni di masyarakat yang tentunya sarat dengan nilai-nilai budaya.

Sejarah Tari Angguk

Sebagai tarian rakyat, Tari Angguk terlahir sebagai dampak pengolahan aspek sosial, budaya dan sejarah yang tumbuh dan berkembang di masyarakat. Mengusung sejumlah nilai-nilai tertentu termasuk sebagai sarana interaksi masyarakat dan hiburan. Terlahir sebagai respon terhadap beragam unsur yang ada saat itu hingga terbentuklah suatu tarian sebagai salah satu identitas dari kebudayaan Kabupaten Kulon Progo.

Tari Dolalak dikatakan sebagai cikal bakal terlahirnya Tarian Angguk. Ketika dilihat dari penamaannya, istilah “Dolalak” konon diambil dari modus diatonis Barat (Do Re Mi Fa Sol La Si) dengan mengambil nada Do dan La. Sedangkan untuk istilah “Angguk” diambil dari gerakan yang paling mendominasi pada tarian yakni mengangguk-anggukan kepala. Gerakan tarian hingga Kostum yang dikenakannya pun tidaklah terlepas dari unsur-unsur yang ikut membentuk sejarahnya. Terinspirasi oleh gerakan dan seragam dari Serdadu Belanda.

Ketika Merujuk dari beberapa sumber, sejarah Tari Angguk dimulai pada kisaran tahun 1950-an yang berarti hanya selisih beberapa tahun sejak Indonesia Merdeka. Disaat nuansa penjajahan masih sangat terasa, Tari Angguk tercipta sebagai tarian pergaulan dikalangan remaja yang terutama digelar sehabis musim panen sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan.

Pada awalnya tarian ini ditarikan oleh kaum laki-laki. Adapun pada kisaran tahun 1970 terjadilah pergeseran sehingga tarian ini ditarikan oleh kaum perempuan. Belum jelas alasan yang melatarbelakangi perubahan tersebut, namun jika dipertimbangkan dari segi hiburan dan komersil, tidak bisa dipungkiri bahwa penari perempuan lebih menarik ketimbang laki-laki.

Pelaksanaan Tari Angguk

Dalam segi penyajian, Tari Angguk terbagi menjadi dua jenis yakni Tari Ambyakan dan Tari Pasangan. Tari Ambyakan dimainkan oleh banyak penari hingga mencapai 20 penari, yang juga masih terbagi menjadi 3 sub jenis yakni Tari Bakti, Tari Srokal dan Tari Penutup.

Adapun Tari Pasangan ditarikan oleh para penari dengan jumlah genap dan berpasangan-pasangan. Jenis tari ini terbagi menjadi delapan sub jenis tari yakni Tari Mandaroka, Tari Kamudaan, Tari Cikalo Ado, Tari Layung-layung, Tari Intik-intik, Tari Saya-cari, Tari Jalan-jalan dan Tari Robisari.

Dalam setiap sajian Tari Angguk akan selalu disisipkan ajaran-ajaran moral yang disampaikan oleh para vokalis dalam bentuk Pantun, Petuah kehidupan, Pendidikan dan lain-lain. Dalam setiap penampilannya, Tari Angguk biasa membawakan cerita yang ada dalam Serat Ambiyo yakni tentang Umarmoyo-Umarmadi dan Wong Agung Jayengrono.

Peran yang dibawakan terbagi menjadi dua macam, yakni peran utama yang terdiri dari penggambaran Tokoh Umarmoyo, Sekar Mawar, Dewi Kuning-kuning, Air Gunung, Trisnowati dan Awang-awang. Sementara itu, penari selain itu berperan sebagai pengiring.

Tari Angguk disajikan dengan durasi sekitar 3 hingga 7 jam yang dimainkan oleh 10-20 penari beserta pengrawit (pengiring). Hanya saja pada keadaan tertentu durasi sajian tarian ini bisa lebih singkat yakni 15-30 menit saja.

Nuansa akulturasi sangatlah kentara melalui instrumen pengiring yang memadukan budaya Islam, Jawa dan Barat. Alat musik yang digunakan diantaranya adalah Bedug, Rebana, Kendang Sunda, Kendang Batangan, Bass Elektrik, Snare Drum, Keyboard, Symbal dan Tamborin. Selebihnya terdapat vokalis yang terdiri dari 2 laki-laki dan 1 perempuan.

Keunikan Tari Angguk

Tari Angguk adalah sebuah perpaduan cantik tiga budaya. Unsur Islam terlihat disaat Shalawat Nabi selalu dijadikan pembuka pertunjukan. Budaya Islam juga terwakili oleh beberapa alat musik pengiring yang digunakan. Budaya Barat (Belanda) terlihat pada gerakan dan kostum para penari. Hanya saja tidak selalu mirip, karena para penari Angguk memakai celana pendek dan bukan lazimnya seragam militer yang biasa memakai celana panjang.

Adapun kesan Budaya Timur bisa terlihat pada gerakan tari yang cenderung menitikberatkan pada keluwesan serta alur cerita yang dibawakan adalah diambil dari Serat Ambiyo tentang Umarmoyo-Umarmadi dan Wong Agung Jayengrono.

Selain itu yang menjadikan tarian ini menarik adalah adanya unsur mistis yang ikut mewarnainya. Sebelum pertunjukan akan selalu diadakan ritual sesaji di sekitar lokasi pementasan. Aura mistis akan semakin kentara disaat salah satu penari mengalami trance atau kerasukan yang terkadang sampai memakan sesajen yang disediakan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *