• sumber : www.wacana.co

Tari Likok Pulo, Aceh – Seni Tari Pesisir dari Masyarakat Pulau Breuh

Tari Likok Pulo. Kesenian tradisional Aceh secara umum diketahui sebagai wujud budaya yang berakar pada sumber-sumber nilai keagamaan masyarakatnya, yakni Agama Islam. Hal ini juga berlaku pada seni tari tradisinya. Beberapa yang telah ditulis disini adalah Tari Saman, Tari Bines, Tari Laweut, Tari Seudati dan Tari Tarek Pukat. Selain yang telah disebutkan, masih banyak tari Aceh lainnya termasuk Tari Likok Pulo yang merupakan tarian bagi masyarakat di Pulo Aceh.

Likok Pulo adalah seni tari pesisir. Hal ini telah diisyaratkan oleh namanya, “Likok” berarti gerakan tari sedangkan “Pulo” berarti pulau. Pulau yang dimaksudkan disini adalah Pulo Aceh atau Pulau Beras (Breuh) yakni sebuah pulau yang berada di daerah Aceh Besar di ujung pelosok utara Pulau Sumatera. Seperti umumnya tari Aceh, Likok Pulo merupakan tarian massal yang dibawakan oleh 10-12 penari.

Dalam penyajiannya, para penari Tari Likok Pulo duduk memanjang dengan posisi selang seling atas bawah dan dilengkapi dengan properti berupa bambu seukuran jari telunjuk. Setiap gerakan biasanya memuat nasehat-nasehat yang disampaikan melalui syair oleh penari utama yang biasa disebut Syekh. Tarian ini juga disertai pemukulan rapa’i (musik) untuk mengatur tempo (metronom) tari.

Busana yang digunakan oleh para penari umumnya bebas, namun berwarna serasi untuk menunjang keseragaman dan kerapian dalam barisan tari yang ditampilkan. Selain busana, terdapat beberapa properti yang difungsikan untuk memperindah penampilan & gerak yang akan dihadirkan. Dalam Likok Pulo Aceh umumnya digunakan ikat kepala, songket, Boh Likok untuk penari dan Rapaie untuk Syahi.

Sebagai sebuah media komunikasi dakwah, Tarian Likok Pulo secara instrinsik banyak menyimpan simbolis yang salah satunya mampu menjadi publikasi strategis dalam pembentukan identitas dan karakter masyarakat. Simbol-simbol dari sistem budaya masyarakat tersebut secara terorganisir termuat dalam gerak, iringan, kostum, properti, pola lantai serta unsur dramatik yang dihadirkan.

Sejarah Tari Likok Pulo

Tarian Likok Pulo Aceh adalah satu-satunya tari tradisional yang berkembang di masyarakat Pulo Aceh. Untuk pertama kalinya, tarian ini lahir di desa Ule Paya sebagai hasil karya dari seorang pedagang sekaligus seorang ulama bernama Syeh Ahmad Badron. dikisahkan dalam perjalanan dagangnya ia terombang-ambing di laut dan kemudian terdampar di Pulau Breh pada kisaran tahun 1849.

Selanjutnya, ia menetap dan mengajar agama Islam di Pulau Aceh. dalam proses dakwah Islam tersebut Syeh Ahmad Badron ingin menguatkan amal ibadah dan akidah masyarakat Pulo Aceh. Akhirnya lahirlah Tari Likok Pulo sebagai bentuk penyatuan rapaie, syair dan gerak sebagai sarana perbaikan dan pembangunan akidah dan tauhid Islam, selain juga turut membangun persaudaraan antar masyarakat.

Pada mulanya, tarian ini biasa digelar sesudah menanam padi atau pada masa menjelang panen tiba. Di awal sejarahnya, tarian Likok Pulo Aceh hanya melibatkan penari laki-laki saja, namun seiring perkembangannya tari ini juga dimainkan oleh penari wanita. Hal ini dimaksudkan sebagai pemenuhan kebutuhan estetika pertunjukan yang juga menunjukkan bahwa masyarakat Aceh sangat kreatif dalam mewujudkan budaya khususnya kesenian tradisional.

Ragam Gerak Tari Likok Pulo

Tari ini disajikan dengan pola lantai sejajar seperti shaf dalam sholat, yakni duduk antara dua sujud. Umumnya penari juga dilengkapi dengan properti yang disebut Boh Likok (berbentuk silinder sebesar ruas bambu yang dapat dipegang oleh dua jari). Mereka juga berperan sebagai penyepit (menghimpit) membentuk kerapatan sehingga semua penari menyatu dalam posisi banjar. Hal ini dimaksudkan untuk menentukan keutuhan dan keseragaman gerak. Berikut ini adalah ragam gerak dalam tarian Likok Pulo :

  1. Saleum : Gerak salam sebagai pembuka tari. Penari menepuk tangan dan menepuk tangan teman disampingnya. Kemudian mereka mengangkat tangan kanan memberi salam kepada penonton, sementara telapak tangan kiri diletakkan dibawah siku tangan kanan.
  2. Lumbang Heu Geulumbang : Awalnya tangan kanan menepuk tangan kiri dua kali dalam posisi badan membungkuk berhadapan antara penari kiri dan kanan berpasangan. Selanjutnya menepuk dada satu kali, menepuk tangan diatas kepala 2 kali dan menepuk tangan 2 kali didepan masing-masing penari.
  3. Ingat Ke Tuhan : Gerakan dilakukan dengan saling berhadapan antara penari ganjil dan genap yang diakhiri tepukan tangan antara penari samping kanan dan kiri. Gerakan ini diakhiri dengan membungkuk berhadapan antara penari ganjil dan genap.
  4. Ala Minhom : Gerak mengayunkan badan ke depan dan ke belakang. Penari yang berposisi badan ke arah belakang menepuk tangan kirinya, sementara penari bawah menepuk tangan kanannya ke arah tangan kiri penari di arah belakang. Sesi ini diakhiri posisi sorang-saring, penari ganjil posisinya ke bawah dan penari genap duduk tegak.
  5. Han Meu Pateh Natsu Angen : Secara bergantian, penari genap menekan tangan ke lantai sambil memegang Boh Likok dan penari ganjil menepuk ke belakang. Gerakan di akhiri pemain genap mengambil posisi tegak menatap penonton, sedangkan penari ganjil membungkuk menghadap ke permukaan lantai.
  6. Neuraka Tujoh : Gerakan menekan Boh Likok ke lantai dan ke dada. Kemudian memutar badan ke samping kanan dan kiri. Gerakan ini diakhiri dengan ikatan rantai menggunakan Boh Likok yang selanjutnya diayunkan ke sisi kanan dan kiri seperti gelombang laut.
  7. Ala Harom : Sebuah gerakan mengikat antar penari ganjil dan genap kemudian berjalan jongkok membentuk lingkaran. Setelah itu, penari ujung kiri naik ke atas ikatan penari yang membentuk bulatan. Sebuah atraksi menarik ditampilkan sebelum berbalik ke arah masing-masing, kembali mengikat antara bahu penari. Pada posisi tersebut, penari ujung kiri kembali naik ke atas ikatan rantai.
  8. Salam Penutup : Gerakan menepuk tangan ke depan dan ke dada. Selanjutnya telapak tangan kiri memegang siku tangan kanan dan tangan kanan melambai ke depan memberi salam perpisahan.

Musik & Syair Pengiring Tari Likok Pulo

Ada dua komponen yang mengiringi tarian Likok Pulo Aceh yakni iringan rapaie yang dibawakan oleh dua penabuh dan syair. Syair atau nyanyian pada tarian ini sendiri terdiri dari dua bagian; Syeh, sebagai bagian pembuka mulai gerak Syeh dan Syahi menyanyikan lirik dengan pola santai. Yang kedua adalah Saur sebagai bagian lirik yang dinyanyikan secara serentak oleh penari bergantian dengan Syahi dalam tempo yang dinamis.

Berikut ini adalah contoh syair Tari Likok Pulo Aceh dalam Komunitas Saleum dari sendratasik Unsyiah Aceh :

Syair pertama

La Bismillah awai lon pu phon
Ulon khen suroh ado ek asai pa mula
Ulon khen suroh ado euk asai bak nabi
meutuah saidi ado euk seot beurata

Artinya:

Dengan bismillah kami buka
Menyampaikan pesan baik dari terdahulu
Menyampaikan pesan baik dari nabi
Kabar yang benar, mari kita nyanyikan bersama

Syair kedua

ALLAH, lumbang he geulumbang
Glumbang meu alon, meu alon sayang
Di laot raya hay raya
Beu ka mebura oh meu bura

Ingat lah ingat
Ingat ke tuhan, ke tuhan saying
Uro ngen malam hy malam
Bek sangai lupa oh sagai lupa

Artinya:

Allah, gelombang oh gelombang
Gelombang yang beralun alun sayang
Di lautan luas yang sangat luas
Telah berberai berai

Ingatlah ingat
Ingat ke tuhan, ke tuhan sayang
Dari awal pagi hingga malam nanti
Jangan pernah coba melupakannya

Syair ke tiga

Ala minghom, minghom ala
Ala ala nanggro A.
La aceh nyo
La tempat lon lahee
Ala minghom, minghom ala
Ala ala bak ujong
La pante
La pulo Sumatra
Minghom ala barokon lam jaro kafe
Minghom ala ala kahana lee, aman sentosa

Artinya:

Ala minghom, minghom ala
Ala negeri A
Naggro aceh nyo
Tempat saya lahir
Ala minghom, minghom ala
Ala di ujung pantai
Pulau Sumatra
Tempo dulu di jajah kafir
Sekarang tidak lagi, aman sentosa

Syair ke empat

He hen jak, lala he henjak
Bek ta pateh natsu, natsu angen lah e rakan
He hen jak, lala he henjak
Dalam donya udep lah getanyo lah sesaat

Artinya:

Wahai semua, wahai semua
Jangan percaya kepada hawa nafsu
Wahai semua, wahai semua
Dalam dunia ini hidup kita Cuma sesaat

Syair ke lima

Allah, neraka tujoh jino jino lon rawi
Mangat ta turi maha sinama
Yang phon jahannam nama geu kasih
Singoh lon rawi oh yang ke dua

Artinya:

Allah, sekarang kami ceritakan tentang neraka tujuh
Supaya rakan kenal namanya
Yang pertama neraka jahannam
Bsok akan kami ceritakan yang ke dua

Syair ke enam

Ala harom hay harom
Timoh kemang meukemang
Bungong jumpa la di aceh raya
Adat ngen budaya lah budaya
Beugot hay ta jaga
Bek sampo tamong budaya lua oh hy lua

Artinya:

Sungguh wangi
Tumbuh mekar
Bunga jumpa di aceh raya
Adat dengan budaya
Harus kita jaga
Jangan sampai di pengaruhi budaya luar

Syair ke tujuh

Oh rakan lagu ka abeh
Lagu ka abeh yang kamo hiding
Kamo meriwang malam ka jula
Menyo na salah neu maafkan

Artinya:

Wahai saudara lagu sudah habis
Lagu sudah habis yang kami tampilkan
Kami mau pulang malam pun tiba
Jika lau kami salah mohon maafkan

Artikel mengenai Tari Likok Pulo Aceh ini ditulis sebagai rangkuman dengan merujuk dari berbagai sumber. Sumber utama dari tulisan ini adalah karya dari Achsanul Khaliqin berjudul Tari Likok Pulo Aceh (Studi Tentang Simbol dan Makna di Komunitas Saleum Banda Aceh). Untuk memperkaya pengetahuan Pembaca sehubungan dengan tari tradisional Aceh ini, bisa juga membaca tautan referensi yang penulis sediakan dibawah ini :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *