Tari Bedhaya Sumreg Yogyakarta – Sejarah, Fungsi, Motif Gerak, Pengiring

Tari Bedhaya Sumreg adalah salah satu jenis Tari Klasik Gaya Yogyakarta dan merupakan tarian pusaka dalam Keraton Kasultanan Yogyakarta. Sebagai warisan budaya Jawa, tari bedhaya bukanlah sekedar bentuk organik penataan gerak semata. bedhaya memiliki kompleksitas makna, bersifat supraorganik yang terungkap secara lahiriah maupun batiniah.

Selebihnya, tarian ini juga mengusung nilai historis, sosiologis, politis serta sarat muatan-muatan pendidikan. Sebagai sebuah tarian keraton, Bedaya bukan hanya sekedar bentuk tarian untuk kepentingan pertunjukan saja, namun juga memiliki fungsi ritual sebagai bentuk regalia atau pusaka kerajaan untuk menunjukan kebesaran raja (Hadi, 2001:76-91).

Pengertian Istilah Bedhaya

Dalam hal pengertian istilah, bedhaya merujuk pada salah satu bentuk tari di dalam istana. Tarian ini memiliki kekhasan pola aturan, koreografi kelompok dengan melibatkan para penari putri yang umumnya berjumlah sembilan. Meskipun demikian, ada juga yang tarian bedhaya khusus untuk penari putera yang terkenal dengan nama Tari Bedhaya Kakung.

Sementara itu, untuk istilah Sumreg yang menjadi nama tarian pusaka ini mempunyai makna ribut, gempar, gaduh, dan hiruk pikuk (prawiroatmodjo, 1985, 218). Makna kegaduhan dalam hal ini juga tersurat dalam penggalan teks Serat Pasindhenan Kelangenan dalem Bedhaya Sumreg (terdapat juga di dalam kutipan Brakel-Papenhuijen, 1992:176-177).

Penggalan teks tersebut merujuk pada ramainya tentara dari Yogyakarta dengan berbagai persenjataan, bersuara keras laksana ombak samudera. Kekuatan raja mampu mengelabuhi musuh, sehingga disegani bala tentaranya, bahkan terkenang selamanya. Tersebutlah raja Sri Sultan Hamengku Buwono I dengan kegemarannya menaiki kuda Kyai Jaya Kumala.

Sejarah Tari Bedhaya Sumreg

Berdasarkan manuskrip yang tertulis pada masa Sri Sultan Hamengku Buwono VI (1855 – 1877), Tari Bedhaya Sumreg adalah tarian pusaka karya dari Susuhunan Paku Buwono I. Penciptaan Bedhaya Sumreg merupakan bentuk upaya mutrani atau menduplikasi Tari Bedhaya Ketawang karya Sultan Agung Prabu Hanyakrakusuma (prajapangrawit, 1990, 75).

Karena merupakan hasil dari upaya mutrani atau menduplikasi, Gendhing Bedhaya Sumreg memiliki banyak kemiripan dengan Gendhing Ketawang. Musik pengiring Bedhaya Sumreg pun bernama Gendhing Ketawang Alit, sedangkan Gendhing Ketawang yang merupakan pengiring Bedhaya Ketawang terkenal dengan nama Gendhing Ketawang Ageng.

Meski merupakan karya Paku Buwono I, pada akhirnya Kasultanan Yogyakarta yang mewarisi Tari Bedhaya Sumreg. Hal ini berkaitan dengan prinsip dasar Kasultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta dalam perjanjian Giyanti (Babad Paliyan Negari). Semua hasil budaya zaman Mataram menjadi milik Kasultanan Yogyakarta dengan prinsip pelestariannya.

Dalam perjanjian Giyanti, Kasunanan Surakarta memilih memegang prinsip pembaharuan atas segala hasil budayanya, lebih cenderung melakukan inovasi (Soedarsono, 1997, 22-25). Selanjutnya, Tari Bedhaya Sumreg Yogyakarta kiranya turut andil dalam upaya pelestarian Beksan Mataram yang menjadi sumber perkembangan Tari Klasik Gaya Yogyakarta.

Fungsi Tari Bedhaya Sumreg

Secara umum, Tari Bedhaya Sumreg juga seperti halnya bedhaya-bedhaya lain masuk dalam kategori tarian keramat yang hidup, tumbuh dan berkembang dalam lingkup istana. Secara fungsional, keberadaannya merupakan bagian dari upacara ritual sehingga hanya tampil pada peristiwa-peristiwa penting atau upacara besar di lingkungan keraton.

Pada masa Kerajaan Mataram, Tari Bedhaya Sumreg tersaji dalam perayaan ulang tahun raja. Selain itu, ada juga Tari Bedhaya Gandhungmlathi yang tampil pada saat perayaan hari lahir pawukon raja dan hari ulang tahun permaisuri. Sementara itu, Bedhaya Ketawang merupakan tarian saat hari ulang tahun kenaikan tahta raja. (Pradjapangrawit, 1990, 79)

Pola Lantai dan Motif Gerak

Sebagai tarian tradisi Keraton Jawa, bedhaya bersifat abstrak-simbolis. Pola lantai tertata bukan berdasarkan efek dramatis saja, namun tetap berlandaskan keyakinan masyarakat Jawa. Sembilan penari bedhaya membentuk pola dengan konfigurasi berbeda-beda. Pola lantainya mencakup rakit lajur, rakit ajeng-ajengan, rakit iring-iringan serta rakit tiga-tiga.

Pola lantai dan formasi tersebut merupakan simbol atau penggambaran dari siklus pemikiran manusia. Berawal dari rakit lajur yang menjadi simbol kelahiran, rakit ajeng-ajengan dan rakit iring-iringan melambangkan adanya konflik. Kemudian, pada puncaknya dengan pencapaian kesadaran dan kemanunggalan tergambar pada pola lantai rakit tiga-tiga.

Selebihnya, ada juga rakit gelar yang menonjolkan keunikan lain dari Tari Bedhaya Sumreg. Rakit inilah yang memuat inti cerita dan secara baku tersaji sesudah rakit ajeng-ajengan dan rakit iring-iringan. Dalam Tari Bedhaya Sumreg, rakit gelar memuat cerita kepahlawanan Pangeran Mangkubumi dalam menyiapkan bala tentaranya ketika menghadapi musuh.

Di dalam Bedhaya Sumreg Yogyakarta, terdapat peran dengan sebutan batak yang mewakili Pangeran Mangkubumi yang merupakan tokoh utamanya. Dalam hal ini, peran batak berdiri sendiri dalam rangkaian. Dengan formasi ini batak seolah-olah sedang menggambarkan kondisi sang pangeran yang telah bersiap sedia maju ke medan peperangan.

Motif Gerak Milir dan Mandheg

Motif gerak tarian ini terbagi menjadi dua kategori, yaitu motif gerak milir (gerak berpindah) dan motif gerak mandeg (gerak di tempat) (Suharti, 1983, 16). Kedua motif tersebut diperkuat lagi dengan penggunaan gerak yang mendominasi gerak dasarnya, seperti motif wedhi kengser dengan dominasi kaki dan ukel tawing yang didominasi oleh tangan.

Irama dramatis akan tercipta dalam Bedhaya Sumreg bersama mandeg dan milir-nya motif-motif gerakan yang ada. Masing-masing motif tersebut juga senantiasa berkembang dalam berbagai variasi, baik dari segi aksi, ruang dan waktu. Oleh karena itu, sejumlah motif gerak dalam kategori mandheg juga memuat unsur-unsur dalam motif gerak milir.

Motif gerak mandheg sangat sedikit menggunakan kaki, jika ada hanya berupa ingsutan tumit, gendruk dan tanjak. Selebihnya, kaki hanya sebagai tempat bertumpu. Motif gerak dalam kategori ini meliputi sembahan sila, lembehan, gidrah, ngenceng lembehan, ngenceng encot, ngenceng jengkeng, bango mate, ukel tawing, duduk wuluh, dan ongkek tawing.

Motif lain dalam kategori mandheg juga mencakup gudhawa asta minggah, ngunduh sekar, ulap-ulap, ngrundha, atur-atur dan pucang kanginan. Sedangkan motif yang masuk dalam kategori Milir di antaranya adalah ngendherek, lampah semang ngembat asta, impang ngewer udhet, cathok udhet majeng mundur, wedhi kengser gajah ngoling dan pendhapan.

Iringan Tari Bedhaya Sumreg

Dalam hal pengolaan pola gendhing iringan pada Tari Bedhaya Sumreg Yogyakarta, secara struktural tetap menggunakan tata aturan baku yang sampai sekarang terkenal dengan istilah lampah Bedhayan. Umumnya, musik pengiring akan menyesuaikan dengan bertujuan untuk memperkuat dan memperjelas pengungkapan atau penggambaran suasana.

Tujuan tersebut juga terdengar jelas melalui kandha (monolog bahasa Jawa) oleh pemaos kandha dengan intonasi dan gaya yang khas. kandha memuat ringkasan cerita, pencipta, tujuan pementasan, nama tari, serta kesiapan para penari. Dalam Bedhaya Sumreg juga termuat kisah campur tangan Belanda dalam pecahnya Mataram melalui perjanjian Giyanti.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *