• sumber : narwastu.org

Tari Gabor, Bali – Wajah Lain Tari Pendet sebagai Tarian Selamat Datang

posted in: Bali, Seni dan Budaya, Tari | 0

Tari Gabor. Bali atau yang juga dikenal sebagai Pulau Dewata, telah dimaklumi sebagai salah satu sudut Indonesia yang kaya budaya, terutama pada penggal budaya berupa tari-tarian. Dilihat dari segi fungsionalitas, saat ini Tari Bali lebih banyak ragamnya pada seni balih-balihan, meski tidak sedikit yang awalnya merupakan tarian sakral yang difungsikan untuk pemujaan. Sebagai misal adalah Tari Gabor, sebuah tari penyambutan tamu yang di masa awal bersifat religius dan sakral.

Dalam banyak hal, Tari Gabor sangat identik dengan Tari Pendet. Selain perubahan dalam fungsinya, kesamaan dari kedua tari ini juga meliputi tata rias, hingga instrumen pelengkap atau properti tari. Bahkan dalam sejarahnya, keduanya sama-sama sebagai tari penyambutan untuk menunjang sisi religiusitas masyarakat Hindu Bali. Sebagai pembeda, Tari Gabor lebih menyajikan pembendaharaan gerak yang banyak diambil dari gerakan tari upacara, seperti Tari Rejang.

Sama halnya dengan Tari Pendet, Tari Gabor disajikan oleh sekelompok penari putri. Masing-masing penari membawakan tarian ini dengan membawa bokor yang penuh berisi bunga. Biasanya, pada akhir pertunjukan, mereka akan menaburkan bunga-bunga tersebut kepada para penonton atau tamu yang disambut dalam pagelaran tari ini. Sebagai sebuah seni pertunjukan yang bertujuan untuk menghibur, penyajian tari ini semakin sempurna dengan iringan musik dari Gamelan Bali.

Secara umum, para penari Tari Gabor menggunakan baju adat Bali yang didominasi warna cerah untuk mengesankan kegembiraan atas kedatangan para tamu. Untuk pola lantai biasanya disesuaikan dengan kreasi masing-masing pelatih atau berdasarkan kesepakatan para penarinya, sehingga terlihat rapi dan indah.

Sejarah dan Perkembangan Tari Gabor

Tersebutlah nama I Gusti Raka dari desa Saba yang dikatakan menciptakan tarian ini pada tahun 1969. Beliau merupakan salah satu dosen di Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI) Denpasar, sekarang dikenal sebagai Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar. Seperti yang disebutkan diawal artikel ini, tari ini diciptakan sebagai tarian sakral yang menjadi salah satu sarana dalam upacara piodalan di pura. Dalam perkembangannya, tari ini beralih fungsi menjadi sebuah seni pertunjukan yang menghibur dan ditujukan untuk menyambut tamu.

Lahirnya Tari Gabor, dikemudian hari turut menginspirasi lahirnya tari penyambutan tamu lainnya. Pada kisaran tahun 1970-an (ada yang mengatakan tahun 1972), I Wayan Kaler dengan dibantu penata tabuh I Wayan Bratha menciptakan tarian sejenis yang dinamakan Tari Payembrama. Tari Pendet, Tari Gabor dan Tari Payembrama banyak memiliki kesamaan, terutama terlihat pada properti yang digunakan, yakni bokor atau mangkok besar berisi bunga. Saat ini ketiga tarian ini menjadi tari penyambutan atau tarian selamat datang yang paling populer di Pulau Bali.

Perkembangan Tari Gabor juga melahirkan keunikan tersendiri di masing-masing desa yang ikut melestarikannya. Sebagai misal adalah Tari Gabor yang ada di Desa Batubulan, Sukawati, Gianyar. Oleh karena keunikannya, tari ini sering dikenal sebagai Gabor gaya Batubulan. Ciri khasnya lebih terlihat pada aturan yang mengharuskan penyajian tari berpasangan, yang mana di beberapa tempat umumnya jumlah penari berbanyak dan tidak berpasangan. Ciri lainnya termasuk pakaian yang lebih didominasi busana berwarna hitam, merah dan kuning.

Di Batubulan, Tari Gabor telah dipentaskan sejak zaman Hindia Belanda. Hal ini merujuk pada dokumentasi tentang pementasan tari ini yang tercatat pada saat pagelaran Calonarang sekitar tahun 1937 di Banjar Pagutan, Batubulan. Sehubungan dengan praktek upacara, tari ini rutin dipentaskan setiap upacara piodalan di masing-masing pura yang ada di Batubulan. Selain itu, dalam upacara pelestariannya, Tari Gabor gaya Batubulan selalu diikut sertakan dalam Pekan Olah Raga dan Seni Desa (Porsenides) Batubulan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *