Tari Buja Kadanda – Tari Tradisional Bertema Keprajuritan Khas Bima, NTB

Tari Buja Kadanda atau disebut juga dengan Tari Mpa’a Manca merupakan tarian tradisional bertemakan keprajuritan asli Bima, Nusa Tenggara Barat. Tari ini dibawakan oleh dua orang penari yang mencoba menggambarkan dua prajurit yang sedang berperang. Selain mengenakan kostum khas prajurit Bima, para penarinya juga dilengkapi dengan senjata tombak dan pedang.

Tarian ini dimulai dan diiringi oleh perpaduan suara dari alat musik gendang, gong, serunai dan tawa-tawa. Iringan musik mengalun dalam dua irama yang berbeda. Bertempo cepat ketika mengiringi tarian, dan bertempo lambat saat mengawali dan mengakhiri tarian. Para penarinya menari membawakan gerak bela diri sehingga dibutuhkan keahlian khusus dalam menarikannya.

Tarian Buja Kadanda merupakan tarian tradisional tua yang telah berusia lebih dari 700 tahun. Tari ini berasal dari Desa Maria, Kecamatan Wawo, Kabupaten Bima, NTB. Ini merupakan kesenian khas Desa Maria dan hanya bisa ditemukan di desa tersebut. Tidak diketahui siapa pencipta awalnya. Hanya cerita rakyat yang turun-temurun yang memberitakan sedikit perihal sejarahnya.

Di zaman dahulu kala, ada seorang pemuda kampung yang merupakan nenek moyang orang Maria yang hendak pergi berperang. Untuk itu ia mempersiapkan hari keberangkatan dan senjata yang hendak digunakannya, yakni pedang dan tombak. Adapun perihal nama Mpa’a Manca berasal dari tradisi penyerahan senjatanya yang diyakini dapat memberi keselamatan.

Senjata, yakni pedang atau tombak yang akan digunakan berperang oleh sang pemuda, sebelumnya harus diserahkan oleh Manca (bibinya). Prosesi tersebut diyakini bisa membuat sang pemuda bertahan diri dari serangan musuh sehingga diharapkan bisa kembali pulang dengan selamat. Dari keselamatan pemuda itulah, tarian ini dinamakan Tari Mpa’a Manca.

Sama halnya dengan tarian tradisional lainnya di Indonesia, seiring dengan perkembangan zaman, Tari Mpa’a Manca atau Buja Kadanda saat ini sudah jarang ditampilkan. Kurangnya ruang dan kesempatan untuk tampil adalah salah satu faktor utamanya. Meski demikian di beberapa sanggar tari di Bima, tari ini masih tetap dilestarikan dan dikembangkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *