Tari Bedana Lampung – Seni Sebagai Simbol Keramahan dan Keterbukaan

Tari Bedana. Seperti pada umumnya masyarakat di Indonesia, kesenian, terutama tari demikian melekat dalam kesejarahan masyarakat di Provinsi Lampung. Tarian ulun lampung (orang Lampung) sangatlah beragam. Masing-masing hidup mentradisi dan beberapa di antaranya ada yang bertransformasi menjadi tarian kreasi.

Sebagian Tari Daerah Lampung telah dituliskan sebelumnya, seperti Tari Bedayo Tulang Bawang dan Tari Cangget. Selain dua tarian telah disebutkan, ada juga Tari Bedana yang mencerminkan tata kehidupan masyarakat Lampung. Menjadi simbol tradisi yang sangat luas tentang pandangan hidup serta alam lingkungan yang ramah dan terbuka.

Bedana merupakan tari yang cenderung berkembang hingga tidak menutup kemungkinan dikreasikan. Jika awalnya ditarikan oleh laki-laki secara berpasangan dan hanya disaksikan keluarga saat salah satu anggotanya hatam Al-Quran. Kini, bisa dibawakan oleh pasangan laki-laki dan perempuan serta dapat disaksikan oleh masyarakat umum.

Sekilas Sejarah Tari Bedana

Tari Bedana bisa dikatakan sebagai Zapin dalam kebudayaan masyarakat Lampung. Sama halnya dengan Jepin di Kalimantan, Dana di Bengkulu atau Jipeng di Sulawesi. Tari ini diperkirakan muncul bersamaan dengan masuknya agama Islam pada abad ke-14. Terlahir di daerah pesisir sebagai buah percampuran dua kebudayaan yakni Lampung dan Arab.

Bedana mulai eksis dan dipelajari baru di awal kemerdekaan tahun 1950-an. Namun, saat itu belum digunakan sebagai sarana tari pelengkap pesta adat (nyambai). Selanjutnya, terjadi pergeseran pada tahun 1980-an ketika kaum muda lebih tertarik dengan kebudayaan Eropa. Tari ini pun tenggelam dan hanya sedikit kampung adat yang mempertahankannya.

Melihat kenyataan tersebut, sekitar tahun 1988 Taman Budaya Provinsi Lampung melakukan revitalisasi terhadap tarian Bedana. Upaya ini juga memungkinkan terjadinya banyak perubahan, misalnya pada gerak yang sebelumnya 13 dipadatkan menjadi 9 gerak. Demikian juga dengan pola lantai, durasi, rias dan busana serta alat musik pengiring tari.

Seperti dikatakan sebelumnya, awalnya Tari Bedana merupakan tari yang dibawakan oleh laki-laki yang hanya disaksikan oleh pihak keluarga saja. Disajikan ketika salah seorang anggota keluarga hatam Al-Quran. Perkembangan memungkinkan tari ini ditarikan oleh laki-laki dan perempuan secara berpasangan dan dipertunjukkan di depan masyarakat umum.

Ragam Gerak & Tata Busana

Ragam gerak tari sebenarnya ada 13 yakni Takzim, Kesekh injing, Lapah, Motokh, Laju/motokh laju, Mulokh/motokh, Pecoh, Susun sirih, Kesekh gantung, Motokh mejong, Lapah mundokh, Tahtim, dan Tahto. Setelah direvitalisasi menjadi 9, yakni Tahtim, Khesek Injing, Khesekh Gantung, Ayun, Ayun Gantung, Jimpang, Humbak Moloh, Belitut, dan Gelek.

Busana penari Tari Bedana lama sangat sederhana. Hanya berupa busana seperti yang digunakan sehari-hari atau seperti pakaian yang dikenakan ketika sholat. Upaya revitalisasi menjadikan busana penari lebih beragam dan diusahakan agar lebih menarik dengan warna-warna cerah berhias aksesoris yang menunjukkan ciri khas daerah Lampung.

Untuk saat ini, penari laki-laki mengenakan peci, kawai teluk belangan, kain bidak gantung/betumpal sebatas lutut dan bulu sarattei. Penari wanita memakai penekan rambut, belatung tebak, gaharu kembang goyang, kembang melati/melur, anting-anting, buah jukum/bulan temanggal, bulu serattei, gelag kano, kawai kurung, dan tapis/betuppal.

Musik & Syair Pengiring Tari

Di masa lalu, alat musik pengiring tari adalah gambus lunik (gambus anak buha), ketipung dan karenceng (terbangan). Saat ini, terdapat penambahan instrumen seperti gong kecil, biola dan akordion. Ada juga iringan lagu gembira yang bersumber dari salawat nabi, sagata, adi-adi, wayak dan pantun. Contoh lirik lagu bisa dilihat pada referensi di bawah ini.

Referensi:

  1. https://jurnal.isi-ska.ac.id/ind…
  2. http://journal.isi.ac.id/index.p…
  3. gambar: @muli_sikep

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *