• sumber : www.desonline.org

Tari Pendet, Bali – Salah Satu Kesenian Tari Tertua dalam Budaya Bali

posted in: Bali, Sejarah, Seni dan Budaya, Tari | 0

Tari Pendet merupakan salah satu kesenian tari tertua di Bali. Pada awalnya tari ini tercipta sebagai tari pemujaan sebagai lambang penyambutan atas turunnya dewata ke alam dunia.

Dahulu tarian ini diperagakan di tempat peribadatan umat hindu (Pura). Selanjutnya, seiring perkembangan jaman tarian ini mengalami perubahan dalam gerakan dan juga difungsikan sebagai Tarian Ucapan Selamat Datang.

Tari Pendet tidaklah seperti halnya tarian-tarian pertunjukan yang memerlukan pelatihan secara intensif. Pendet dapat ditarikan oleh semua orang, baik itu pria maupun wanita, dewasa maupun gadis. Diajarkan sekedar dengan mengikuti gerakan dan jarang dilakukan dibanjar-banjar.

Para gadis muda mengikuti gerakan dari para wanita yang lebih senior yang mengerti tanggung jawab mereka dalam memberikan contoh yang baik. Tari Pendet ini pun sekarang menjadi tarian penyambutan bagi wisatawan yang berkunjung ke Bali.

Sejarah Tari Pendet

Tersebut seorang maestro seni tari dari Bali bernama I Wayan Rindi yang telah dikenal luas sebagai penggubah Tari Pendet. Tahun 1950 tercatat sebagai tahun kelahiran tari tersebut. Pada awal penciptaannya ini merupakan tarian sakral yang memiliki gerakan sebagai simbol penyambutan atas turunnya dewata ke alam dunia.

Tari Pendet mengalami beberapa perubahan fungsi dan gerakan pada tahun 1961. Melalui I Wayan Beratha, tari ini juga difungsikan sebagai tari penyambutan tamu dengan ditambahkannya jumlah penari menjadi 5 orang.

Berselang setahun kemudian, I Wayan Beratha dan kawan-kawan menciptakan tari pendet massal. Ditarikan oleh para penari yang jumlahnya tidak kurang dari 800 orang, untuk ditampilkan dalam upacara pembukaan Asian Games di Jakarta.

Fungsi Tari Pendet

Tari Pendet Sakral atau tarian yang difungsikan sebagai ritual keagamaan biasanya dibawakan secara berpasangan oleh penari putri. Tarian ini ditampilkan setelah tari Rejang dengan lebih dinamis di halaman Pura menghadap ke Pelinggih (arah suci).

Para penari berdandan selayaknya penari upacara keagamaan dengan memakai pakaian upacara. Masing-masing penari membawa perlengkapan sesajian persembahan seperti sangku (wadah air suci), kendi, cawan, dan yang lainnya.

Mereka membawa mangkuk perak yang penuh berisi bunga yang nantinya pada akhir tarian para penari menaburkan bunga ke arah penonton sebagai ucapan selamat datang. Tarian ini biasanya ditampilkan untuk menyambut tamu-tamu atau memulai suatu pertunjukkan (1999: 47).

Dilihat dari segi fungsionalitas, Tari Pendet mempunyai 2 fungsi yaitu sebagai tari wali yang biasanya di pentaskan di pura-pura pada saat ada upacara. Fungsi yang kedua yaitu sebagai tari balih-balihan yang biasa dipentaskan sebagai penyambutan para tamu.

Gerakan & Tata Busana Tari Pendet

Gerakan dan tata busana merupakan unsur penting dalam Tari Pendet. Dalam pementasan tari Pendet memerlukan beberapa macam perlengkapan busana dan juga properti. Adapun macam-macam perlengkapan busana dan properti tari Pendet adalah Sabuk prada, Anteng, Kain songket, dan Bokor.

Dalam hal gerakan tari, para penari pendet yakni para gadis muda hanyalah mengikuti gerakan penari perempuan senior yang ada didepan mereka. Berikut ini adalah detail pembagian gerakannya :

  1. Ngumbang luk penyalin, berjalan ke muka belok kanan kiri dan ngentrag.
  2. Duduk bersimpuh mengambil bunga lalu menyembah dengan manganjali.
  3. Leher ngilek ke samping kanan seraya nyeledet (gerakan ini dilakukan 3x berturut-turut).
  4. Ngagem kanan disertai luk nerudut dan nyeledet ke kiri.
  5. Ngenjet gerak peralihan untuk perpindah dan menjadi agem kanan.
  6. Ngotag pinggang bertukar tempat dari kanan ke kiri dan sebaliknya.
  7. Ngelung rebah ke kiri dan kanan yang disertai dengan angumad tarik kanan dan kiri.
  8. Ngumbang ombak segera berjalan belok ke belakang dan ke muka.
  9. Nyeregseg ngider berputar ke kanan dan kiri berturut-turut sampai 2 atau 3 kali.
  10. Ngelung kiri kanan beserta nyeledet kiri kanan lalu beranjak 2 terus berjalan.
  11. Ngentrag berjalan cepat terus ngeseh dan menabur bunga sambil berjalan ngumbang luk penyalin.
  12. Metanjek ngandang berputar ke kiri dan ditutup dengan gerakan nyakup bawa.

Jika menurut gerakan dasarnya, dibagi menjadi beberapa macam yakni :

  1. Ngumbang luk penyalin.
  2. Leher ngilek.
  3. Nyeledet.
  4. Agem kanan.
  5. Luk nerusut.
  6. Agem kiri.
  7. Ngumbang ombak.

Masih dalam geraknya, ternyata Tari Pendet dihadirkan dengan banyak sekali komposisi gerakan. Seperti terlihat pada gerakan agem kanan terdapat pula gerakan agem kiri. Adapun gerakan angsel selalu dijadikan gerakan transisi.

Pada dasarnya motif gerak tari Pendet hanya beberapa gerakan seperti : megol, ngelung, agem kanan dan kiri, nyeregseg, ulap-ulap, dan tabur bunga. Motif gerak yang ada kemudian distilir dan distorsi, terjadi beberapa pengulangan seperti pengulangan secara persis, gema ulang, dan pengulangan yang lain.

Kotroversi Tari Pendet

Pembaca masih ingat? Tari ini pernah menjadi kontroversi dengan menjadi sorotan ketika tampil pada program televisi Enigmatic Malaysia Discovery Channel. Pada program tersebut, Malaysia mengklaim Tari Pendet sebagai bagian dari Kebudayaannya.

Tentunya hal ini sangatlah disesalkan oleh masyarakat Indonesia terutama masyarakat Bali. Selain belum ada lembaga hak cipta, tari Bali selama ini tidak pernah di patenkan karena kandungan nilai spiritualnya yang luas dan tidak bisa dimonopoli sebagai ciptaan manusia atau bangsa tertentu.

Namun pemerintah Malaysia menyatakan kalau mereka tidak bertanggung jawab atas iklan tersebut karena dibuat oleh Discovery Channel Singapura. Akhirnya Discovery TV melayangkan surat permohonan maaf kepada kedua negara, dan menyatakan bahwa jaringan televisi itu bertanggung jawab penuh atas penayangan iklan program tersebut.

Meskipun demikian, insiden penayangan tari dalam program televisi mengenai Malaysia ini sempat memicu sentimen Anti-Malaysia di Indonesia. Diharapkan dengan adanya kejadian ini juga bisa menjadi koreksi bagi pemerintah untuk segera mematenkan semua warisan budayanya agar tidak diakui atau berpindah tangan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *