• sumber : https://budaya-indonesia.org/f/8863/wulan_taribedayabedhahmadiun1.jpg

Tari Bedhaya Bedhah Madiun, Yogyakarta & Surakarta

Tari Bedhaya Bedhah Madiun adalah tari klasik di keraton Yogyakarta yang lahir di masa Sri Sultan Hamengku Buwono VII pada kisaran tahun 1921. Seperti telah diisyaratkan oleh namanya, Bedhaya Bedhah Madiyun tercipta sebagai penggambaran dari peperangan yang pernah terjadi antara Mataram dan Madiun. Sebuah peperangan yang lebih dikenal dengan nama Tudhung Madiun atau bedhah-nya Madiun.

Adalah Panembahan Senopati yang berkeinginan memperluas kerajaannya hingga ke Madiun. Keinginan tersebut kemudian melahirkan peperangan dengan raja ke-3 dari Madiun, yakni Pangeran Timur. Ketika perang berkecamuk, muncullah Retno Dumilah putri dari raja Madiun sebagai pemimpin perang yang awalnya juga kekeh ingin mempertahankan kerajaannya.

Sayangnya, Retno Dumilah luluh dan bahkan jatuh cinta disebabkan bujuk rayu dan kata-kata lembut Panembahan Senopati hingga pada akhirnya menjadikan Retno Dumilah sebagai permaisuri. Kisah ini kemudian menjadi latar belakang tari Bedhaya Bedhah Madiun atau juga sering disebut sebagai Bedhaya Gandakusuma, merujuk pada nama gending pengiring tari yaitu gendhing Gandakusuma.

Selain di keraton Yogyakarta, Bedhaya Bedhah Madiun juga bisa ditemukan di Pura Mangkunegaran Surakarta yang juga memiliki latar belakang sejarah dengan masa Sri Sultan Hamengku Buwono VII. Meski terkesan mirip terutama pada lampahan beksa dan sindhenan, Bedhaya Bedhah Madiun di Yogyakarta dan di Surakarta memiliki perbedaan dalam visualisasi-nya, termasuk jumlah penari. Di Yogyakarta, tari ini dibawakan oleh sembilan penari, sementara di Surakarta ditarikan oleh tujuh penari.

Pelaksanaan Tari Bedhaya Bedhah Madiun

Sebelum dimulai, tari bedaya ini akan diawali terlebih dahulu dengan lagon atau nyanyian oleh beberapa orang pria dengan diiringi instrumen gambang, rebab, gong, gender dan suling. Selanjutnya, disusul gendhing seiring dengan keluarnya para penari, berjalan maju atau biasa disebut kapang-kapang. Proses ini juga ditutup dengan lagon hingga penari siap dengan sila panggung.

Sementara penari masih dalam posisi sila, terdengarlah seorang yang menguraikan secara singkat tentang pencipta tari dan ringkasan ceritanya yang disebut dengan kandha. Diteruskan dengan Kawin Sekar, yaitu tembang yang dipakai mengawali gendhing, sebagai ganti buka gendhing yang biasanya dilakukan dengan salah satu instrumen gamelan (Padmosoekotjo 1960). Setelah itu, gendhing ageng pun diperdengarkan untuk mengiringi dimulainya tarian Bedhaya Bedhah Madiun.

Ragam gerak tari yang terdapat dalam gendhing ageng adalah nyembah, ngenceng, encot, trisig, lampah semang, imbal, ngewer udhet, apit nyolongi, gudhawa asta minggah, pucang kanginan, gudhawa asta II, ngewer udhet, pendhapan maju mundur. Gendhing ageng ini dilanjutkan dhawah yang masih dalam satu gendhing yang pertama dan dilanjutkan minggah ke gendhing alit. Ragam gerak yang muncul adalah kipat gajahan, lembehan, duduk wuluh, impang majeng, lampah mundur, ngenceng, jengkeng, nglayang.

Setelah suwuk, kemudian dilanjutkan dengan gendhing Ketawang. Di dalam gendhing Ketawang ini, gerak tari yang muncul disebut sebagai gerak tari pokok yang membedakan antara Bedhaya yang satu dengan Bedhaya yang lain berdasarkan latar belakang ceritanya. Pada bagian ini gerakan yang muncul adalah bango mati, ngundhuh sekar, gidrah, ngundhuh sekar, gidrah, ngundhuh sekar II. Sampai pada rakit gelar ini, digambarkan dengan peperangan antara Retno Dumilah dan Panembahan Senapati yang berakhir dengan saling jatuh cinta. Pada akhirnya, kembali ke kapang-kapang diiringi dengan lagon.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *