Tari Galombang, Sumatera Barat – Tarian Penyambutan dalam Adat Minang

Tari Galombang merupakan salah satu tarian tradisional Minangkabau di Sumatera Barat. Satu di antara seni tari tradisi dalam upacara adat Minangkabau yang berkembang merata, hampir dimiliki setiap nagari.

Secara umum, Galombang difungsikan untuk menyambut tamu yang dihormati. Namun dalam prakteknya, tarian ini lebih banyak muncul dalam upacara pernikahan Minang. Disajikan untuk menyambut mempelai saat diarak menuju pelaminan.

Istilah Galombang adalah pelafalan untuk “gelombang” dalam bahasa Minangkabau. Nama tersebut diberikan sebagai penggambaran kelincahan gerak para penari, naik turun seperti gelombang laut yang bergulung-gulung menuju pantai.

Tari Galombang aslinya ditarikan oleh puluhan lelaki. Terbagi menjadi dua kelompok yang masing-masing dipimpin seorang pemberi aba-aba. Kelompok pertama mengawal rombongan tetamu, kelompok kedua mengawal tuan rumah.

Galombang merupakan kesenian yang mengawali lahirnya Randai di tahun 1932. Demikian pula dengan Tari Pasambahan yang tercipta di tahun 1962. Pasambahan bisa dikatakan sebagai versi Gelombang yang khusus disajikan di dalam ruangan.

Perihal Sejarah Tari Galombang

Tidak begitu jelas asal usul sejarah Tari Galombang. Tari ini telah lama menjadi bagian dari kebudayaan Minang. Keberadaannya tidaklah terlepas dari Silek (silat). Oleh karena itu, di awal perkembangannya tidak disebut tari, namun Silek Galombang.

Kesenian ini merupakan mata rantai dari keberadaan sasaran (tempat berlatih silek). Tumbuh dan berkembang dalam lingkup masyarakat yang menganut sistem matrilineal. Di masa awal, penarinya hanya laki-laki saja dengan gaya pencak silat.

Dari awal, kesenian ini memang berfungsi penyambutan. Ditampilkan untuk menyambut tamu yang dihormati pada pesta alek nagari atau peresmian sasaran. Tidak begitu jelas bagaimana kemudian tarian ini melekat dalam upacara pernikahan.

Konon, Gelombang berhubungan dengan kisah pernikahan seorang pemuda. Ketika menuju ke kampung istrinya, ia dikawal oleh teman sepeguruan silatnya. Ada juga yang menyebutnya sebagai bentuk pengawalan terhadap penghulu yang akan menikahkan pengantin.

Secara tradisional, Galombang terbagi menjadi dua jenis sesuai bentuknya, yakni galombang manyongsong (satu arah) dan galombang balawanan (dua arah). Ada juga istilah lain, yakni galombang duo baleh (tari yang dibawakan 12 orang).

Seiring dengan perkembangan zaman, perubahan pun tidak bisa dihindari. Jika awalnya hanya melibatkan laki-laki saja, kini Galombang lebih didominasi oleh penari perempuan. Tarian khas Minang lain pun banyak ditarikan oleh perempuan.

Selain itu, berbagai kreativitas turut memunculkan satu koreografi baru. Dalam berbagai aspek, termasuk pada gerakan, pola lantai, musik, properti tari, busana dan rias. Galombang pun hadir dengan sangat berbeda dari aslinya.

Meski demikian, kreatifitas yang turut memotori perubahan masih tetap menampilkan simbol-simbol estetika adat Minangkabau. Sehingga, keberadaan Tari Galombang masih tetap langgeng sebagai warisan leluhur budaya Minangkabau.

Perihal Penyajian Tari Gelombang

Seperti yang telah disebutkan di awal, istilah Galombang lebih merujuk pada penggambaran gerakan para penari. Gerakan yang berawal dari aktivitas silat tersebut tercipta dari variasi gerak yang diibaratkan seperti gelombang laut.

Pengolahan ritme, ruang dan tenaga turut mencipta pergerakan tari yang indah. Terkadang menampilkan gerakan yang lembut, terkadang juga energik. Dalam hal ini, gerakan silat lebih banyak terlihat pada sikap kaki dan tangan para penarinya.

Beberapa contoh pergerakan tangan di antaranya ada kudo-kudo, gelek, siku-siku, ambek, dan tapuak. Sementara itu, untuk pergerakan kaki dikenal sejumlah istilah, seperti langkah duo, langkah tigo, dan langkah ampek.

Dengan menggunakan pola lantai dua baris berbanjar ke belakang, para penari menari membawakan gerakan tari yang indah. Secara serempak meninggi untuk kemudian merendah, sambil maju dan mundur secara perlahan, laksana gelombang air di lautan.

Penari Tari Galombang yang berjumlah puluhan, terbagi menjadi dua kelompok. Masing-masing dipimpin oleh seorang pemberi aba-aba. Satu kelompok menjadi pengawal rombongan tamu utama, sementara kelompok lainnya mengawal tuan rumah.

Rombongan tetamu datang ke tempat perjamuan dengan didahului penari Gelombang yang melangkah dengan menggunakan langkah ampek. Dengan aba-aba pemimpinnya yang berada di depan, mereka bertepuk ketika hendak melakukan langkah maju.

Bergerak mengembang lepas dengan tangan terbuka dan jari melentik. Badan merendah ketika kaki melebar, lalu meninggi sambil mengangkat sebelah kaki hampir setinggi lutut. Sekira 50 m dari tempat acara, penari dari tuan rumah menantinya.

Ketika kira-kira berjarak 10 m, penari tuan rumah bergerak mundur dan penari tamu utama terus maju. Ketika di pintu gerbang, ada seorang janang (pemimpin upacara) menuju ke tengah. Dengan gerakan silat, ia seolah hendak melerai perkelahian.

Selanjutnya, semua penari melakukan gerakan mundur hingga tamu utama yang dikawal berada di depan mereka. Dari sini peranan pun dipegang oleh pemuka yang dituakan dari kedua belah pihak. Dan, Tari Gelombang pun selesai.

Dalam prakteknya, tarian Galombang disajikan dengan iringan musik dari perpaduan bunyi talempong dan puput batang padi. Namun demikian, gerakan tari tidak menyesuaikan dengan musik dan hanya bergantung pada aba-aba pemimpin tari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *