Tari Dampeng, Aceh – Tarian Persembahan Tradisional Khas Suku Singkil

Tari Dampeng. Suku Singkil di kabupaten Aceh Singkil dan kota Subulussalam, turut memperkaya warna kebudayaan Aceh dengan citarasa budayanya sendiri. Meski serumpun, suku Singkil memiliki adat dan budaya berbeda jauh dengan suku Pakpak, karena suku Singkil beragama Islam, sementara suku Pakpak beragama Kristen.

Sama halnya dengan Aceh Tamiang, budaya dalam suku Singkil juga mengalami akulturasi karena kedua suku ini banyak bercampur dengan etnis pendatang. Jika produk budaya masyarakat Aceh Tamiang diwarnai oleh budaya Aceh dan Melayu, produk budaya suku Singkil lebih diwarnai oleh kebudayaan Aceh dan Minang.

Dalam prosesi adat pernikahan, baik masyarakat Aceh Tamiang maupun masyarakat Singkil memiliki tarian tradisional yang khas. Jika di Aceh Tamiang ada Tarian Ula-ula Lembing, dalam budaya suku Singkil dikenal Tarian Dampeng, sebuah tari persembahan sebagai rangkaian dari prosesi mengantar (mengarak) mempelai pria.

Di masa lalu, Tari Dampeng dipertunjukkan oleh dua orang saja. Namun seiring perkembangan, tarian ini kemudian disajikan dengan melibatkan hingga delapan orang penari. Dalam fungsinya sebagai bagian upacara pernikahan, tari ini menjadi simbol perlindungan kepada raja (dalam hal ini mempelai pria atau marapulai).


Penyajian Tari Dampeng

Dalam penyajiannya, jumlah penari tari ini haruslah genap, umumnya delapan orang. Hal ini dikarenakan beberapa gerak dilakukan berpasangan. Jika disajikan saat acara pernikahan, 2 hingga 4 penari melingkari mempelai pria. Mereka menari berputar-putar di lingkaran dalam menggunakan langkah seperti langkah silat.

Selebihnya ada juga 4 penari lain yang juga membentuk formasi lingkaran, namun mereka menari di lingkaran luar. Selanjutnya, dalam rentak tertentu, seluruh penari yang ada di lingkaran dalam akan bergabung dan melakukan gerak tari berpasangan dengan penari yang tadinya berada di lingkaran luar.

Tarian Dampeng biasa disajikan dengan diiringi gendang dendang dan bangsi. Alat musik tradisional ini juga mengiringi rombongan pengantar mempelai pria (marapulai) menuju rumah pengantin wanita (dara baro). Ketika rombongan telah sampai di depan pintu pagar rumah dara baro, baru tarian Dampeng dipersembahkan.

Saat ini persembahan Tari Dampeng dalam prosesi mengantar marapulai sudah sangat jarang, karena sekarang Suku Singkil lebih banyak menggunakan sajian shalawat badar. Iringan shalawat badar dianggap lebih membuat prosesi pernikahan menjadi lebih khusyuk.


Sejarah Tari Dampeng

Sejarah tarian Dampeng dimulai dari kisah Teungku Gemerinting, seorang Teungku yang menciptakan tarian ini. Ia merupakan putra Singkil yang di kemudian hari merantau ke Pagaruyung. Kisah ini berkaitan dengan perjalanan merataunya ke Pagaruyung yang mengharuskannya melewati hutan.

Pada saat malam tiba, di tengah hutan ia memutuskan untuk beristirahat di atas pohon. Di atas pohon itu, ia melihat seekor burung elang terbang berputar-putar di atas kepalanya. Gerakan elang itulah yang kemudian menginspirasinya untuk menciptakan Tari Dampeng.

Tarian ini mengusung serangkaian gerak tari yang melambangkan kekuatan dan keperkasaan sang elang yang terbang di angkasa. Dalam kaitannya dengan upacara adat pernikahan suku Singkil, tarian ini pun menjadi simbolisasi gerakan untuk melindungi raja (pengantin pria diibaratkan seorang raja).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *