• sumber : index-information.blogspot.com

Tari Baris – Gambaran Ketangguhan Prajurit Bali

posted in: Bali, Sejarah, Seni dan Budaya, Tari | 0

Tari Baris adalah salah satu tarian tradisional Bali yang identik atau ditarikan oleh kaum lelaki. Sebagai penggambaran ketangguhan seorang prajurit bali yang hendak pergi berperang, gambaran kejantanan pahlawan Bali dan menunjukkan kemantapan kepemimpinannya.

Perihal penamaan dari tarian ini, dalam bahasa bali istilah “Baris” memiliki arti yang sama dengan “Baris” yang ada dalam Bahasa Indonesia. Penamaan ini merujuk pada barisan prajurit yang berbakti sepenuhnya pada seorang raja. Dikatakan bahwa inilah jenis tari yang pertama kali diajarkan kepada setiap anak laki-laki sebelum mereka beranjak dewasa.

Sejarah Tari Baris

Dalam naskah Kidung Sunda disebutkan bahwa sejarah tari ini bermula pada tahun 1550 Masehi atau kisaran abad ke-16. Disebutkan pula mengenai adanya tujuh jenis Tarian Baris yang dibawakan pada upacara kremasi di Jawa Timur. Seperti halnya tarian tradisional lain, pada awalnya, tarian ini difungsikan sebagai sarana ritual keagamaan.

Jenis tari baris yang berkaitan dengan ritual keagamaan disebut Tari Baris Upacara atau Tari Baris Gede. Tari baris jenis ini dibawakan secara kelompok oleh delapan sampai 40 orang. Semuanya menggunakan berbagai pernak-pernik pelengkap berupa senjata tradisional yang bervariasi tergantung asal daerah dari setiap tarian.

Adapun pada kisaran abad-19, perkembangan Tari Baris juga ditandai dengan munculnya varian dari tarian tersebut yakni Tari Baris Tunggal yang hanya dibawakan oleh 1 atau 2 penari saja.

Berbeda dengan tari yang pada awalnya difungsikan sebagai sarana ritual dan bersifat relegius. Tarian Baris Tunggal lebih cenderung difungsikan sebagai tarian non-sakral atau dipentaskan sebagai hiburan rakyat serta identik dengan gerakan yang lebih energik dan busana yang lebih berwarna.

Gerakan  & Busana

Seperti yang telah disebutkan diatas, gerakan-gerakan pada tari baris adalah penggambaran ketangguhan para prajurit bali di masa lalu. Kedua pundak penari diangkat hingga hampir setinggi telinga serta kedua lengan yang nyaris selalu pada posisi horizontal dengan gerak yang tegas.

Gerakan khas lainnya yang ada pada tari tradisional ini adalah Selendet atau gerak delik mata penari yang senantiasa berubah-ubah. Gerakan ini menggambarkan sifat para prajurit yang senantiasa awas terhadap situasi di sekitarnya.

Dalam hal tata busana, para penari yang kesemuanya pria dipakaikan mahkota berbentuk segi tiga dihiasi kulit kerang yang berjajar vertikal di bagian atasnya. Selain itu, tubuh penari dibungkus kostum berwarna-warni yang terlihat longgar, menjuntai ke bawah, dan bertumpu pada bagian pundak.

Kostum atau busana ini akan mengembang saat penari melakukan gerakan memutar dengan satu kaki, memberikan efek dramatis dalam koreografi yang dibawakan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *