Tari Nyambai – Seni Tradisi Dalam Upacara Adat Nayuh, Lampung Saibatin

Dalam lingkup masyarakat Saibatin (pesisir) Lampung, rangkaian upacara adat perkawinan besar-besaran lazim disebut sebagai upacara Nayuh/Penayuhan. Dalam upacara tersebut ada satu bagian yang disebut Nyambai. Dalam Nyambai terdapat satu sesi unjuk kemampuan menari. Tariannya disebut Tari Nyambai.

Nyambai sendiri merupakan acara pertemuan khusus yang diperuntukkan bagi Meghanai (bujang) dan Muli (gadis). Ajang silaturahmi, tempat di mana mereka saling berkenalan sambil menunjukkan kemampuan dalam menari. Selain sebagai sarana mencari jodoh, Nyambai juga menjadi sarana mempererat kekerabatan.

Dalam hal istilah, Nyambai diambil dari kata Cambai dalam bahasa Lampung yang berarti “sirih“. Bagi masyarakat Lampung, sirih merupakan perlambang keakraban. Sering kali digunakan dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam upacara adat dengan makna berbeda-beda yang bergantung pada penempatannya.

Dalam pengertian yang lebih luas, Nyambai berarti mempertemukan antara ujung dan pangkal dari julur Cambai. Ini berarti mengetahui semua keadatan masyarakat Lampung Saibatin. Prosesi Tari Nyambai terikat atau hanya diadakan apabila diselenggarakan upacara adat Nayuh yang dilakukan selama semalam penuh.

Antara Upacara Nayuh & Tarian Nyambai

Nayuh merupakan upacara adat besar-besaran seorang Saibatin. Secara istilah, Nayuh berasal dari bahasa Lampung, yakni Nayah yang berarti “banyak“. Ini menggambarkan banyaknya orang yang berkumpul bersama-sama dalam melakukan suatu kegiatan adat yang sudah ditetapkan pimpinan Hadat Saibatin.

Dalam hal ini, pimpinan Hadat tertinggi yang berhak melaksanakan Nayuh dengan memakai atribut adat terlengkap. Ketika Nayuh dilaksanakan, maka seluruh masyarakat Saibatin diharuskan menurunkan wakilnya di adat, yakni anak-anak gadis (muli) dan anak-anak bujang (mekhanai) untuk menari Nyambai.

Meskipun sebagai tari pergaulan tradisional, Tari Nyambai merupakan tarian adat yang terikat oleh aturan. Tata cara Penyambaian pun sudah diatur dan pantang untuk dilanggar oleh seluruh masyarakat pendukungnya. Dalam Nayuh, terdapat dua jenis Nyambai, yakni Nyambai Adat dan Nyambai Tuan.

Nyambai Adat

Nyambai Adat umumnya dilaksanakan pada malam setelah diadakannya upacara adat Nayuh dan hanya keturunan Punyimbang (bangsawan) yang bisa mengadakannya. Dilaksanakan apabila syarat-syarat yang ditetapkan para ketua adat telah terpenuhi, yakni menyelenggarakan upacara Nayuh secara besar-besaran.

Nyambai Adat juga mensyaratkan pemotongan kerbau dan pembuatan kue adat oleh saudara perempuan yang telah menikah (nakbay). Peserta Nyambai jenis ini adalah gadus (muli) dan bujang (mekhanai) yang semarga. Mereka melaksanakannya dengan berkumpul di bawah kelasa/tarub dan duduk beralaskan kasur.

Nyambai Tuan

Nyambai Tuan prosesinya lebih sederhana. Masyarakat yang bukan keturunan punyimbang pun bisa mengadakannya asal mampu dalam segi materi dan sudah mendapatkan izin dari para kepala adat. Sama seperti Nyambai Adat, Nyambai Tuan dilaksanakan di bawah kelasa/tarub/tenda namun hanya beralas tikar.

Nyambai Tuan hanya dilaksanakan dengan melibatkan muli dan mekhanai sekampung. Tidak seperti Nyambai Adat yang juga mengundang muli mekhanai dari tiap marga. Perbedaan lainnya, jika Nyambai Adat diselenggarakan setelah upacara adat Nayuh, Nyambai Tuan diadakan sebelum upacara adat tersebut.


Prosesi Nayuh dan Nyambai merupakan satu kesatuan sistem sosial yang terintegrasi dalam upacara adat bagi masyarakat Lampung Saibatin. Saling terkait dan tak dapat dipisahkan satu sama lain. Bisa dikatakan, Tari Nyambai merupakan pengesah dari serangkaian upacara adat perkawinan Nayuh/Penayuhan.

Dalam prakteknya, tari ini tunduk pada aturan yang berlaku. Salah satu yang paling terlihat adalah dipisahnya tempat duduk muli dan mekhanai. Tidak duduk bersebelahan, namun mereka akan duduk saling berhadapan. Mereka menari tidak secara bersama-sama namun bergantian sesuai kelompok masing-masing.

Perihal Bentuk Penyajian Tari Nyambai

Gerakan penari laki-laki terkesan lebih luas dan didominasi oleh gerak silek/silat. Beberapa motif gerak, di antaranya adalah Bukak Tari, Bekelai Mejong, Kakalayang 1, Sasayak, Kakalayang 2, Belah Kacang, Buwang Sawuh, Langkah Silek, Kekalayang 3, Sesayak 2, Kekalayang Akhir, dan Sembah.

Sementara itu, penari perempuan menghadirkan gerakan tari yang cenderung lembut dengan motif gerak yang lebih sedikit. Beberapa motif gerak penari perempuan antara lain; Bukak Tari, Mejong Umbak Gemulung, Mejong Sasayak, Bukak Tari, Cecok Umbak Gemulung, Cecok Sasayak, Bukak Tari.

Karena bukan disajikan oleh penari profesional, pola lantai tarian Nyambai didesain sederhana yakni berhadapan. Karena gerak penari laki-laki lebih beragam, keruangannya lebih luas. Ada gerak berpindah dan gerak di tempat. Adapun, penari perempuan lebih dominan dalam posisi berhadapan satu sama lain.

Busana yang dikenakan oleh para penari adalah busana resmi atau formal. Penari bujang memakai kain tapis, kopiah, celana panjang dan baju teluk belanga. Sementara penari gadis memakai kebaya, selendang, kain tapis jung sarat, kalung papan jajar, sanggul berhias kembang goyang dan perhiasan kepala lainnya.

Selain itu, tarian ini juga menggunakan properti tari, yakni penari gadis memakai properti kipas dan penari bujang memakai properti berupa daun sirih (bulung cambai). Kipas menghadirkan kesan kelembutan penari gadisnya, sedangkan bulung cambai mewakili nilai tanggung jawab dan pengayoman seorang laki-laki.

Tarian ini dipertunjukkan dengan diiringi instrumen musik khas Lampung, yakni kulintang dikombinasikan dengan rebana dan gong. Secara lengkap, perangkat alat musik Lampung diistilahkan dengan tala balak yang terdiri dari 19 buah instrumen. Semua alat musik dibunyikan bersama-sama oleh 9 orang penabuh.


Demikian informasi perihal Tarian Nyambai oleh masyarakat Lampung Saibatin. Artikel Tarian Daerah Lampung ini merupakan rangkuman dari beberapa sumber yang tautannya telah dicantumkan dalam daftar referensi di bawah ini. Tarian Lampung Saibatin lainnya adalah Tari Melinting, Anda perlu juga membacanya.

Referensi:

  1. http://journal.isi.ac.id/ind…
  2. http://digilib.unila.ac.id/5…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *