Tari Hudoq Kalimantan Timur – Tarian Topeng nan Sakral dalam Ritual Padi

Sub suku Dayak di Kalimantan, masing-masing memiliki kesenian tradisional yang tumbuh dan berkembang dalam kehidupan budaya mereka. Tari Hudoq salah satunya. Kesenian ini terlahir dari kebudayaan sejumlah sub suku Dayak yang mendiami beberapa kecamatan di Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur.

Hudoq adalah tarian sakral yang berkaitan dengan penanaman padi. Tari ini hidup secara turun-temurun sebagai bagian dari ritual permohonan berkat Tuhan agar hasil panennya melimpah. Diselenggarakan setiap selesai Menugal (menanam padi) secara berpindah-pindah dari desa ke desa setiap tahun.

Secara etimologi Hudoq berarti menjelma. Karena itu, penarinya mengenakan topeng dari kayu menyerupai binatang buas. Ada yang mengatakan karakter topeng Hudoq mewakili 13 hama perusak tanaman. Namun, ada juga yang mengatakan karakter tersebut merupakan gambaran dewa yang memiliki kekuatan gaib.

Mitos Sejarah Tari Hudoq

Merujuk pada keterangan yang terdapat di situs kebudayaan.kemdikbud.go.id, Hudoq berasal dari kisah Halaeng Heboung. Ia adalah putra seorang raja bernama Hajaeng dari Kampung Laham Kejim, Epa Kejin, Apo Kayan. Kisah ini bermula dari Halaeng Heboung yang mencari mandaunya yang terjatuh di sungai.

Ketika tiba di leleing bouy meash (pusaran air) Sungai Kejin, Apo Kayan, Halaeng Heboung bertemu Selo Sen Yaeng yang merupakan manusia gaib dari dasar sungai. Singkat cerita, pertemuan tersebut membawa keduanya dalam ikatan perkawinan. Mereka pun telah memiliki seorang anak bernama Buaq Selo.

Suatu hari, Halaeng Heboung dan istrinya mengadakan tontonan hiburan dengan melibatkan seluruh makhluk gaib dari dasar sungai. Namun, hiburan itu malah membuat mereka takut dan berlari bersembunyi di lumbung padi. Sejak saat itu, mereka menyadari bahwa alam sekitarnya tidak lagi tentram.

Selanjutnya, mereka memutuskan kembali ke Kampung Laham Kejin. Sementara itu, Selo Sen Yaeng mengira suaminya telah meninggal ketika menyelam ke dasar sungai untuk mengambil mandaunya. Meski terpisah, hubungan Halaeng Heboung dan Selo Sen Yaeng tetap terjalin, yakni melalui ritual Hudoq.

Pelaksanaan Ritual dan Tarian

Tari Hudoq merupakan satu di antara tahapan ritual yang ada di dalam tradisi Dayak, yakni laliq ugal. Biasanya, tarian ritual ini ditampilkan ketika ada rencana membuka lahan pertanian, yakni ketika kepala suku telah menetapkan lahan tersebut dan selesainya acara persembahan delapan buah telur kepada leluhur. 

Pelaksanaan Tari Hudoq dimulai dengan upacara Sakaeng Ngaweit atau ritual monolog menyampaikan permohonan kepada Hudoq. Terkait perladangan, tujuan upacara Hudoq adalah memperoleh kekuatan agar bisa mengatasi gangguan hama, agar tanaman subur serta berharap akan keberlimpahan hasil panen.

Setelah Sakaeng Ngaweit, sekelompok ibu/perempuan dewasa menari, bersyair, dan membentuk arak-arakan di sepanjang jalan menuju rumah Lamin atau Maeso Puen. Tari ini tidak hanya dikenal suku Dayak Modang, namun juga Dayak Bahau, Kayan, dan Kenyah. Jadi, masing-masing memiliki keunikan tersendiri.

Tampilan dan penyebutan tokoh-tokoh Hudoq Modang sangat khas. Tokoh Hudoq di antaranya roh guntur (delay), harimau (lejie), buaya (wah jaeng), elang (nyehae), babi (ewoa), belut (telea), kera (yoq). Selain itu, ada juga roh penolong manusia (pen leih), roh manusia (sehuen), dan roh pengganggu (hedoq menlieu).

Dalam penyajiannya, Tari Hudoq tersaji dalam komposisi melingkar. Keluar masuknya penari berjalan spontan tanpa aturan khusus. Dalam hal ini penghayatan penari terhadap karakter tokoh yang dibawakan sangatlah penting, karena mereka seolah mediator dari kekuatan gaib yang diharapkan pertolongannya.

Pengiring dan Busana Hudoq

Topeng Hudoq terbuat dari bahan kayu khusus yang ringan dan tahan lama, seperti Jelatung, Pelay, atau Kemiri. Seperti yang tersebut di atas, karakter topeng Hudoq lebih banyak mewakili citra binatang. Untuk tata busananya, penari menutup badan dengan busana yang terbuat dari kulit pohon.

Busana tersebut berhias rumbai daun pisang. Lalu sebagai pelengkap, ada juga penggunaan penutup kepala berupa topi berbulu. Juga, sebuah tongkat kayu. Untuk musik pengiringnya, menggunakan gong dan tubun atau gendang kecil yang dapat digenggam. Tubun berlapis besisi (kulit kadal) pada salah satu sisinya.


Demikianlah sekilas tentang tarian Hudoq sebagai salah satu tarian sakral suku Dayak di Kalimantan Timur. Selain sifatnya yang religius, tarian tradisi tetap lestari dan mencitrakan kegotong-royongan dan kebersamaan, sekaligus sebagai hiburan. Tarian lain dari Kaltim, baca juga Tari Gantar dan Tari Kancet Papatai.

Referensi:

  1. kebudayaan.kemdikbud.go.id
  2. id.wikipedia.org/wiki/Hudoq
  3. indonesiakaya.com/pustaka…
  4. gambar: instagram.com/irene_sartika

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *