• sumber : reogsenengbarengjatirejo.blogspot.com

Tari Klana Raja – Tari Klasik Gaya Yogyakarta

posted in: Jawa, Seni dan Budaya, Tari, Yogyakarta | 0

Tari Klana Raja adalah salah satu Tarian Klasik Gaya Yogyakarta yang pertama kali disusun oleh R. Soenartomo Tjondroradono. Tercipta pada tahun 1976 yang mana pada tahun tersebut lahir pula tari Yogyakarta lain yakni Tari Klana Alus dan Tari Golek Kenyotinembe oleh KRT Sasmintodipuro.

Tari Klana Raja disebut sebagai tari yang terinspirasi dengan adegan raja yang sedang jatuh cinta pada seorang putri pada lakon Wayang Wong. Tidak hanya itu, bahkan susunan geraknya juga mengambil dari adegan yang ada pada Wayang Wong.

Tarian ini dinamakan dengan Klana Raja karena busana dan ragam yang digunakan adalah ragam raja yang menggunakan mahkota. Ada juga yang mengatakan bahwa penamaan tersebut berangkat dari gambaran figur raja yang merupakan manifestasi penguasaan Mayapada dan alam astral yang hadir.

Pemaknaan “Klana” merujuk pada tokoh besar pengelana. Sebuah konotasi dari manusia-manusia yang gemar berimajinasi terhadap hal-hal yang besar. Memiliki cita-cita tinggi yang kadang-kadang berasosiasi pada romantisme suatu ke ”gandrungan” yang tidak mesti bersifat erotis atau cenderung seks melainkan pada idealisme yang estetis. Ada suatu kegagahan dalam pengeJawantahan.

Sesuai dengan pemaknaan pada nama, Tari Klana Raja ditampilkan sebagai gambaran keagungan raja. Bergaya tari gagah “Kalang Kinantang Raja” dan bukanlah seperti pada Kalang Kinantang biasa. Perbedaan paling kentara dapat dilihat pada gerakan “Ngunus” kaki kiri, yang mana tangan kiri sejajar gerak kaki.

Gerakan kemudian melanjutkan kearah badan, lengkung kekiri atas, kemudian ”Coklek” pergelangan tangan disambung ”Pacak Gulu” yang menyelesaikan phrase gerak itu secara manis dan jantan. Adapun gerakan tangan kiri diperuntukkan pada ” Ngoyong Kanan” maupun pada saat ”Tancep” yang memberikan ekspresi kesebaran.

Gambaran keagungan semakin terlihat pada Tarian Klana Raja ketika diringi irama gending ”Lung Gadung” berpelog bem. Iringan Gamelan terkesan mengundang kesan erotik terutama pada bagian tari “Nglana”. Begitu sakral seperti diupacara temanten, berbeda dengan ”Bendrong” pada klana topeng yang menggelitik secara profan, bahkan pada golek ”Lambang Sari” menimbulkan rangsangan tingkat tinggi karena kehalusannya.

Dalam hal tata busana Tari Klana Raja, penari dipakaikan teropong (mahkota) seperti yang dipakai oleh Prabu Baladewa- Suteja. Dikatakan sebagai hiasan paling agung di antara hiasan kepala raja jenis lainnya, seperti ”Songkok” Duryudana yang masih dimungkinkan dipakai. Sedangkan ketu Narpati Basukarna, ”Keling” Wibisana kurang lazim dikenakan. Berbeda dengan wayang pada umumnya, penari klana menambah sampurnya melingkar di leher, yang banyak berfungsi dibandingkan dengan penggunaan sampur pinggang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *