Tari Caping Ngancak, Lamongan – Sebagai Gambaran Hidup Para Petani

Tari Caping Ngancak. Dalam kehidupan budaya, terciptanya suatu kesenian tidaklah terlepas dari kehidupan sosial masyarakat. Situasi dan kondisi yang terjadi kemudian menjadi ide bagi seniman untuk membuat suatu karya seni yang indah, mencitrakan keadaan masyarakat tersebut.

Demikianlah awal kemunculan Tari Caping Ngancak yang terinsipirasi dari kehidupan para petani di Kabupaten Lamongan, Jawa Timur. Tari ini dikreasikan oleh dua seniman tari, yakni Tri Kristiani dan Ninin Desinta pada tahun 2008, dengan dibantu oleh Purnomo sebagai penata musik pengiringnya.

Lamongan merupakan daerah yang sangat aktif mengikuti berbagai festival tari, baik ditingkat provinsi, nasional, maupun internasional. Tarian Caping Ngancak sendiri diciptakan untuk dilombakan di Festival Budaya Adhikara II yang diselenggarakan di Malang, Jawa Timur pada bulan Juni 2008.

Penggambaran tentang aktivitas para petani telah juga diisyaratkan pada namanya yang menggunakan istilah “caping“. Caping merupakan sebutan untuk topi khas petani yang terbuat dari anyaman bambu dan berbentuk kerucut. Adapun istilah “ngancak” bisa berarti serempak atau bersama-sama.

Jadi, tarian Caping Ngancak mencoba menggambarkan para petani yang bekerja di sawah secara bersama-sama. Seperti diketahui, Lamongan merupakan kabupaten yang mayoritas masyarakatnya bekerja dibidang pertanian. Oleh karena itu, gerak yang dihadirkan sesuai dengan dinamika hidup para petani.


Penyajian Gerak Tari Caping Ngancak

Dalam pementasannya, tarian ini umumnya dibawakan secara berkelompok oleh para penari putri berjumlah ganjil. Terkadang ditarikan oleh 3, 5, 9 dan bahkan pernah melibatkan hingga 11 penari. Mereka menari secara kompak, lincah dan penuh makna.

Sejalan dengan apa yang menginspirasi lahirnya Tari Lamongan ini, setiap gerakan yang dihadirkan adalah menggambarkan aktivitas para petani Lamongan ketika menggarap sawah. Ada gerakan seolah sedang menanam, merawat, mengusir hama, serta memanen.

Seperti umumnya Tari Kreasi Baru, Tari Caping Ngancak juga memadukan gerak tarinya dengan gerakan tari tradisional. Beberapa diantaranya adalah gerakan lembehan, gerak tikungan, gerak sogokan, gerak trecetan, gerak srisik, serta gerak jalan egolan.


Tata Busana & Properti Tari Caping Ngancak

Para penari memakai kebaya. Awalnya menggunakan kebaya berwarna merah untuk menggambarkan semangat dan perjuangan petani. Adapun ketika mengikuti festival internasional di Yogyakarta, para penarinya menggunakan kebaya warna hijau agar selaras dengan tema dalam pertunjukan tersebut.

Tata busananya juga termasuk kemben (dulu berwarna emas, sekarang hijau), celana tanggung dengan warna yang menyesuaikan dengan kebaya. Ada juga kain tenun ikat parengan, serta kain wiron emas untuk memperindah penampilan para penarinya.

Selebihnya, untuk mendukung penampilan dan untuk mewakili ciri khas petani, digunakan juga topi caping (ada yang polos, ada juga yang berwarna-warni). Aksesoris lain yang digunakan termasuk ikat kepala, rapek untuk hiasan pinggang, serta untaian padi di kepala.


Pengiring Tari Caping Ngancak

Tarian ini diiringi gamelan oleh para pengrawit. Perangkat gamelan yang digunakan berlaras slendro yang terdiri dari bonang, gong, saron, gambang, demung, selantem dan botekan. Selebihnya digunakan juga kentongan serta alat musik perkusi.

Beberapa tembang khas Jawa turut mengiringi tarian ini. Ada tembang dandang gulo yang dianggap sebagai doa tolak balak agar tanaman dijauhkan dari hama. Ada juga tembang lir ilir yang identik dengan tanaman padi yang mulai tumbuh dan berkembang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *