Bedhaya Kuwung-Kuwung – Salah Satu Tarian Pusaka Keraton Yogyakarta

Bedaya (Bedhaya) merujuk pada tarian klasik Jawa di keraton-keraton pewaris tahta Mataram, salah satunya Kesultanan Yogyakarta. Bedhaya Kuwung-Kuwung merupakan satu di antara ragam tarian bedhaya Yogyakarta dan termasuk tarian pusaka, selain Bedhaya Sumreg, Beksan Lawung Ageng, dan Bedhaya Semang.

Tari ini terlahir pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengkubuwono VII yang memerintah pada tahun 1877-1921. Seperti umumnya tari bedhaya di Keraton Yogyakarta, Bedhaya Kuwung-Kuwung hadir dengan kekhasan pola aturan, koreografi kelompok dengan melibatkan para penari putri yang berjumlah sembilan.

Pada tahun 2018, tari ini ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia dalam domain seni pertunjukan. Penetapan tersebut bersamaan dengan penetapan 26 karya warisan budaya Yogyakarta lainnya. Hingga saat ini, Yogyakarta telah mengoleksi 94 karya budaya yang masuk dalam WBTb Indonesia.

Perihal Sejarah Bedhaya Kuwung-Kuwung

Tari ini tercipta pada masa perubahan besar dunia pendidikan bagi kaum pribumi. Masa di mana pertumbuhan seni budaya yang semakin terbuka dan demokratis. Serta, dukungan bagi kemajuan pergerakan kebangsaan di era Sultan Hamengkubuwono VII yang mulai memerintah sejak naik tahta pada 13 Agustus 1877.

Istilah “kuwung-kuwung” yang menjadi nama tarian ini merupakan istilah dalam bahasa Jawa yang salah satunya bermakna pelangi. Tari ini bisa berarti “keindahan pelangi” yang selain menggambarkan keindahan bedhaya, juga melambangkan cahaya keindahan di bawah kepemimpinan Sri Sultan Hamengkubuwono VII.

Seperti halnya pelangi, tari ini tidak saja indah, namun juga mengandung pesan-pesan moral hidup berkesetaraan, berdampingan, dan saling menghargai. Keberadaannya menjadi penting dalam melestarikan kesenian sebagai bagian dari strategi diplomasi kebudayaan yang mampu mempersatukan masyarakat.

Rangkaian Tari Bedhaya Kuwung-Kuwung

Tari Bedhaya Kuwung-Kuwung ditarikan oleh 9 penari putri yang masing-masing memiliki peran tersendiri. Terdiri dari Endhel Pajeg, Batak, Jangga, Dhadha, Bunthil, Apit Ngajeng, Apit Wingking, Endhel Wedalan Ngajeng, dan Endhel Wedalan Wingking. Dalam penyajiannya tari ini terbagi sejumlah rangkaian, sebagai berikut:

  1. Rangkaian pertama mencakup seluruh bagian dalam tarian ini. Meliputi para niyaga dan warang-waranggana yang bersiap di antara instrumen gamelan, duduk di belakang instrumen gangsa, menghadap Dalem Ageng. Serta, para penari bedhaya yang berdiri berjajar dari arah kiri memasuki pendhopo. Keprak memulai tarian diiringi lirik Lagon Pelog Barang Wetah serta aksentuasi beberapa instrumen, utamanya gender dan rebab. Setelah lagon pertama, selanjutnya gending Gati Helmus berderam bersama debur snar drum yang berderap bak langkah prajurit, yang terpadu dengan pola tiupan terompet.
  2. Kedua, para penari telah duduk rapi dalam formasi awal bedhaya. Berjajar di garis tengah sebanyak lima penari, dua penari berjajar dekat di belakang, serta dua lainnya duduk berjajar di depan. Saat formasi awal ini terbentuk, gending Gati Helmus berhenti dan langsung di susul Lagon Pelog Barang Jugak.
  3. Selanjutnya dalam rangkaian ketiga, setelah sesembahan dhodok, sembilan penari mulai berdiri. Mereka bergerak menari merambati nada irama gamelan. Menghadirkan gerakan tari yang sambung menyambung di antara begitu banyak ragam gerak tari bedhaya dan teknik pencapaian estetiknya.

Properti dan Tata Busana Penari Bedhaya

Dalam menarikan Tari Bedhaya Kuwung-Kuwung, para penari dilengkapi dengan properti berupa keris. Untuk tata busana, pada zaman dahulu penari bedhaya menggunakan pakaian pengantin basahan (kebesaran). Sementara itu, untuk saat ini tata busana yang digunakan adalah sebagai berikut:

  1. Hiasan kepala dengan jamang
  2. Telinga memakai Ron
  3. Cundhuk menthul
  4. Cundhuk jungkat
  5. Risolin
  6. Pelik
  7. Ceplok jebehan
  8. Kondhe dengan bentuk gelung bokor
  9. Godhegan
  10. Kalung susun
  11. Kelat Bahu
  12. Gelang kana 1 (satu) pasang
  13. Subang 1 (satu) pasang
  14. Cincin 1 (satu) pasang
  15. Baju tanpa lengan dari bahan beludru
  16. Sondher (sampur ) Cindhe
  17. Slepe berwarna emas
  18. Keris bentuk branggah, dengan oncen
  19. Kain batik biasanya bercorak parang rusak

Demikian sekilas perihal Tari Bedhaya Kuwung-Kuwung Yogyakarta yang kami rangkum dari berbagai sumber. Untuk melengkapi pengetahuan mengenai sejarah dan daftar tarian klasik gaya Yogyakarta, baca juga Tarian di Keraton Yogyakarta. Atau, bisa juga membaca tentang Busana Adat Yogyakarta dan Batik Yogyakarta.

Referensi:
  1. img: youtube.com/m8gnPWtbJCg
  2. warisanbudaya.kemdikbud.go.id…
  3. proboyekso2.blogspot.com/200…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *