• sumber : cikal01.blogspot.com

Kancet Papatai – Tari Perang Kalimantan Timur

Tari Kancet Papatai. Sebagai salah satu negara multikultural terbesar di dunia, banyak hal di Indonesia yang digambarkan dalam bentuk kesenian, tidak terkecuali peperangan. Pengambaran perang dalam hal ini lebih menunjukkan tentang kepahlawanan dan keberanian prajurit dari suatu suku bangsa. Hampir setiap suku di Indonesia memiliki tarian perang, salah satunya adalah suku Dayak Kenyah di Kalimantan Timur yang memiliki tari perang atau dalam bahasa lokalnya disebut Kancet Papatai.

Tari Kancet Papatai adalah tarian yang cukup populer sehingga diidentikkan sebagai tari perang Kalimantan Timur. Sebuah seni tari yang berkisah tentang pahlawan suku Dayak Kenyah dalam menghadapi musuh-musuhnya. Oleh karena itu, tidak ada gerakan lemah gemulai seperti dalam Tari Kancet Ledo, yang ada hanyalah gerakan yang cenderung lincah, gesit dan bersemangat. Semakin berapi-api ketika diwarnai teriakan khas suku Dayak dalam adegan peperangan yang diperagakan sang penari.

Secara keseluruhan, tari ini mewakili keperkasaan dan keberanian kaum laki-laki Dayak Kenyah. Perang adalah sebuah keniscayaan bagi bertahannya suatu suku, dan Kancet Papatai menjadi bentuk pertahanan diri yang dikemas dalam bentuk seni. Meski suku Dayak Kenyah kaya akan tarian adat, Kancet Papatai adalah satu-satunya jenis tari perang. Sehingga tarian ini tetap lestari sebagai ikon tari perang Kalimantan Timur yang sering digelar dalam beragam upacara adat atau acara budaya lainnya.

Sejarah Tari Kancet Papatai

Dalam sejarahnya, tidak diketahui secara pasti kapan tari ini diciptakan. Beragam pendapat turut mewarnai perihal kapan Kancet Papatai mulai ditarikan. Ada yang berpendapat bahwa tari ini sudah ada sejak tahun 1948. Disisi lain, banyak pendapat yang mengatakan bahwa tari ini mulai ditarikan pada kisaran 1970-an. Pada kisaran tahun tersebut (ada yang bilang 1976), Suku Dayak banyak yang mendiami Apau Kayan yakni kawasan dataran tinggi di hulu Sungai Kayan dan berbatasan langsung dengan Serawak, Malaysia.

Sayangnya, keragaman Suku Dayak yang ada sering menimbulkan peperangan antar suku. Oleh karena sering mendapatkan serangan dari suku-suku lain, maka ditarikanlah Tari Kancet Papatai sebagai simbol kejantanan dan keperkasaan kaum lelaki Kenyah yang selalu siap bertempur dalam peperangan. Secara simbolis, tari ini mewakili keberanian mereka yang setiap saat diharuskan untuk mempertahankan wilayah agar tidak dikuasai oleh negara atau masyarakat lainnya. Selain pada gerakan, simbol-simbol tersebut juga diperkuat oleh aksesoris yang dikenakan.

Di sisi lain, Suku Dayak Kenyah termasuk masyarakat yang memiliki rasa nasionalisme yang tinggi. Rasa tersebut membuat mereka terpaksa hijrah demi keinginan untuk tetap bergabung dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Untuk diketahui, sebelum tahun 1960-an, Suku Apo Kayan dan Kenyah banyak yang berdomisili di Kutai Barat dan Manilau. Selanjutnya mereka memilih berpindah lantaran tidak ingin bergabung dengan Malaysia yang menjanjikan harapan taraf ekonomi yang tinggi. Sejak saat itu, selama bertahun-tahun mereka menempuh perjalanan dan berpindah-pindah hanya dengan berjalan kaki.

Dalam usaha untuk menyambung hidup, mereka singgah ditempat-tempat yang dilalui dengan berladang. Hal itu terus dilakukan hingga pada akhirnya mereka sampai di kawasan Pampang di Samarinda Utara, sebagian lain ada yang bergerak ke hilir menuju Tanjung Palas. Meskipun sering berpindah-pindah, Suku Dayak Kenyah tetap bertahan pada budaya leluhurnya, seperti bertenun, mengukir, membuat aneka kerajinan tangan, serta tetap berusaha melestarikan tarian perang mereka, yakni Tari Kancet Papatai. Di Desa Pampang sendiri dapat dijumpai Lamin, yakni rumah panjang khas Dayak.

Tari Kancet Papatai sendiri saat ini semakin populer jika dibandingkan dengan ketika orang Kenyah masih tinggal di Apau Kayan. Bahkan dikatakan sebagai ikon tari Perang Kalimantan Timur. Meskipun begitu, sejak awal, Kancet Papatai tetaplah mewakili keberanian orang Kenyah dalam kancah peperangan antar suku. Dahulu tari ini menjadi bagian dari pesta kemenangan. Di masa sekarang, selain mereka telah mengikuti perkembangan zaman, popularitas tari ini juga disebabkan oleh keberadaan Desa Pampang sebagai kawasan budaya yang menjadi obyek wisata andalan kota Samarinda.

Penyajian Tari Kancet Papatai

Dalam penyajiannya, Tari Kancet Papatai ditarikan oleh para penari laki-laki atau yang biasa disebut sebagai ajai. Ketika tarian perang ini digelar, umumnya akan dimeriahkan oleh dua tari kancet lainnya yang ditarikan oleh kaum perempuan, yakni Tari Kancet Ledo dan Tari Kancet Lasan.

  • Tari Kancet Ledo mewakili penggambaran kelemah-lembutan kaum perempuan dari Suku Dayak Kenyah. Mereka membawakan tari ini dengan gerakan laksana sebagatng padi yang meliuk-liuk lebut ditiup angin.
  • Tari Kancet Lasan merupakan tari tunggal wanita sebagai penggambaran kehidupan sehari-hari burung Enggang. Burung tersebut dianggap sebagai simbol keagungan dan kepahlawanan bagi Suku Kenyah.

Sebagai tari yang bertemakan perang, kejantanan dan keberanian sangatlah menonjol dalam Kancet Papatai. Hal ini tidak saja dihadirkan dalam gerakan yang cenderung gesit, lincah, dan bersemangat, tetapi juga diperkuat oleh instrumen pelengkap para penarinya. Aksesoris atau properti taru yang digunakan, diantaranya sebagai berikut :

  • Kelambit : sebuah perisai berbahan kayu ringan namun kuat dan berhias ukiran pada bagian luarnya. Fungsi awal alat ini adalah penangkis untuk mempertahankan diri dari serangan musuh.
  • Mandau : salah satu senjata khas Dayak sebagai pusaka turun temurun yang dianggap sebagai barang keramat atau memiliki kesaktian. Biasanya, alat ini dikenakan atau diikat pada pinggang.
  • Baju Perang Dayak : Sebagai tarian perang, penari Kancet Papatai menggunakan baju perang yang terbuat dari kulit kayu atau kulit binatang. Selain dihiasi logam, sering kali baju ini juga dihias oleh rajah atau tulisan-tulisan yang diyakini dapat mendukung keselamatan pemakainya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *