• sumber : puterawillian.blogspot.com

Angklung Bungko – Kesenian Tari Tradisional Cirebon, Jawa Barat

Angklung Bungko adalah seni tari yang tumbuh besar di daerah Bungko, Cirebon Utara. Itulah mengapa pada penamaan tarian ini mengambil nama daerah tersebut. Awalnya ini adalah kesenian musik ritmis bermediakan kentongan atau kohkol yang terbuat dari potongan ruas bambu.

Pada perkembangan selanjutnya, seni ini menjadi sebuah tarian dengan diiringi alat musik gendang, angklung, tutukan, klenong, dan gong. Meskipun hingga saat ini belum diketahui siapa yang pertama kali menciptakannya, awal kelahirannya diperkirakan pada abad ke-17 yakni setelah wafatnya Sunan Gunung Jati.

Sejarah Tari Angklung Bungko

Dalam sejarahnya disebutkan bahwa kesenian ini tercipta sebagai wujud kegembiraan masyarakat Bungko ketika berhasil memenangkan peperangan melawan pasukan Pangeran Pekik (Ki Ageng Petakan).

Kemenangan tersebut dimotori oleh Ki Ageng Bungko atau Ki Gede Bungko. Ia adalah Senopati Sarwajala (Panglima Angkatan Laut) di Kesultanan Cirebon yang memiliki pengetahuan dan taktik tempur yang tinggi serta keberanian yang luar biasa.

Seperti telah umum diketahui bahwa perkembangan suatu kesenian tidaklah terlepas dari perubahan-perubahan yang terjadi pada kesenian tersebut. Hal ini juga berlaku pada musik ritmis yang tercipta ditengah-tengah masyarakat Bungko ini.

Perubahan-perubahan tersebut berkenaan dengan pergantian beberapa alat musik yang menyertainya. Perkusi kentongan telah digantikan dengan Angklung yang ditambahkan pula instrumen Reog atau Dogdog. Pertunjukkan Angklung Bungko pun berubah bentuk menjadi mirip dengan seni pertunjukkan reog di Priangan (Sunda).

Tetapi tidak lama kemudian, Angklung Bungko pun mengalami perubahan kembali dengan membuang instrumen dogdog dan di ganti dengan kendang dan gong, kemudian memasukkan unsur tari. Dengan masuknya unsur tari, maka sejak saat itulah Angklung Bungko menjadi seni pertunjukkan musik dan tari.

Gerak, Busana dan Fungsi Tari

Gerakan tari ini sangatlah sesuai dengan sejarah penciptaannya. Lebih kentara dengan penggambaran peperangan saat masyarakat pemilik kesenian mematahkan serangan musuh yakni pasukan Pangeran Pekik. Tari ini bisa dikatakan sebagai tari perang dengan filosofi yang cukup dalam bagi masyarakat Bungko yang menggambarkan sebuah totalitas kehidupan komunal yang demokratis.

Tari Angklung Bungko dapat kita lihat pada upacara adat Ngunjung, yaitu upacara untuk berkunjung atau khaul kepada makam leluhur. Ritual Ngunjung ada intinya adalah melakukan do’a bersama sebagai tanda bakti seorang anak kepada orang tua.

Penataan rias dan busana untuk para pemain Angklung Bungko yang asli adalah; Para Penari dipakaikan Celana Sontog, Kain Batik, Baju Rompi. Sedangkan untuk aksesorisnya mereka mengenakan Kaca Mata Hitam serta Ikat Kepala. Adapun untuk pemain musik mereka menggunakan Celana Sontog, Kain Batik, Baju Komboran serta Ikat Kepala sebagai aksesorisnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *