• sumber : youtube.com/watch?v=LSPVglGA5B4

Tari Oleg Tamulilingan, Bali – Estetika Cinta Kasih Sepasang Kumbang

posted in: Bali, Sejarah, Seni dan Budaya, Tari | 0

Tari Oleg Tamulilingan atau Tari Oleg Tambulilingan adalah suatu bentuk tari Bali. Sebuah tarian cinta kasih yang bertutur tentang sepasang kumbang (jantan dan betina) yang sedang menjalin asmara di sebuah taman bunga. Tari ini terlahir pada tahun 1952 sebagai buah karya dan inovasi seorang I Ketut Marya. Bersama Tari Kebyar Duduk yang juga lahir dari pencipta yang sama, Oleg Tamulilingan menjadi tonggak dan pelopor genre seni pertunjukan yang kini disebut seni kebyar.

Istilah Oleg Tamulilingan sendiri berasal dari dua kata dalam bahasa Bali, oleg berarti goyang dan tamulilingan yang berarti kumbang. Sebuah tari berpasangan yang diperagakan oleh penari laki-laki dan perempuan sebagai kumbang jantan dan betina. Mereka tampil mensinergikan wiraga-wirama-wirasa dengan aura dan gairah berbinar. Mencoba mengunggah suasana sebuah taman sebagai tempat lebah (kumbang) berdengung mengumpulkan nektar bunga-bunga.

Sebagai kumbang jantan, penari laki-laki bermain sangat obsesif mengejar betina dari bunga yang satu ke bunga lainnya. Meski pada awalnya sang kumbang betina cenderung menggoda, namun pada akhirnya pasrah akan rayuan dan jatuh cinta. Dalam hal ini, gerakan penari perempuan terlihat lebih kompleks daripada penari laki-laki. Saking menariknya tarian ini, hingga dikatakan sebagai karya seni pertunjukan monumental yang belum tertandingi hingga saat ini.

Tari Oleg Tamulilingan adalah sebuah karya seni yang selalu dikagumi oleh masyarakat Bali, terutama bagi masyarakat Tabanan. Tari ini beserta penciptanya, I Ketut Marya menjadi salah satu ikon daerah tersebut. Bahkan patung Oleg Tamulilingan dipajang di depan Gedung Mario. Gedung tersebut adalah arena berkesenian di Kabupaten Tabanan yang namanya diabadikan dari nama Marya yang oleh orang barat lebih dikenal sebagai Mario.

Sejarah Tari Oleg Tamulilingan

Tari Oleg Tamulilingan diciptakan oleh I Ketut Marya pada tahun 1952 disaat usianya menapak lebih dari 50 tahun. Di usia senjanya, ia sangat sulit jika diminta membuat sebuah seni tari baru dan lebih memilih untuk menikmati kegemarannya berjudi sabung ayam. Hanya saja ada pengecualian ketika salah satu muridnya, I Sampih membujuknya menciptakan karya tari untuk sekaa gong Peliatan yang akan melawat ke luar negeri.

Tersebutlah budayawan asal Inggris bernama John Coast yang memimpin misi kesenian itu. Dia begitu terkesan dengan kesenian Bali dan sangat ingin mempromosikannya ke Eropa dan Amerika Serikat. Selain ingin menampilkan beberapa kesenian yang sudah ada, ia juga ingin membawa sebuah karya tari baru. Setelah berhasil dibujuk oleh muridnya, akhirnya Marya yang sebelumnya tersohor sebagai pencipta tari Kebyar Duduk (1920) didaulat untuk berkreasi.

Coast turut “merangsang” I Mario (sapaan akrab Ketut Marya) dengan memperlihatkan buku tari klasik ballet. Didalam buku tersebut terdapat foto-foto duet “Sleeping Beauty” tentang percintaan putri Aurora dengan Pangeran Charming. Akhirnya terciptalah tari ini. Sebelum disebut Oleg Tamulilingan, Marya menyebut karya tarinya dengan Tamulilingan Mangisep Sari. Untuk pertama kalinya, tari ini dibawakan oleh I Gusti Ayu Raka Rasmin dan I Sampih dengan diiringi gamelan Gong Kebyar.

Meskipun dikatakan bahwa ekspresi artistik yang terakumulasi dalam tari ini sepenuhnya merupakan formulasi estetik Ketut Marya. Tetapi dalam hal pengiring, Marya di dukung oleh pengrawit kawakan yakni Wayan Sukra asal Marga, Tabanan. Selanjutnya, disempurnakan lagi oleh Anak Agung Gde Mandera, Gusti Kompyang, dan Wayan Lebah dari Peliatan, Gianyar. Sementara itu dalam hal gagasan, seperti telah disinggung diatas, tari ini terinspirasi oleh foto-foto ballet klasik “Sleeping Beauty”.

Pada awal penciptaannya, Tari Oleg Tamulilingan tidak banyak diketahui oleh masyarakat Bali. Saat itu, Tari Kebyar Duduk atau Kebyar Terompong terlebih dulu dikenal oleh penonton luar negeri. Setelah sukses mempesona penonton di Eropa dan di Amerika, tari ini baru melejit namanya di tengah masyarakat Bali. Seiring perkembangannya, Tari Oleg Tamulilingan semakin dicintai, terlebih seiring perkembangan Gong Kebyar yang semakin marak dan banyak tumbuh di setiap desa.

Dalam upaya pelestariannya, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Tabanan juga pernah menggelar lomba tari Oleg Tamulilingan dan Kebyar Terompong. Ajang tersebut terbuka untuk peminat di seluruh Bali, guna mengenang pencipta tari, yakni I Ketut Marya atau I Mario. Setidaknya ratusan remaja dari delapan kabupaten di Bali telah mendaftar, namun hanya dipilih 40 pasang penari Oleg dan 16 penari Kebyar Terompong. Jumlah tersebut sekaligus menunjukkan peningkatan minat ketimbang ajang sebelumnya yang hanya di ikuti 20 peserta.

Penyajian Gerak Tari Oleg Tamulilingan

Dalam penyajiannya, Tari Oleg Tamulilingan akan diawali penampilan penari wanita. Bergerak perlahan saat kedua tangannya memegang selendang ke atas untuk kemudian memungkah lawang agem kanan, nyeledet dan menganggukan kepala. Gerakannya sangat luwes, terutama saat nyeleog lamban lalu agem kiri. Kakinya pintar mempermainkan lancingan, sementara pada gerakan duduk metimpuh akan diikuti gerak tangan dan seledet mata yang dinamis.

Gerakan metimpuh akan diakhiri gerakan badan nyeleog ke kanan dan ke kiri dan berdiri agem kanan. Mata nyeledet kanan dan pecuk alis menganggukkan kepala, begitu juga saat pindah ke agem kiri. Selanjutnya, berjalan ngegol, kaki ngenteb, tangan nyilang di dada sambil ngegol perlahan. Berganti lagi dengan tangan kanan dan kiri memegang selendang ke atas ngegol, gerakan ini berulang sampai tiga kali.

Setelah itu, gerakan duduk metimpuh, gerakan tangan ngejet, seledet kanan dan kiri hingga diakhiri gerak tangan kiri di taruh diatas lutut dan tangan kanan di pinggang. Di saat penari wanita duduk inilah, masuklah penari sebagai penari laki-laki. Tangan kirinya memegang kancut, sementara tangan kanan memainkan kipas. Kakinya melangkah pelan ke kanan dan ke kiri, agem kanan pecuk alis menganggukkan kepala dan nyeledet kanan elog-elog.

Penari wanita berdiri dan berhadapan dengan penari laki-laki. Merekapun melakukan pertukaran tempat sebanyak empat kali. Disaat penari wanita ngegol sambil memegang selendang ke atas, penari laki-laki mengajarnya. Gerakan seperti ini dimaksudkan sebagai gerakan-gerakan kumbang yang sedang memadu kasih. Pada intinya, ragam gerak yang dihadirkan sangat memperlihatkan kemesraan dua sejoli yang sedang memadu kasih.

Tata Busana & Pengiring Tari Oleg Tamulilingan

Dalam hal tata busana, penari wanita menggunakan kain lelancingan, sabuk prada, tutup dada, badung renteng, ampok-ampok, gelang kana dan selendang. Dibagian kepalanya dihias oleh gelungan, bungan semelat imitasi dan sanggul dengan rambut panjang.

Penari laki-laki menggunakan kain kekancutan, sabuk prada, tutup dada, badong laki-laki dan badong renteng, ampok-ampok, gelang kana dan kipas. Untuk bagian kepala penari laki-laki hanya dihias dengan ledeng.

Tari Oleg Tamulilingan dalam pertunjukannya diiringi oleh musik dari Gambelan Gong Kebyar. Seperangkat gamelan ini biasanya terdiri dari : 4 gangse pemade, 4 gangse kantilan, 2 kenyur (pengacah), 2 dublang, 2 jegogan, barangan (reong), kendang, kempul, cengceng kecil, gong, bende dan suling.

Tari Oleg Tamulilingan termasuk dalam kategori tari Balih-Balihan yang difungsikan murni sebagai hiburan. Meskipun tidak menutup kemungkinan dipentaskan di pura, tari Oleg tetap difungsikan sebagai hiburan semata yang tidak terkait dengan upacara keagamaan yang sakral. Tidak jarang, tarian ini juga dipertunjukkan untuk mengisi acara-acara di hotel-hotel maupun di instansi pemerintah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *