• sumber : franseskachicha.blogspot.co.id

Bedhaya Sang Amurwabhumi – Tari Klasik Gaya Yogyakarta

posted in: Jawa, Seni dan Budaya, Tari, Yogyakarta | 0

Tari Bedhaya Sang Amurwabhumi adalah salah satu ragam tari klasik dalam Keraton Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Untuk pertama kalinya, Bedhaya Sang Amurwabhumi dipentaskan di Bangsal Kencono Keraton Yogyakarta pada saat pengangkatan dan penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional kepada Sri Sultan Hamengku Buwono IX pada tahun 1990. Selanjutnya juga pernah ditampilkan dalam acara Penganugerahan Gelar Doktor Honoris Causa Bidang Seni Pertunjukan kepada Sri Sultan Hamengku Buwono X oleh ISI Yogyakarta pada 27 Desember 2011.

Bedhaya Sang Amurwabumi diciptakan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X dengan dibantu oleh koreografer K.R.T Sasmintadipura. Bedhaya ini tercipta sebagai legitimasi Sri Sultan Hamengku Buwono X kepada swargi Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan menjadi karya kedua sultan setelah Beksan Bedhaya Herjuna Wiwaha.

Seperti yang tertulis di jogjanews.com, menurut penuturan Sultan Hamengku Buwono X, Bedhaya Sang Amurwabhumi mengambil ide dasar dari isi Serat Pararaton. Isi yang dimaksud adalah mengenai sosok Sang Amurwabumi dengan dinamika kehidupannya yang melekat dengan ajaran Hasta Karma Pratama atau Delapan Ajaran Kebenaran.

Tari Bedhaya Sang Amurwabumi menghadirkan tata cipta komposisi gerak tari sembilan penari dimana pada adegan-adegan tertentu dibagi menjadi tiga rakitan gerak tari sebagai simbolisasi konsep “tri tirta”. Sultan HB X juga menambahkan bahwa angka tiga menurut Annemarie Schimmel dalam bukunya Mystery of Numbers (2006) adalah lambang kesucian jiwa. Angka tiga juga banyak ditemukan dalam beragam agama seperti trilogi ajaran Illahi, Islam, iman dan Ihsan, Trinitas dalam agama Kristen, Trikaya dan Tripitaka dalam agama Budha serta Trimurti dalam agama Hindu.

Tari Bedhaya ini memiliki sepuluh gerak awal yakni Nyembah, Jengkeng Ngembat, Nglayang nyembah, Jumeneng Panggel Mapan, Grudha Kiwa Mayuk Jinjit, Grudha Tengen Mayuk Jinjit, Ngendherek, Imbal, Lampah Sekar Kengser Mubeng Ngiwa, Ngancap Wangsul Malih Rakit Lajur lalu Gidrah.

Selebihnya menurut Sultan Hamengku Buwono X komposisi sembilan penari yang menarikan tari Bedhaya Sang Amurwabumi sesungguhnya adalah gambaran seluruh organ tubuh manusia secara utuh. Mulai dari otak manusia yang menjadi sumber gagasan dan kreatifitas (No1: Endhel Pajeg), kepala (no.2: mbatak), leher (No.3 jangga), dada (pendada), ekor (mbuntit), tangan kanan (apit ngajeng), tangan kiri (No.7 apit wingking), kaki kanan (endhel wedalan ngajeng ) dan kaki kiri (endhel wedalan wingking).

Bedhaya dengan komposisi sembilan penari mewakili hasrat pencapaian kestabilan mental dan spiritual seseorang yang sudah mencapai tataran kesempurnaan hidup dan menjadikan dirinya “sejati-jatining manungsa” atau “jalma kang utama.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *