Tari Kipas Pakarena Sulawesi Selatan – Cerminan Karakter Suku Makassar

Selain sarat dengan makna, sebuah tarian tradisional juga menjadi media yang ideal untuk menggambarkan masyarakat pendukungnya. Sebagai contoh adalah Tari Kipas Pakarena, rangkaian gerakan tarinya mencerminkan karakter halus dan lembut wanita Sulawesi Selatan.

Sementara itu, karakter kaum lelakinya yang keras dan tegas terwakili oleh hentakan musik yang mengiringi tariannya. Pakarena adalah sebuah ekspresi kesenian suku Makassar yang telah mentradisi di kalangan masyarakat Gowa yang merupakan wilayah bekas Kerajaan Gowa.

Dalam perkembangannya, tarian yang terkait dengan etika perempuan Makassar ini banyak terdapat di Kabupaten Gowa, Takalar, Bantaeng dan Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan. Tari Pakarena melibatkan sekitar 4 penari perempuan dengan gerakan yang lembut dan halus.

Sebenarnya, penyajian Tari Kipas Pakarena terdiri dari 12 babak. Namun, oleh karena gerakannya yang sangat halus sehingga sulit membedakan pembabakan tersebut. Hanya gerakan posisi duduk yang menandakan awal dan akhir pertunjukan tariannya.

Gerakan tarinya sangatlah artistik dan sarat makna. Di dalamnya terdapat gerakan berputar mengikuti arah jarum jam sebagai penggambaran siklus kehidupan manusia. Selain itu, ada juga gerakan naik turun yang mencerminkan irama kehidupan.

Kelembutan dan kehalusan gerakan tersebut kemudian terkesan kontradiktif dengan tabuhan musik yang bergemuruh bertalu-talu. Instrumen musik pengiring tarian ini turut mencerminkan karakter keras dan tegas kaum laki-laki Makassar.

Para pemusik bermain kencang, terlebih pada pemain gendang yang memainkan alat musik membranofon dengan sangat energik. Pemain gendang adalah pemimpin yang menentukan irama dan tempo. Selain gendang, ada juga alat musik lain, seperti gong, katto-katto, dan puik-puik.

Sejarah dan Mitos Tari Kipas Pakarena

Sebagai kesenian tradisi, Tari Pakarena tidak lepas dari cerita-cerita mitologi. Tidak ada data tertulis yang menyebutkan nama penciptanya. Semua legenda tentang sejarah Pakarena berkaitan dengan makhluk khayangan yang tersampaikan secara lisan dari generasi ke generasi.

Konon, tari ini bermula dari kisah perpisahan penghuni boting langi (negeri kahyangan) dengan penghuni lino (bumi). Sebelum berpisah, boting langi mengajarkan lino mengenai cara hidup, bercocok tanam, beternak hingga cara berburu melalui gerakan-gerakan tangan, badan dan kaki.

Gerakan-gerakan tersebut kemudian menjadi tari ritual penduduk lino untuk menyampaikan rasa syukur kepada boting langi. Selain cerita tersebut, ada juga yang menghubungkan Tari Kipas Pakarena dengan legenda Tumanurung ri Tamalate yang merupakan somba (raja) pertama kerajaan Gowa.

Untuk pertama kalinya, Pakarena muncul bersamaan dengan Putri Tumanurung ri Tamalate. Disebutkan bahwa, Pakarena merupakan tarian pengiring dan pelengkap kebesaran Tumanurung ri Tamalate. Istilah Pakarena berasal dari kata “karena” yang berarti main.

Meski kini juga populer disebut Tari Kipas Pakarena dengan fungsi yang lebih profan, tarian ini dulunya bernama sere jaga. Tari sere jaga menjadi sarana ritual sebelum atau seusai menanam padi. Saat itu propertinya adalah seikat padi pilihan yang dianggap sebagai dewi padi.

Selanjutnya, sere jaga digelar semalam suntuk dalam upacara seperti ammatamata jene, ammata-mata benteng, dan lain-lain. Seiring perjalanan, terjadilah beberapa perubahan dalam penyajian dan piranti, seikat padi kemudian lambat laun diganti dengan kipas.

Selain terkait dengan perwatakan wanita Makassar, ciri utama Pakarena adalah kipas dan selendang, gerakan tangan lambat, langkah tenang dan musik yang bergemuruh. Karena dimensi ritual yang menyertainya, Tari Pakarena terus hidup menghidupi ruang batin masyarakat Gowa dan sekitarnya.

Tarian ini juga sempat menjadi kesenian istana pada masa Sultan Hasanuddin sebagai raja Gowa ke-16, lewat sentuhan Li’motakontu, ibunda sang sultan. Tarian ini berkembang melalui sistem pewarisan secara turun temurun dan kekeluargaan dari anrongguru (pemimpin kesenian dalam istana).

Pasang surut juga sempat mewarnai perjalanan Tari Kipas Pakarena, terutama saat ada gerakan pemurnian Islam oleh Kahar Muzakkar. Pada saat itu, Pakarena merupakan salah satu kesenian tradisional yang dianggap bertentangan dengan ajaran Islam.

Meski demikian, tragedi tersebut tidaklah menyurutkan hati masyarakat untuk menggelutinya sebagai bagian kehidupan yang menghubungkan mereka dengan Yang Kuasa. Selebihnya, perkembangan Tari Kipas Pakarena juga tidaklah terlepas dari perubahan secara fungsional.

Jika pada awalnya bersifat sakral, tarian ini juga hadir dengan fungsi hiburan. Polemik tersebut setidaknya telah membagi seniman Pakarena menjadi dua bagian, seniman pro pariwisata dengan seniman tradisi yang kukuh menjaga tarian ini pada fungsi awalnya yang sakral.

Bagian-Bagian dalam Penyajian Tari

  • Samboritta (berteman) : Istilah lainnya adalah paulu jaga yaitu kegiatan begadang semalam suntuk. Ada juga yang mengartikan sebagai awal tarian yaitu memberi hormat kepada pengunjung. Bagian ini merupakan bagian pertama dalam pertunjukan tari.
  • Jangang leak-leak (ayam berkokok) : Tari Pakarena dulunya tampil semalam suntuk sehingga bagian penutupnya biasanya berlangsung sekitar pukul 04.00 subuh. Jangang leak-leak artinya saat ayam mulai berkokok. Tarian ini merupakan bagian ketiga dalam Pakarena yang bermakna mencari jalan kembali ke asal mula.

Selain yang tersebut di atas, ada 11 bagian Pakarena lain, sebagai berikut :

  • Ma’biring kassi : Artinya mendarat ke pantai, tersaji pada babak kedua yang mempunyai makna permohonan yang terkabul.
  • Bisei ri lau’ (dayung ke timur) : Juga pada babak kedua. Maknanya bergerak ke arah timur yaitu arah terbitnya matahari sebagai sebuah spirit kehidupan di muka bumi.
  • Angingkamalino (angin tanpa hembusan) : Tarian dalam babak kedua. Sebagaimana angin yang tidak berhembus dan tidak membawa kesejukan, tarian ini menggambarkan rasa kecewa.
  • Anni-anni (memintal benang) : Bagian pada babak kedua yang mempunyai makna bahwa sebuah pekerjaan yang dilakukan dengan penuh ketekunan pasti membuahkan hasil kelak. Tari Pakarena jenis ini biasanya tampil dalam upacara perkawinan.
  • Dalle tabbua (meniti nasib dengan sabar) : Tersaji pada babak kedua. Mengandung makna filosofis bahwa hidup di muka bumi ini harus dijalani dengan penuh kesabaran.
  • Nigandang (berulang-ulang) : Tersaji pada babak kedua. Bermakna bahwa segala sesuatu seringkali harus dilakukan secara berulang-ulang tanpa rasa putus asa. Sehingga, pada akhirnya akan memberikan kesudahan yang baik.
  • So’nayya (bermimpi) : Tarian dalam babak kedua. Maknanya bahwa sebagai seorang manusia kita tidak boleh mengharapkan sesuatu yang terlalu tinggi tanpa usaha dan daya upaya yang setimpal dengan mimpi yang kita cita-citakan.
  • Iyolle’ (mencari kebenaran) : Bahwa kebenaran haruslah terus dicari agar hidup menjadi tenang hati menjadi tenteram.
  • Lambassari (kekecewaan) : Berarti apa yang kita usahakan dalam hidup ini seringkali berakhir dengan kekecewaan.
  • Leko’ bo’dong (bulat sempurna) : Perumpamaannya adalah bulan purnama yang dianggap memiliki bentuk bulat yang sempurna dan bersinar terang.
  • Sanro beja’ (dukun beranak) : Tampil pada babak kedua, menampilkan pemaknaan tentang cara merawat diri bagi perempuan yang baru saja melahirkan. Sesuai dengan penamaannya, tarian ini umumnya hadir dalam upacara kelahiran.

Ragam Gerakan Tari Kipas Pakarena

Seperti tersebut pada awal artikel ini, kesan kelembutan sangat mendominasi tarian ini. Secara jelas setiap gerakan yang ada menjadi cermin watak perempuan suku Makassar sesungguhnya, sopan, setia, patuh dan hormat pada laki-laki, terutama pada suaminya.

Dalam penyajiannya, tarian ini melibatkan sekitar 3, 4, 6 atau lebih penari perempuan. Para penari Pakarena membawakan tari dengan lebih banyak menampilkan gerakan tangan terayun ke kanan dan ke kiri, serta ke depan secara beraturan dalam tempo yang lamban.

Gerakan tangan mereka terangkat paling tinggi hanya sebatas bahu, tidak pernah terangkat hingga setinggi kepala dan tangan kanan memegang kipas. Pandangan para penari selalu tertuju ke lantai paling jauh dua hingga tiga meter dari ujung kaki mereka.

Adapun gerakan kaki hanya bergesar (ke kanan, ke kiri, ke depan dan ke belakang) namun tidak terangkat dari permukaan lantai. Gerakan yang teramat lembut, tak urung menyulitkan masyarakat awam membedakan babak demi babak, meski Tari Pakarena terdiri dari 12 babak.

Setiap pola gerak dalam Pakarena memiliki makna khusus. Gerakan pada posisi duduk yang menjadi pertanda awal dan akhir penyajian tari. Gerakan memutar mengikuti arah jarum jam mewakili siklus kehidupan manusia. Ada juga gerakan naik turun yang mencerminkan irama kehidupan.

Selain itu, dalam Tari Pakarena juga terdapat aturan main. Misalnya, penari tidak boleh membuka mata terlalu lebar dan kaki tidak boleh terangkat terlalu tinggi. Hal ini, setidaknya berlangsung dalam durasi dua jam. Bahkan, dulu semalam suntuk mulai jam delapan malam hingga waktu subuh.

Butuh dedikasi berlebih pada tari ini. Para penari harus mempersiapkan diri dengan prima, baik fisik maupun mental. Karena harus melakukan gerakan monoton dalam durasi yang melelahkan, para perempuan di Sulawesi Selatan umumnya tidak begitu berminat menjadi penari Tari Pakarena.

Musik Pengiring Tari Kipas Pakarena

Jika setiap gerakan dalam Pakarena mewakili karakter perempuan Makassar, maka iringan tetabuhan yang disebut Gandrang Pakarena merupakan gambaran karakter keras kaum pria Makassar. Iringan musik seolah mengalir sendiri, menghentak bergemuruh bak angin kencang dan gelombang badai.

Hal ini memungkinkan Gandrang Pakarena bukan hanya sekedar instrumen musik pengiring tari, namun juga penghibur penonton. Semakin menghibur, ketika tabuhan gendang berkombinasi dengan tuip-tuip (seruling), para pasrak atau bambu belah dan gong.

Komposisi sejumlah alat musik tradisional yang biasanya melibatkan 7 orang pemain ini terkenal dengan nama Gondrong Rinci. Pemain Gandrang sangat berperan besar yang mana irama musik yang ada selalu bergantung pada pukulan Gandrang.

Hal inilah yang menuntut pemain Gandrang harus menyadari kepemimpinannya dan harus paham jenis gerakan Tari Pakarena. Biasanya selain jenis pukulan yang menjadi pertanda irama musik bagi pemain lainnya, penabuh Gandrang juga menggerakkan tubuh dan kepalanya.

Ada dua jenis pukulan dalam Gandrang, pertama pukulan Gandrung menggunakan stik tanduk kerbau, kedua pukulan tumbu yang hanya menggunakan tangan. Gemuruh suara yang ada, turut memicu semangat penonton bertahan meski tari ini tampil semalam suntuk.

Selain alunan musik, ada juga iringan syair atau lagu yang penyajiannya menyesuaikan acara. Misalnya, jika tampil pada acara penyambutan pahlawan perang atau pada pesta bulan purnama. Salah satu lagu yang terkenal sebagai lagu pengiring Pakarena berjudul dongang-dongang.

Busana dan Properti Tarian Pakarena

Para penari Pakarena menggunakan pakaian tradisional Bugis Makassar yakni Baju Bodo. Baju ini terbuat dari kain kasa transparan berlengan pendek yang bersambung dengan lengan bagian dalam. Ukuran baju ini umumnya mencapai lutut manusia dan berbentu persegi empat.

Pada masa lalu, Baju Bodo memiliki warna-warna tertentu sebagai penanda stratifikasi sosial masyarakat. Sementara itu, untuk saat ini sudah bersifat umum dengan memadukan beragam warna. Selain itu, bahan kain juga ada yang terbuat dari kain sutra.

Penari juga memakai sarung (top). Dulu sarungnya polos, saat ini motifnya beragam. Properti lain sebagai ciri khas adalah selendang di pundak kiri dengan warna sesuai warna Baju Bodo. Selendang berada di tangan kiri, kipasnya adalah kipas biasa tergenggam di tangan kanan.

Referensi:

  1. repo.isi-dps.ac.id/1083/1/Ke…
  2. repository.isi-ska.ac.id/1012…
  3. southcelebes.wordpress.com…
  4. belajar.kemdikbud.go.id/Pet…

2 Responses

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *