Tari Kancet Papatai Kalimantan Timur – Sejarah, Penyajian dan Properti Tari

Tari Kancet Papatai. Sebagai salah satu negara multikultural terbesar, banyak hal di Indonesia yang tergambarkan dalam bentuk kesenian, termasuk peperangan. Gambaran perang dalam hal ini lebih menunjukkan tentang kepahlawanan dan keberanian prajurit dari suatu suku bangsa.

Hampir setiap suku bangsa yang ada di Indonesia memiliki tarian bertema peperangan. Tersebutlah suku Dayak Kenyah di Kalimantan Timur sebagai salah satu di antaranya. Masyarakat Dayak Kenyah memiliki tari perang atau yang dalam bahasa lokalnya bernama Kancet Papatai.

Tari Kancet Papatai Dayak Kenyah merupakan tarian tradisional yang cukup populer sehingga mewakili kekhasan tari perang Kalimantan Timur. Tarian ini dalam prakteknya mengisahkan tentang pahlawan suku Dayak Kenyah dalam menghadapi musuh-musuh mereka.

Oleh karena itu, tidak ada gerakan lemah gemulai seperti dalam Tari Kancet Ledo, yang ada hanyalah gerakan yang cenderung lincah, gesit dan bersemangat. Semakin berapi-api, ketika penari memperagakannya bersama teriakan khas suku Dayak dalam adegan peperangan.

Secara keseluruhan, tarian tradisional ini mewakili keperkasaan dan keberanian kaum laki-laki Dayak Kenyah. Perang adalah sebuah keniscayaan bagi bertahannya suatu suku, dan Kancet Papatai menjadi bentuk pertahanan diri yang terkemas dengan baik dalam bentuk seni.

Meski suku Dayak Kenyah kaya akan tarian adat, Kancet Papatai adalah satu-satunya jenis tari perang. Oleh karena itu, tarian ini tetap terjaga kelestariannya sebagai ikon tari perang Kalimantan Timur yang sering tampil dalam beragam upacara adat atau acara budaya lainnya.

Sejarah Tarian Kancet Papatai

Dalam sejarahnya, tidak ada yang tahu secara pasti kapan tari ini tercipta. Ada banyak pendapat yang turut mewarnai perihal kapan Tari Kancet Papatai di Kalimantan Timur mulai ditarikan. Salah satunya, ada pendapat yang mengatakan bahwa tarian ini sudah ada sejak tahun 1948.

Banyak juga pendapat yang mengatakan tari ini mulai tampil pada 1970-an. Pada kisaran tahun tersebut (ada yang bilang 1976), Suku Dayak banyak yang mendiami Apau Kayan yakni kawasan dataran tinggi di hulu Sungai Kayan dan berbatasan langsung dengan Serawak, Malaysia.

Sayangnya, keragaman Suku Dayak yang ada sering menimbulkan peperangan antar suku. Karena sering mendapat serangan dari suku lain, maka Tari Kancet Papatai lahir sebagai simbol kejantanan dan keperkasaan kaum lelaki Kenyah yang selalu siap bertempur dalam peperangan.

Secara simbolis, tarian khas Dayak ini mewakili keberanian mereka yang setiap saat harus mempertahankan wilayah agar tidak jatuh ke tangan negara atau masyarakat lainnya. Selain pada gerakan, simbol-simbol keberanian tersebut juga terlihat pada aksesoris busana penarinya.

Di sisi lain, Suku Dayak Kenyah termasuk masyarakat yang memiliki rasa nasionalisme yang sangat tinggi. Rasa nasionalisme tersebut sering kali membuat mereka terpaksa hijrah demi keinginan untuk tetap bergabung sebagai masyarakat dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Perlu diketahui, sebelum tahun 1960-an, Suku Apo Kayan dan Kenyah banyak yang berdomisili di kawasan Kutai Barat dan Manilau. Selanjutnya, mereka memilih berpindah karena tidak ingin bergabung dengan Malaysia, meski negara tersebut menjanjikan harapan taraf ekonomi yang tinggi.

Selama bertahun-tahun mereka berpindah-pindah hanya dengan berjalan kaki. Dalam usaha menyambung hidup, mereka singgah di tempat-tempat baru dengan berladang. Pada akhirnya mereka tiba di kawasan Pampang Samarinda Utara, sebagian lain bergerak ke hilir menuju Tanjung Palas.

Meskipun hidup dengan cara berpindah-pindah, Suku Dayak Kenyah tetap kukuh menjaga kelestarian kebudayaan nenek moyang. Mereka bertenun, mengukir, membuat aneka kerajinan tangan, tanpa terkecuali tetap berusaha melestarikan tarian perang mereka, yakni Tari Kancet Papatai.

Saat ini Tari Kancet Papatai lebih terkenal ketimbang ketika orang Kenyah masih tinggal di Apau Kayan. Bahkan, tari ini menjadi ikon tari Perang Kalimantan Timur. Meski begitu, sejak awal, Kancet Papatai tetaplah mewakili keberanian orang Kenyah dalam kancah peperangan antar suku.

Dahulu tari ini merupakan bagian dari pesta kemenangan. Di masa sekarang, selain mereka telah mengikuti perkembangan zaman, popularitas tari ini tetap terjaga melalui keberadaan Desa Pampang yang merupakan kawasan budaya yang menjadi obyek wisata andalan Kota Samarinda.

Bentuk Penyajian Kancet Papatai

Dalam penyajiannya, Tari Kancet Papatai melibatkan para penari laki-laki atau yang biasa mendapat sebutan ajai. Ketika tarian perang ini tampil, umumnya akan dimeriahkan oleh dua tari kancet lainnya yang ditarikan oleh kaum perempuan, yakni Tari Kancet Ledo dan Tari Kancet Lasan.

  • Tari Kancet Ledo mewakili penggambaran kelemah-lembutan kaum perempuan dari Suku Dayak Kenyah. Mereka membawakan tari ini dengan gerakan laksana sebatang padi yang meliuk-liuk lebut tertiup angin.
  • Tari Kancet Lasan merupakan tari tunggal wanita yang mewakili penggambaran kehidupan sehari-hari burung Enggang. Burung tersebut merupakan simbol keagungan dan kepahlawanan bagi Suku Kenyah.

Sebagai tari tradisional yang bertemakan peperangan, kejantanan dan keberanian terlihat sangat menonjol dalam Kancet Papatai. Hal ini tidak hanya tersaji dalam gerakan yang cenderung gesit, lincah, dan bersemangat, tetapi juga terkesan dari instrumen pelengkap para penari tarian ini.

Properti Tari Kancet Papatai

Aksesoris atau properti tari, di antaranya sebagai berikut :

  • Kelambit : sebuah perisai berbahan kayu ringan namun kuat dan berhias ukiran pada bagian luarnya. Fungsi awal alat ini adalah penangkis untuk mempertahankan diri dari serangan musuh.
  • Mandau : salah satu senjata khas Dayak sebagai pusaka turun temurun dan merupakan barang keramat atau memiliki kesaktian. Biasanya, senjata tradisional ini dikenakan atau diikat pada pinggang.
  • Baju Perang Dayak : Sebagai tarian perang, penari Kancet Papatai menggunakan baju perang yang terbuat dari kulit kayu atau kulit binatang. Selain berhias logam, sering kali baju ini juga berhias rajah atau tulisan-tulisan (ada keyakinan dapat mendukung keselamatan pemakainya).

Referensi:

  1. ejournal.sos.fisip-unmul.ac.id…
  2. id.wikipedia.org/wiki/Kan..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *