Tari Gandai Bengkulu – Tarian Tradisional Khas Dari Kabupaten Mukomuko

Masyarakat Mukomuko atau Muke-Muke di Kabupaten Mukomuko, Bengkulu, memiliki warna budaya yang mirip dengan budaya Minangkabau. Selain bahasanya mirip, orang Mukomuko pun menganut sistem matrilineal seperti orang Minang. Dalam sejarah kebudayaan mereka lahirlah satu tarian yang khas, Tari Gandai namanya.

Istilah “gandai” merupakan pergeseran dari pelafalan kata “gando” dalam dialek lokal masyarakat Mukomuko yang berarti ganda. Nama ini merujuk pada formasi penari Tari Gandai yang ganda atau berpasangan. Dalam jumlah penari berapapun, formasi berpasangan (tidak lebih dari dua orang) dalam tarian ini tetaplah berlaku.

Tarian Gandai merupakan Tari Tradisional Bengkulu yang dalam prakteknya sering mewarnai acara perkawinan. Secara turun temurun pertunjukannya mentradisi sebagai sarana berkumpul keluarga, tetangga, dan teman sejawat. Tari ini termasuk kesenian Bengkulu dalam daftar Warisan Budaya Tak Benda pada tahun 2018.

Sejarah Asal-Usul Tarian Gandai

Gandai merupakan tarian tua dalam kehidupan orang Mukomuko dan Pekal di daerah Mukomuko, Bengkulu. Ada yang mengatakan tari tradisional ini ada semenjak Kerajaan Anak Sungai diperkirakan pernah ada pada tahun 1600-an. Rajanya bernama Sultan Gulumatsyah yang dikirim dari Kerajaan Pagaruyung (Sumatera Barat).

Asal-usul tarian Gandai terhubung dengan kisah Malin Deman dan Puti Bungsu yang ceritanya mirip Jaka Tarub dengan 7 bidadari dalam Babad Tanah Jawa. Bedanya dalam cerita rakyat Minangkabau ini, Puti Bungsu menari hingga 6 saudaranya dari langit pun menggantikannya menari dalam pernikahannya dengan Malin Deman.

Berdasarkan cerita rakyat mengenai Malin Deman dan Puti Bungsu, tarian bidadari yang selanjutnya bernama Tari Gandai berkembang dan lestari. Melengkapi berbagai upacara adat, seperti perkawinan, sunat rasul, dan perayaan lainnya. Terkadang juga tampil sebagai tari penyambutan tamu, atau dalam acara kebudayaan.

Bentuk Pertunjukan Tari Gandai

Pertunjukan Tari Bagandai biasanya melibatkan 6 anak gandai (penari) dan 1 induk gandai (guru tari). Serta, 2 pemain musik sunai dan odab dan 1 pendendang. 10 orang dalam pertunjukan gandai ini merupakan satu kesatuan, meski anak gandai, induk gandai, maupun pemusik bisa juga merangkap peran pendendang.

Dalam upacara perkawinan adat, Tarian Bagandai tampil pada malam hari, mulai dari selepas Isya hingga menjelang waktu Subuh. bagandai atau badendang (berdendang) menjadi istilah populer untuk menyebut malam pertunjukan tari ini karena acaranya diiringi dengan nyanyian pantun untuk memeriahkan suasananya.

Referensi:
  1. gambar: Anugrah Imana, CC BY-SA 4.0

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *