Tari Indang, Sumatera Barat – Perpaduan Cantik Antara Tari dan Sastra Lisan

Kebudayaan etnik Minangkabau di Sumatera Barat terkenal kaya dengan sastra lisan. Sebelumnya, telah dituliskan seni Randai yang menjadikan sastra sebagai salah satu unsur utamanya. Selain itu, ada juga tradisi lisan yang dirupakan dalam bentuk tarian, yakni Tari Indang sebagai tarian khas Pariaman, Sumatera Barat.

Nama lainnya adalah Tari Badindin, Tari Dindin Badindin, atau Tari Indang Badindin yang semuanya merujuk pada lagu pengiringnya, yakni “dindin badindin“. Adapun istilah “indang” mewakili alat musik sejenis rebana namun berukuran kecil, berkisar 18-15 cm. Dalam hal ini, indang berfungsi sebagai metronom (pengatur tempo).

Tari tradisional ini merupakan suatu bentuk sastra lisan yang tersampaikan dalam gerak secara berkelompok. Selain sebagai tari keagamaan yang berfungsi sebagai media dakwah Islam, saat ini Tari Indang juga merupakan tari pergaulan muda-mudi.

Tari ini hadir dengan gerakan yang kompak, dinamis dan cenderung ceria. Para penarinya dituntun untuk selalu bekerja sama antara satu dengan yang lainnya. Para penari yakni “anak indang” berjumlah ganjil. Mereka berdendang sambil memainkan indang dipimpin oleh seorang tukang dzikir.

Di dalam tarian Indah termuat nyanyian maqam, iqa’at, avaz dan mempergunakan musik gambus. Maqam menjadi perwakilan dari tangga nada, interval dan ambitus. Iqa’at mewakili pola ritmik, dan avaz merupakan melodi yang bergerak bebas tanpa irama yang juga merupakan musik khas Islam.

Sekilas Sejarah Tari Indang

Tari Indang adalah kesenian yang kental dengan pengaruh budaya Islam di Minangkabau dan merupakan manifestasi budaya mendidik melalui surau. Indang tumbuh berkembang di masyarakat Minang di kabupaten Padang. Hadir sebagai penggambaran datangnya agama Islam di Sumatera Barat pada kisaran abad ke-13.

Nasrul Azwar, aktivis budaya di Padang menyebutkan, secara historis tari ini adalah hasil akulturasi budaya Minang dan Islam yang menyebar pada abad ke-14. Peradaban Islam hadir melalui para pedagang Islam yang masuk ke Aceh. Bermula dari pesisir barat Sumatera hingga menyebar ke Ulakan-Pariaman.

Seperti yang tersebut di atas, kesenian ini lahir dan berkembang di surau-surau yang biasanya diselenggarakan selepas aktivitas mengaji. Oleh karena bersifat pendidikan agama, maka isi nyanyian yang di dalamnya memuat perihal pengajaran agama.

Adapun dalam perkembangan selanjutnya, permainan ini berubah dari surau keluar surau ke tempat yang disebut laga-laga. Laga-laga merupakan sebuah tempat yang tidak memiliki dinding, sehingga memungkinkan penonton dapat menonton penampilan kesenian ini dari segala penjuru.

Dahulu, setiap nagari di Pariaman memiliki grup Indang sendiri dan menariknya, dulu Indang terkesan sakral. Ada yang berkata, setiap kelompok Indang memiliki “sipatuang sirah” yakni orang tua yang memiliki kekuatan gaib. Ia bertugas menjaga keselamatan dari kekuatan luar yang dapat menghancurkan kelompok lain.

Selain itu, dalam hal pemilihan waktu, ada istilah Indang naik dan Indang turun. Apabila memasuki hari pertama, permainan Indang akan dimulai tengah malam antara jam 11-12 malam. Sementara itu, bila permainan memasuki hari kedua, maka mulainya ketika hari sudah senja atau sehabis sholat Maghrib.

Permainan Indang Pariaman

Ada yang mengatakan, Indang adalah tarian tradisional karya dari Rapa’i. Rapa’i sendiri adalah sebutan untuk pengikut setia Syekh Burhanuddin, seorang tokoh terpandang sebagai pelopor Tradisi Tabuik atau juga Tradisi Tabot. Oleh karena itu, Tari Indang hampir selalu ada setiap kali terselenggara perayaan tersebut.

Seiring perkembangannya, Tari Indang senantiasa lestari terutama di Kabupaten Padang Pariaman. Daerah ini populer dengan permainan Indang Pariaman atau Indang Piaman. Salah satu kekhasannya adalah selalu tampil pada malam hari dalam perhelatan nagari seperti batagak kudo-kudo dan festival budaya lainnya.

Dalam prakteknya, Indang Pariaman umumnya melibatkan 3 grup yang datang dari 3 desa berbeda. Satu sebagai tuan rumah dan dua grup lain sebagai pendatang. Dalam posisi duduk formasi segitiga, ketiganya berdiskusi tentang satu tema atau masalah sebelum kemudian menentukan grup yang akan bermain duluan.

Biasanya tuan rumah akan memulai permainan. Sebelumnya mereka pun telah mengarang nyanyian atau kata-kata yang berorientasi pada hal-hal yang terjadi di pihak mereka. Hal-hal tersebut bisa terkait nama bukit, sungai, hasil alam, kebiasaan penduduk, dll. Permainan ini berlangsung meriah secara bergantian.

Bentuk Penyajian Tari Indang

Tari Indang adalah permainan tradisional yang melibatkan pemain berjumlah ganjil, 9-25 orang. Sambil duduk berdampingan mereka memainkan Indang atau Ripai. Mengiringi setiap gerak dengan lagu-lagu secara serentak bersama-sama. Para penari memainkan Indang dengan memukul dengan tangan atau menjentikkan jari.

Meski sederhana, gerakan Tari Indang sarat makna. Gerak tangan dengan jari terbuka, patah-patah menyiku mengarah ke atas menggambarkan rasa syukur dan pengagungan. Gerak utamanya adalah menepuk tangan secara berirama hingga menimbulkan kesan ceria dan serasi karena dilakukan oleh lebih dari satu orang.

Sementara itu, gerakan badan biasanya naik turun atau ke kanan dan ke kiri. Para penari “anak indang” meliuk-liukkan tubuh secara serempak serta berlawanan antara satu dengan yang lainnya. Kalau yang satu meliukkan badan ke kanan agak ke depan, maka pemain berikutnya meliukkan badan ke arah kiri ke belakang.

Sebagai sebuah permainan, selain para penari, dalam Tari Indang juga terdapat orang-orang yang memiliki peran penting. Mereka turut mewarnai jalannya pertunjukkan, di antaranya :

  • Tukang Dzikir : berperan sebagai penyanyi tunggal yang kemudian diikuti oleh seluruh pemain. Posisinya duduk di belakang di luar deretan pemain yang lain.
  • Tukang Alih : berperan mengubah atau mengalihkan gerakan yang satu ke gerakan lain. Selain juga mengalihkan cara pemukulan Indang oleh para pemain.

Musik Pengiring dan Busana

Bagi masyarakat di Pariaman, gendang rebana atau Indang mereka sebut juga gendang Rapa’i yang merujuk nama pencipta tarian ini. Rebana berukuran kecil berbahan kulit kambing ini tidak hanya sebagai instrumen pelengkap saja, namun juga salah satu elemen musik penting dalam pementasan Tari Indang.

Selain Indang yang mengalun rampak, iringan Tari Indang semakin meriah dengan suara marwas, perkusi, kecrek, dan biola. Selain itu, seorang syekh (Tukang Dzikir) juga memperindahnya dengan lantunan syair-syair bernuansa Islami yang bermuatan kebaikan, penghormatan pada Nabi, serta kepatuhan pada Tuhan.

Tari Indang merupakan tari muda-mudi yang sederhana sehingga tidak ada tata rias khusus. Hal ini juga berlaku pada busana, para pemain umumnya memakai kostum sederhana khas Minang. Secara keseluruhan, tari ini merepresentasikan masyarakat Pariaman yang bersahaja, saling menghormati, serta taat memeluk agama.

Referensi:

  1. alliaoktisativa.files.wor…
  2. wonderfulminangkaba…
  3. id.wikipedia.org/wiki/I…
  4. indonesiakaya.com/jela…

8 Responses

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *