• sumber : fabulousubud.com

Tari Janger, Bali – Tarian Rakyat yang bermula dari Petani Kopi

posted in: Bali, Sejarah, Seni dan Budaya, Tari | 0

Tari Janger adalah salah satu tarian pergaulan Bali yang biasanya dibawakan oleh 10-16 orang penari muda mudi. Tari Janger tergolong tari balih-balihan sehingga lebih difungsikan untuk menghibur. Ditarikan oleh sejumlah penari putri (Janger) dan penari putra (Kecak) secara sederhana, ceria dan penuh semangat.

Janger menyajikan gerak tari klasik Bali yang cenderung sebagai pemindahan dari gerakan Tari Arja, Topeng, Tari Baris atau Jauk. Penasar biasanya memakai gerakan Tari Arja dan Topeng, Mentri juga menggunakan gerakan tari Arja. Sebagai pembeda dari Pejanggeran adalah gerakan tari pada penari Kecak dan Janger-nya.

Ketika menarikan tarian ini, para penari menyanyikan lagu Janger secara bersahut-sahutan serta diiringi oleh Gamelan Batel (Tetamburan) dan Gender Wayang. Seni Tari Janger tergolong dalam jenis tari kreasi baru Bali yang diadaptasi dari rutinitas para petani bali sebagai hiburan ketika lelah bekerja.

Sebagai tarian rakyat, perkembangan Tari Janger begitu pesat dan tersebar hampir diseluruh daerah Bali. Menariknya, tarian ini di masing masing daerah di Bali memiliki variasi tersendiri yang disesuaikan dengan masyarakat pendukungnya.

Sejarah Tari Janger

Tarian Janger termasuk salah satu kesenian terpopuler di Pulau Bali yang diperkirakan lahir pada kisaran tahun 1920-an di Bali Utara. Bermula dari nyanyian para petani kopi yang bersahut-sahutan, mereka menghibur diri untuk mengusir lelah dengan bernyanyi terutama pada kelompok perempuan.

Bentuk yang sederhana dari aktivitas petani tersebut kemudian berkembang menjadi seni pertunjukan tari rakyat. Bernuansa gembira yang tentunya tetap senada dengan kehidupan masyarakat yang membawanya. Sumber lain mengatakan bahwa Sejarah Tari Janger diduga berawal pada kisaran abad ke XX dan merupakan perkembangan dari Tari Sanghyang.

Sebagai tarian rakyat, perkembangan Tari Janger begitu pesat dan tersebar hampir diseluruh daerah Bali. Menariknya, tarian ini di masing masing daerah di Bali memiliki variasi tersendiri yang disesuaikan dengan Masyarakat pendukungnya.

Tari Janger di daerah Tabanan biasanya dilengkapi oleh penampilan Dag yakni peran yang menggunakan pakaian seperti Jenderal Belanda. Peran tersebut menghadirkan improvisasi gerakan serta terkadang memberi komando kepada semua penari.

Di Desa Metra (Bangli) terdapat Tari Janger Maborbor yang diakhiri dengan kerauhan atau kesurupan para penarinya. Terdapat juga Tari Janger yang diiringi oleh Gamelan Gong Kebyar di desa Sibang, Badung yang dinamakan Janger Gong. Ada juga Janger yang hanya dipentaskan oleh warga desa yang mengalami tunawicara di Desa Bulian, Buleleng.

Sejarah Perkembangan Tari Janger juga diwarnai pergolakan politik yang terjadi selama perjalanannya. Dimana sifat pertunjukan tari ini lebih difungsikan sebagai sarana kampanye, terutama terjadi di tahun 1960an. Ketika itu Janger diracuni masalah politik yang kentara dengan adanya Janger PKI dan Janger PNI sehingga mengakibatkan terjadi pertentangan di tengah-tengah masyarakat bali.

Setelah meletusnya G-30-S/PKI, Janger pun menghilang. Masyarakat Bali trauma dengan kesenian Janger karena seolah-oleh menggambarkan sisi buruk Bali. Janger kemudian muncul kembali di Era Orde Baru dan tetap saja menjadi corong politik pada masa itu yaitu Politik Pembangunan. Terhitung pada kisaran tahun 1970-an popularitas Janger naik kembali.

Pementasan Tari Janger

Dalam pertunjukannya, Tari Jangger terdiri dari beberapa bagian diantaranya :

  • Pembukaan : Bagian ini diisi dengan tabuh pembukaan dari seperangkat gamelan yang terdiri dari kendang, ceng-ceng, kajar, kendang rebana, klenang, kemong, suling dan kadang-kadang ditambah beberapa tungguh gender wayang yang berlaras selendro. Bentuk lagu-lagu pembukaan bisa berupa batel tetamburan, bisa juga lagu penggalang yang lain.
  • Pepeson : Bagian ini dimulai dengan nyanyian dan tarian bersama oleh penari janger dan kecak. Mereka membentuk formasi sedemikian rupa di gapura tempat pertunjukan. Dilanjutkan dengan iring-iringan janger yang terbagi menjadi dua baris yakni ketika para penari janger duduk dan disusul dengan masuknya penari kecak. Mereka kemudian membentuk formasi saling berhadap-hadapan. Kecak dengan kecak di sisi yang berseberangan dan janger dengan janger di sisi yang berseberangan lainya. Demikian formasi mereka adalah membentuk garis segi empat dengan arah hadap penari semuanya menghadap kedalam arena tari.
  • Pejangeran : Pada sesi ini, penari kecak dan janger menari sambil menyanyi saling bersahut-sahutan bersama-sama. Mereka larut dalam suasana gembira dan penuh semangat. Nyanyian yang dibawakan berbahasa bali dengan tema muda-mudi. Tidak jarang penari kecak berpindah tempat yakni duduk berhadap-hadapan dengan penari janger. Setelah bagian pejangeran ini selesai maka penari kecak maupun penari janger merubah posisi menjadi duduk dua baris di sisi-sisi arena tari sehingga penari yang tampil berikutnya mempunyai ruang gerak yang lebih luas.
  • Lakon : Bagian lakon biasanya diisi dengan kisah-kisah termasuk lakon arjuna wiwaha, sunda-upasunda, gatot kaca sraya dan lainya. Bentuk lakon ini adalah semacam prembon dimana terdapat unsur penasarnya, mentri, baris atau jauk. Terdapat pula unsur rangda dan lain sebagainya. Selama adegan ini berlangsung janger dan kecak seolah-olah sebagai penonton biasa. Kalau seandainya diperlukan penari tambahan seperti penari bidadari, kupu-kupu dan lain sebagainya biasanya diambil dari penari janger.
  • Penutup : Bagian penutup kembali diisi dengan Tarian Janger dan Kecak dengan menyanyikan lagu permohonan maaf dan selamat tinggal kepada penonton. Dengan demikian perlahan-lahan penonton beranjak dari tempat duduk dan para penari kecak dan janger juga keluar kalangannya atau masuk ke ruang ganti.
Gerakan dan Busana Tari Jangger

Dalam hal Gerakan, tari ini menggunakan gerak Tari Klasik Bali yang cenderung merupakan pemindahan dari gerakan Tari Arja, Topeng, Baris atau Jauk. Penasar biasanya memakai gerakan Tari Arja dan Topeng, Mentri juga menggunakan gerakan tari Arja. Sebagai pembeda dan merupakan ciri khas dari Pejanggeran adalah terdapat pada gerakan tari pada Penari Kecak dan Jangernya.

Meskipun Kecak pada dasarnya masih tetap menampilkan gerak-gerak tari Bali Klasik seperti nayog,ngagem kanan,ngagem kiri,ngeseh bawak,nyeloyog dan beberapa motif gerak tari Bali klasik lainya. Namun gerakannya dipadukan dengan unsur pencak silat sehingga menghasilkan gerakan yang khas.

Adapun Penari janger menari dengan berpegangan pada gerak-gerakan tari Bali klasik diantaranya adalah mungkah lawing,ngagem kanan,ngagem kiri,ngeseh bawah,nyeleyog,nguluh wangsul,ngelikas,ngenjet,ngengot,ulap-ulap,dan lain sebagainya. Uniknya baik penari Janger maupun Kecak, kebanyakan melakukan tarian dengan posisi bersimpuh atau duduk bersila.

Dalam hal Tata Busana, penari janger dan kecak memakai busana peran yang ditampikan dalam lakon adalah sama dengan arja, topeng, baris, maupun jauk. Janger pada umumnya mengenakan busana seperti: gelungan janger,badong gelang kanan, sabuk, kain, oncer dan ompak-ompak. Perlengkapan lainnya yang digunakan janger adalah kipas. Sedangkan kecak mengenakan busana terdiri dari: kain, kekancutan, sabuk, ampok-ampok, badong, gelang kana dan udeng.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *