Tari Maengket, Sulawesi Utara – Tarian Dalam Ritual Panen Padi Di Minahasa

Tari Maengket. Dalam kehidupan budaya masing-masing suku di Indonesia, tari merupakan penggal budaya yang paling banyak terlibat dalam upacara adat, tidak terkecuali ritual panen padi. Sebagai misal adalah Tari Rentak Kudo, Tari Ketuk Tilu, Tari Gandrung, dan Tari Andun yang sejarahnya terkait erat dengan upacara pertanian.

Masyarakat Minahasa di Sulawesi Utara juga memiliki tarian khas yang pada awalnya juga ditujukan sebagai ungkapan rasa syukur sehabis panen padi, yakni Tari Maengket. Sama halnya dengan Tarian Kabasaran, Maengket telah menjadi identitas budaya bersama meskipun Suku Minahasa memiliki 8 sub-etnis dengan bahasa yang berbeda-beda.

Maengket merupakan tarian kelompok berpasangan yang umumnya dibawakan oleh 12 pasang penari pria dan wanita. Mereka menari sambil menyanyi dipimpin oleh kapel, yang diperankan oleh seorang wanita. Istilah Maengket berasal dari kata “engket” yang berarti bergerak bersama, juga bisa diartikan mengangkat tumit naik-turun sesuai lagu.


Sejarah Tari Maengket

Maengket telah menjadi bagian budaya masyarakat Minahasa sejak mereka mengenal pertanian. Pada mulanya berupa nyanyian-nyanyian sakral yang dimaksudkan untuk kepentingan-kepentingan khusus. Kesenian ini lahir dalam lingkup masyarakat petani sebagai suatu upacara sakral yang berhubungan dengan padi.

Di antara orang Minahasa ada beberapa orang yang diberi gelar “walian” sebagai pemimpin upacara adat yang dilaksanakan pada waktu-waktu khusus tersebut. Saat musim menanam tiba, para walian mengadakan ritual membaca tanda-tanda alam untuk menentukan waktu dan tempat yang cocok untuk melakukan berbagai aktivitas.

Selanjutnya, mereka juga memimpin upacara permohonan kepada Empung Walian Wangko (Tuhan Yang Maha Esa). Didalamnya dinyanyikanlah lagu-lagu pujian dan permohonan yang diikuti dan diulangi oleh para peserta dengan suara keras. Mereka berharap agar diturunkan berkat kesuburan pada tanah yang akan ditanami padi.

Tradisi ini memiliki tiga babak, yakni maowey kamberu, marambak, dan lalayaan. Meski ada begitu banyak nyanyian, namun hanya syair pada Maowey Kamberu yang menunjuk pada Maengket, yakni untuk ritual panen padi. Tidak diketahui bagaimana akhirnya ketiga babak tersebut kemudian disatukan dan disebut Tari Maengket.

Menariknya, tarian ini juga menjadi bagian dari liturgi ibadah gereja di Minahasa. Untuk ibadah yang sifatnya umum digunakanlah Tari Maengket Maowey Kamberu, ibadah untuk peresmian rumah baru digunakan Tarian Maengket Marambak. Adapun untuk sajian dalam pesta perkawinan digunakan Tarian Maengket Lalayaan.

Meski mengalami perkembangan sedemikian rupa, tarian ini tetap menggunakan unsur-unsur keasliannya. Sebagai misal adalah penggunaan bahasa dan formasi seperti lingkaran. Untuk saat ini, secara fungsional tarian ini juga dipertunjukkan untuk berbagai kegiatan, baik berfungsi pendidikan, sosial, atau hanya sekedar hiburan.


Babak / Jenis Penyajian Tari Maengket

  • Maowey Kamberu

Mengusung tema perihal bagaimana orang Minahasa membuka lahan, menanam, memanen padi, hingga ucapan rasa syukur atas keberlimpahan padi. Diawali dengan permohonan, dilanjutkan dengan membentuk suatu mapulus (gotong-royong) untuk melakukan suatu aktivitas. Maka disitulah kemudian dinyanyikan syair Maowey Kamberu.

Tarian Maengket Maowey Kamberu dihadirkan dalam formasi khusus. Sebagai formasi utama yang juga menjadi ciri khasnya adalah para penari lelaki berbaris membentuk formasi setengah lingkaran. Para penari wanitanya juga berbaris setengah lingkaran dan berada di depan para penari laki-laki.

  • Marambak

Mengusung tema perihal bagaimana orang Minahasa membangun rumah baru, mulai dari memilih kayu yang berkualitas hingga jadilah rumah yang kokoh. Ketika pembangunan rumah sudah selesai, Tarian Maengket Maramba digelar sebagai penyambutan. Dalam formasi lingkaran para penari berpegangan pada pundak penari yang ada di depannya.

  • Lalayaan

Tari Maengket bertema pergaulan muda-mudi dalam usahanya mencari jodoh. Formasi tarian ini terbagi menjadi dua kelompok barisan. Mereka menari sambil berpegangan tangan dalam formasi lingkaran. Terkadang ada juga yang saling berhadap-hadapan antara penari laki-laki dan penari perempuan.


Tata Busana Tari Maengket

Dalam hal tata busana, para penari Maengket menggunakan pakaian adat. Penari wanita menggunakan kebaya dan kain panjang khas Sulawesi Utara, rambut mereka di gelung (konde) dan diberi hiasan. Sementara itu untuk kostum penari laki-lakinya adalah baju lengan panjang, celana panjang, dan penutup kepala khas Sulawesi Utara.

Bagi penari yang berperan sebagai pemimpin (kapel) busananya juga hampir sama namun dengan warna berbeda ditambah beberapa kreasi sebagai pembeda. properti tari yang digunakan biasanya adalah sapu tangan. Selebihnya untuk pertunjukan tari di masa sekarang, kostum yang digunakan bisa menjadi lebih bervariasi.

  • 2
    Shares

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *