• sumber : kompasiana.com

Tari Glipang, Jawa Timur – Gambaran Kegagahan Seorang Ksatria

Tari Glipang. Secara umum, kesenian tradisional telah menjadi bagian hidup dari suatu masyarakat, sehingga sangatlah patuh pada asas, stereotip dan memegang teguh ketentuan yang ada. Jenis kesenian ini umumnya bertahan dalam sistem pewarisan dari generasi ke generasi. Sebagai misal adalah Tari Glipang atau Tari Kiprah Glipang yang hingga saat ini tetap lestari sebagai identitas masyarakat Probolinggo, Jawa Timur.

Meski Tari Glipang adalah tarian khas Kabupaten Probolinggo, di Kabupaten Lumajang juga ada kesenian serupa. Mengingat wilayah utara Lumajang berbatasan langsung dengan Probolinggo, bisa jadi kesenian Glipang di Lumajang adalah hasil penyebaran Tari Glipang Probolinggo. Oleh karena Perkumpulan Tari Glipang yang terkenal ada di Lumajang, banyak yang beranggapan bahwa tari ini berasal dari daerah tersebut.

Dalam prakteknya, Glipang adalah tarian tradisional yang menggambarkan kegagahan seorang kesatria yang seolah sedang latihan. Diketahui bahwa kesenian ini lahir sebagai ungkapan rasa ketidakpuasan terhadap penjajahan Belanda yang dimotori oleh seorang tokoh asal Pulau Madura bernama Sari Truno. Oleh karena itu, tarian ini didominasi gerakan patah-patah sebagai bentuk penggambaran kebudayaan Suku Madura.

Istilah Glipang sendiri berasal dari kata dalam bahasa Arab yakni “Gholiban” yang artinya kebiasaan. Istilah ini merujuk pada ketidaksukaan seorang Sari Truno terhadap kebiasaan Belanda yang sewenang-wenang pada pribumi. Selanjutnya, karena pengaruh dari dialek orang Jawa, Gholiban berubah menjadi Glipang. Kesenian inilah yang juga dikatakan sebagai embrio lahirnya terbang gending.

Sejarah Tari Glipang

Dalam sejarahnya, Tari Glipang tidaklah terlepas dari seorang Madura yang bernama Seno atau lebih dikenal dengan nama Sari Truno. Ia adalah remaja Madura yang pada tahun 1912 melakukan migrasi ke daerah Probolinggo dan menetap di Desa Pendil. Ia bekerja sebagai mandor tebang tebu pada pabrik gula Kecamatan Gending Probolinggo dibawah kepemilikan Belanda.

Sebagai orang Madura yang terkenal berwatak tempramen, kasar, serta pantang diperintah, Sari Truno sering kali memberontak dan tidak jarang terjadi konflik dengan tentara Belanda. Oleh karena ketidakpuasan, ia bersama beberapa orang dari desa Pendil membentuk perkumpulan pencak silat untuk menyusun kekuatan melawan Belanda.

Meskipun dilakukan secara sembunyi-sembunyi, lambat laun kegiatan mereka pun diketahui juga. Pihak Belanda khawatir setiap saat kegiatan itu bisa membahayakan kekuasaannya. Sari Truno pun berinisiatif menciptakan musik untuk mengiringi aktivitas pencak silatnya, agar Belanda mengira ini hanya bentuk ekspresi kesenian semata.

Dari ide Sari Truno, kemudian lahirlah musik Gholiban yang istilahnya diambil dari bahasa Arab yang berarti kebiasaan. Menurut Yuni Rusdiyanti (1994:84), arti kebiasaan dimaksudkan sebagai ketidaksukaan Sari Truno akan kebiasaan-kebiasaan Belanda yang sewenang-wenang terhadap pribumi. Karena dialek orang Jawa, istilah Gholiban kemudian menjadi Glipang.

Seiring perkembangannya, apa yang tersaji dalam perkumpulan pencak silat tersebut lambat laun menjadi ekspresi kesenian yang nyata. Lahir, tumbuh dan berkembang dalam masyarakat pendukungnya secara turun temurun dari generasi ke generasi. Kesenian ini memiliki paguyuban yang mengembangkan ilmu bela diri dengan mengajarkan berbagai ilmu silat.

Dengan keberhasilan Sari Truno mengajarkan ilmu bela diri, akhirnya mempu mengatasi kesombongan sinder-sinder Belanda. Untuk mengenang jasa Sari Truno, maka pewaris-pewaris mengembangkan ilmu bela diri dan diubah menjadi gerak tari yang kemudian dinamakan “Glipang”. Sebagian besar terdiri dari unsur-unsur gerak silat yang diperbarui sedemikian rupa. (Hidayat, 2006:4-5)

Antara Tari Glipang dan Terbang Gending

Untuk diketahui, masyarakat Probolinggo mayoritas beragama Islam. Mereka tidak menyukai pertunjukan gamelan di Jawa Timur yang umumnya melibatkan laki-laki dan wanita menari membuka aurat. Sebagian yang lain menyakini bahwa gamelan merupakan warisan agama Hindu dan Budha, sehingga bentuk peninggalan semacam itu dianggap “haram” oleh agama yang dianutnya.

Oleh karena itu, Sari Truno lebih memilih alat musik yang memiliki karakter Islam yang kuat. Alat musik yang dimaksud adalah Jidor yang diadopsi dari bedug masjid, Hadrah atau Terbang yang diyakini sebagai alat musik Islamiyah. Selain itu, ada juga terompet dan ketipung (sejenis kendang) yang mewakili budaya Madura sebagai daerah asal Sari Truno.

Menurut Soeparmo yang keturunan Sari Truno dan penerus kesenian Glipang, instrumen tersebut memiliki makna tersendiri. Jidor diibaratkan Allah Yang Maha Esa, sehingga bentuknya paling besar dan ditempatkan paling atas. 2 ketipung, lanang (laki-laki) dan wadon (wanita). Untuk menunjukkan bahwa derajat yang lebih tinggi, maka ketipung lanang ditempatkan diatas ketipung wadon.

Selain sebagai pengiring Tari Glipang, instrumen musik ini juga berdiri sendiri yang mana ketipung diganti terbang dengan penambahan kecrek didalamnya. Instrumen inilah yang kemudian disebut Terbang Gending karena instrumen terbang yang ada memainkan repertoar gending dalam gamelan. Untuk memungkinkan hal itu, maka instrumen terbang disetel sedemikian rupa seperti instrumen gamelan.

Hingga saat ini stereotip negatif pertunjukan gamelan masih sangat melekat bagi masyarakat Desa Pendil Probolinggo. Agar tetap bisa mengekspresikan wujud seninya, bersama Tari Glipang, Terbang Gendinglah yang digunakan, dimana didalamnya juga termuat memesis bunyi kendang, kempul, peking, kenong dan lain-lain seperti yang ada dalam Gamelan Jawa.

Menariknya, melalui fenomena ini Glipang dan Terbang Gending justru lahir sebagai wujud kesenian yang mandiri disamping keberadaan gamelan di Jawa. Lebih dari itu, Glipang dan Terbang Gending seolah menjadi ikon yang mengidentitaskan masyarakat pendukung kesenian ini.

Jenis & Gerakan Tari Glipang

Tari Glipang merupakan kesenian yang khas terutama sebagai tarian olah nafas yang dilambangkan sebagai bentuk ketidakpuasan rakyat pada penjajah. Ada semboyan tarian ini yang berkata “etembeng poteh matah, mongok potiah tulang” yang berarti daripada putih mata, lebih baik putih tulang. Semboyan tersebut mewakili watak Madura yang memegang teguh harga diri, pantang menyerah meski bertaruh harus bertaruh nyawa.

Dalam hal gerakan tari, Glipang memadukan gerakan Rudat, kesenian Topeng Gethak Madura, seni hadrah, gerakan samman, dan pencak silat. Mengenai hal ini, dikenal tiga jenis tari yang memiliki gerakan dan karakter sendiri yakni, Kiprah, Baris, dan Papakan :

  • Tari Kiprah : Tari olah keprajuritan. Jenis ini terbagi menjadi 16 dalam struktur gerakannya, meliputi Jelen Telasan, Soge’en, Sergep, Penghormatan Pertama, Silat Teng-teng, Ngongngang Salang, Suweng, Hadarah, Glipangan dan Kembengan. Selanjutnya adalah Semar, Samman, Nyengngok, Penghormatan Terakhir, Duduk di Kursi, dan Kembeng Taleh.
  • Tari Baris : Tari kegembiraan setelah meraih kemenangan dalam perang. Selain itu, tari ini juga menggambarkan para prajurit Majapahit yang berbaris di Jabung, Kabupaten Probolinggo. Mereka ingin tahu daerah Jawa Timur. Berawal dari badut, lawak hingga menjadi cerita rakyat. Perihal gerakan, jenis ini terbagi menjadi dua, yakni gerakan Melangkah dan Kobe’en.
  • Tari Papakan : Tari yang menggambarkan pertemuan dua orang yang telah lama berpisah, yakni Anjasmara dan Damarwulan. Dikisahkan, Damarwulan diutus untuk membunuh Minakjinggo dan berhasil setelah dibantu 2 istri Minakjinggo sendiri. Sebelum bertemu Anjasmara, Damarwulan dihadang oleh Layang Seto dan Layang Kumitir di daerah Besuki, Kabupaten Situbondo. Tari ini memiliki dua gerakan yakni, gerakan bersukaria dan Ngen-angen.
Tata Rias & Busana Tari Glipang

Tata rias dalam Tari Glipang di rancang sedemikian rupa untuk mencitrakan kegarangan atau ke-sangar-an seorang prajurit. Umumnya pemain diberi kumis dan godek dengan insturmen riasan terdiri dari celak, sedo, dan bedak. Untuk pemain musik, tidak dirias dan hanya memakai celana panjang hitam, baju piyama kuning, memakai sabuk blangdang dan odeng.

Dalam hal tata busana, berikut ini rincian busana dan aksesoris penari dalam Tari Glipang :

  • Penari Glipang : Busana penari Glipang berwarna merah dan hitam. Merah melambangkan orang Madura yang berani dan tidak takut mati. Sedangkan warna hitam melambangkan kegelapan pikiran yang pada akhirnya tidak bisa mengontrol hawa nafsu.
  • Busana Kiprah : Busana berwarna merah dan biru, ada juga busana warna kuning dan hijau. Aksesoris yang dipakai yaitu rompi, sabuk blandang, sampur, lancor, celana, jarit, keris, gungseng.
  • Busana Baris : Terdiri dari ikat kepala (sorban), plat bahu, simbar, baju piyama, samper, dan celana panjang merah.
  • Busana Papakan : Untuk penari laki, merupakan perpaduan dari busana Kiprah dan Baris, yaitu baju piyama, celana panjang, dan samper. Aksesoris yang dipakai yaitu odeng dan sabuk blandang. Busana perempuan yaitu baju kebaya, stagen, samper, dan aksesoris sunggar bunga, dan gungseng.

Musik & Lagu Pengiring Tari Glipang

Tari Glipang, dalam penyajiannya juga diiringi oleh musik dan vokal. Lagu Ayawaro adalah lagu pembukaan dalam penyajiaan Tari Kiprah Glipang, sementara ada juga pantun berlagu bebas yang dibawakan bergantian dalam Tari Papakan. Adapun alat musik terdiri dari lima jenis yang berbeda, diantaranya :

  • Terbang hadrah : Berjumlah antara tiga sampai lima. Berbentuk lingkaran diameter 30 cm. Jumlah terbang dimaknai sebagai lima rukun islam. Jumlah tiga maksudnya adalah rukun Islam, rukun iman, dan rukun ikhsan.
  • Serepoh : Seperti terompet sebagai pengiring irama nada syair yang dibawakan oleh penembang. Serepoh bermakna peniupan sangkakala oleh malaikat yang mewakili akhir dunia atau kiamat. Tiupan yang kedua berarti kebangkitan manusia dari alam kubur untuk dimintai pertanggung-jawaban.
  • Tongtongan : Alat yang biasanya digunakan oleh banyak orang untuk kegiatan siskamling di desa. Ide muncul dari benak pencipta bahwa tongtongan ini bisa dijadikan alat musik Glipang. Makna alat ini adalah pemberitahuan kepada warga untuk berkumpul.
  • Ketipung : Sebagai penanda setiap gerakan tari. Terdiri dari dua jenis yaitu ketipung laki, dan perempuan. Bermakna tentang dua hal yang berlawanan, misal ada siang dan malam, laki perempuan, ada buruk dan baik. Makna lainnya adalah perempuan harus taat kepada suami, dan perempuan tidak boleh menjadi imam. Jumlah pemain ketipung ini ada dua, yaitu penabuh ketipung perempuan dan penabung ketipung laki.
  • Jidor : Sebagai penggema suara pada kesenian Glipang. Jidor dimaknai sebagai lambang bahwa Tuhan itu ahad, dan agung. Sehingga Jidor diletakkan paling atas daripada alat musik yang lain.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *