Tari Cakalele, Maluku – Tarian Perang Tradisional Maluku Sarat Aura Mistis

Tari Cakalele. Hampir setiap suku di Indonesia memiliki tarian perang sebagai citra kepahlawanan dan kegagahan masyarakatnya. Sebagai misal adalah Tari Baris dari Bali, Kancet Papatai dari Kalimantan Timur, Tari Glipang dari Jawa Timur. Di kalangan masyarakat Maluku ada juga tari perang yang diberi nama Cakalele.

Tari Cakalele merupakan tarian perang tradisional Maluku yang digunakan untuk menyambut tamu atau sebagai bagian dari perayaan adat. Kesenian ini telah mentradisi dan biasa di gelar setiap tahunnya untuk memeriahkan Legu Gam (Pesta Rakyat) yang dilaksanakan oleh pemerintah daerah bersama pihak Kesultanan Ternate.

Merujuk pada fungsinya, Tarian Cakalele terbagi menjadi dua jenis, yakni tarian tradisional yang sarat dengan nuansa magis dan tarian festival yang sifatnya profan untuk memeriahkan berbagai acara di Maluku. Dalam penyajiannya, tari ini akan melibatkan banyak orang, sekitar 30 orang penari pria maupun wanita.


Sejarah Tari Cakalele

Secara etimologi istilah Cakalele merupakan gabungan dari dua suku kata dalam bahasa Ternate, yakni “Caka” berarti setan atau roh dan “Lele” berarti mengamuk. Secara harfiah Cakalele mengandung arti “setan atau roh yang mengamuk“. Dalam prakteknya, tidak jarang arwah nenek moyang memasuki penari tarian ini.

Cakalele terlahir di masa penjajahan Portugis, sama halnya dengan Tari Lenso. Beberapa tempat di Maluku mungkin memiliki versi sejarah berbeda. Sebagai misal, Cakalele Hahi di Hulaliu yang kemunculannya dilatarbelakangi oleh perang di Gunung Alaka antara masyarakat Hatuhaha dengan bangsa Portugis serta perang antar kelompok.

Di Negeri Pelauw, Cakalele hadir dengan nama lain yakni Ma’atenu, sebuah ritual adat komunitas Maluku Muslim di wilayah tersebut. Ma’atenu berhubungan erat dengan perang untuk menunjukkan kekuatan, disajikan untuk mensimbolkan kondisi perang sehingga dilengkapi perlengkapan perang, seperti parang dan kalewang.

Secara umum Tari Cakalele tercipta sebagai gambaran semangat mempertahankan martabat dari para penjajah. Dalam kehidupan budaya masyarakat tradisi, roh nenek moyang selalu dilibatkan dengan harapan diberi perlindungan. Selanjutnya kepercayaan tersebut dikembangkan menjadi suatu tarian dalam upacara adat.

Pendapat lain perihal Sejarah Tari Cakalele adalah bahwa tarian ini merupakan penghormatan terhadap nenek moyang bangsa Maluku yang seorang pelaut. Sebelum berlayar, mereka biasa mengadakan pesta makan, minum dan berdansa. Orang Maluku percaya dengan menarikan tarian ini, mereka akan mendapatkan restu arwah leluhur.

Dalam upaya pelestariannya, Cakalele telah terbagi menjadi dua jenis sesuai dengan fungsinya, yakni tradisional bernuansa mistis sebagai bagian dari ritual adat dan tarian festival sebagai hiburan pada acara-acara besar di Maluku, seperti Legu Gam (Pesta Rakyat) di Ternate.

Satu hal yang menarik adalah tarian ini juga difungsikan sebagai pengobatan alternatif dan diklaim bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit. Dalam fungsinya ini, media yang digunakan adalah pinang dan sirih. Tari ini bisa ditemukan di seantero Maluku, baik di Maluku Utara, Maluku Tenggara, maupun Maluku Tengah.


Penyajian Tari Cakalele

Secara tradisional, pertunjukan Tari Cakalele tidaklah memiliki durasi yang jelas. Hal ini dikarenakan penari yang dimasuki roh bergantung pada daya tahan tubuh penari tersebut. Adapun Tarian Cakalele yang digelar untuk acara-acara formal seperti penyambutan tamu, biasanya durasi penampilannya berkisar 5 – 7 menit.

Tari ini ditampilkan oleh 30 orang penari pria dan wanita. Seorang penari prianya ada yang berperan sebagai Kapitan (pemimpin) dan seorang lagi bersenjatakan tombak menjadi lawannya. Para penari pria menarikan tarian ini dengan gerakan yang cenderung lincah sambil memainkan properti tari berupa parang (pedang) dan salawaku (perisai).

Sementara itu, para penari wanita dengan menggunakan properti tari berupa lenso (sapu tangan) menari dengan dominasi gerakan tangan yang diayunkan ke depan dan ke belakang secara bergantian. Gerakan kaki mereka dihentakkan cukup cepat untuk mengimbangi alunan musik dari alat musik pengiring tarian ini.

Tarian Cakalele ditampilkan dengan diiringi oleh pengiring yang disebut “Tepe-Tepe“. Seperangkat alat musik tradisional tersebut terdiri dari dua buah tifa, satu buah genderang, dan sebuah seragi atau gong tembaga. Sebagai tarian bertemakan perang, musik yang mengiringi bertempo cepat untuk memicu semangat penari.


Properti & Busana Tari Cakalele

Para penari pria menggunakan properti berupa peda (parang atau pedang) dan salawaku (perisai). Salawaku biasanya dihiasi pecahan proselen piring atau kerang dibentuk angka kembang sesuai perhitungan menurut kepercayaan yang berfungsi sebagai “jimat”. Untuk penari wanitanya digunakan lenso (sapu tangan).

Dalam hal tata busana, penari pria menggunakan kostum yang didominasi warna merah dan kuning, serta sebuah penutup kepala. Untuk pemimpin tari, penutup kepala berhias bulu-bulu berwarna putih. Adapun penari wanitanya menggunakan busana tradisional Maluku (Baju Cele) berwarna putih, seperti Busana Tari Lenso.

  • 2
    Shares

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *