Tari Jugit Kalimantan Utara – Tentang 2 Tarian Klasik Kesultanan Bulungan

Di Kalimantan Utara, pernah hidup Kesultanan Bulungan (Bulongan) yang kekuasaannya menjangkau hingga Negara Bagian Sabah (Malaysia). Kesultanan yang berdiri tahun 1731 inilah cikal bakal Kabupaten Bulungan yang beribu kota Tanjung Selor. Tersebutlah Tari Jugit sebagai karya seni klasik dari kesultanan tersebut.

Dalam kehidupan masyarakat kesultanan pada masa lalu, kesenian tari terklasifikasikan setidaknya menjadi dua, yakni Tarian Istana dan Tarian Rakyat. Tarian Jugit merupakan jenis tari istana atau tari klasik yang hanya tampil ketika pihak Kesultanan Bulungan mengadakan acara-acara adat dan acara resmi istana.

Terdapat sumber yang mengatakan bahwa Tarian Tradisional Kalimantan Utara ini terlahir pada kisaran (paruh kedua) abad ke-18 Masehi. Tersebut juga bahwa Tari Jugit tercipta sebagai hasil kreasi dari Datuk Maulana dan Datuk Mahubut, yang keduanya merupakan seniman sekaligus laksamana bagi Kesultanan Bulungan.

Tarian Jugit bukanlah merujuk pada satu variasi bentuk, melainkan terbagi menjadi dua jenis tari, yakni Jugit Paman dan Jugit Demaring. Memiliki nama berbeda, tentunya dua tari ini memiliki perbedaan dalam beberapa hal, termasuk bentuk dan fungsi tari, serta nilai sakralitas dari keduanya. Meskipun, ada pula kemiripannya.

Perbedaan Tari Jugit Paman dan Jugit Demaring

Jugit Paman merupakan tarian sakral sebagai persembahan untuk raja. Tari ini hanya tersaji di dalam atau hingga batas teras depan istana. Sedangkan Jugit Demaring bisa ditampilkan di luar tembok istana, sebagai tari penyambutan tamu yang menggambarkan suka cita rakyat Bulungan dalam menyambut mereka.

Dalam fungsinya untuk menyambut tamu kehormatan, ada hal yang unik sehubungan dengan penyajian Tari Jugit Demaring. Untuk penyambutan tamu di dermaga istana maupun dalam Biduk Bebandung (kapal layar kesultanan), ketika mendarat, penarinya langsung digendong oleh seseorang dalam keadaan terus menari.

Jugit Paman dan Jugit Demaring gerakannya berbeda. Gerak tangan Jugit Paman sebatas bahu, Jugit Demaring sebatas dada dengan kipas di tangan kanan dan selendang di tangan kiri. Dalam Jugit Paman, tangan kiri tidak bergerak ketika jatuh ke belakang, adapun Jugit Demaring tetap bergerak saat jatuh ke samping.

Dalam Jugit Demaring terdapat gerakan “Ayu Ane” yakni gerak menggendong anak yang tidak terdapat di dalam Tarian Jugit Paman. Pada gerakan ini, penari menguncupkan kipas lalu tangan kanan yang memegang kipas tersebut di letakkan pada tangan kiri. Gerak tangannya mengambil posisi seperti menggendong anak.

Syair untuk Jugit Paman hanya satu, yakni Gandang Lais dengan iringan musik tiga buah kelantang atau kolintang. Syair untuk Jugit Demaring ada dua, yakni Kalau (sore) dan Jumalom (jauh malam). Alat musik pengiring Jugit Demaring lebih beragam, tidak hanya kolintang namun bisa juga memakai rebana dan biola.

Di masa lalu, pembawa syair Jugit Paman dan Jugit Demaring berjumlah 4-10 orang. Lagunya tidak boleh terputus karena penari mengikuti isyarat gerak dari syair tersebut. Perbedaan lain adalah busana, Jugit Paman busananya warna merah (atas) dan kuning (bawah). Untuk Jugit Demaring, kuning (atas) dan hijau (bawah).


Demikian sekilas perihal dua tarian klasik istana Kesultanan Bulungan, yakni Jugit Paman dan Jugit Demaring. Terkhusus untuk Jugit Demaring, pada tahun 2016 telah masuk dalam daftar Warisan Budaya Tak Benda Indonesia. Menyusul kemudian penetapan tari Kalimantan Utara lainnya, yakni Tari Lalatip pada tahun 2017.

Referensi:
  1. muhammadzarkasy-bulungan.bl…
  2. warisanbudaya.kemdikbud.go.id…

2 Responses

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *