• sumber : bukanonthespot1.blogspot.com

Tari Piring, Sumatera Barat – Dari Tarian Ritual Hingga Sarana Hiburan

Tari Piring Minangkabau. Selain sebagai destinasi wisata populer Indonesia berkat keindahan alamnya, Sumatera Barat juga hadir sebagai salah satu wilayah di Indonesia yang menyajikan beragam keunikan Budaya.

Budaya khas yang kemudian turut menjadi jejak kesejarahan kehidupan masyarakatnya termasuk arsitektur rumah adat, pakaian adat, kesenian tradisional dan lain-lain. Diantara sekian banyak kebudayaan yang ada, salah satu yang paling menonjol adalah Tari Piring.

Tari Piring atau Tari Piriang adalah tari yang terlahir di Kota Solok, Sumatera Barat. Sangat unik dan indah karena menjadikan piring sebagai media utama. Gerakan tari ini dimulai dengan meletakkan piring di atas dua telapak tangan penari yang selanjutnya diayunkan mengikuti gerakan-gerakan tari yang cepat, teratur dan dikondisikan agar piring tidak terlepas dari genggaman tangan.

Semakin menarik karena diselingi oleh dentingan piring akibat bersentuhan dengan dua cincin yang ada di jari penari. Adapun pada akhirnya, piring-piring tersebut akan dilempar ke lantai dan kemudian para penari akan melanjutkan tariannya di atas pecahan-pecahan piring tersebut.

Tari Piring biasanya ditarikan oleh penari berjumlah ganjil yang terdiri dari tiga hingga tujuh orang dengan diiringi oleh alat musik tradisional Minangkabau, yakni Talempong dan Saluang. Properti piring lebih dipilih piring porselen dari Cina karena desainnya yang bagus dan memiliki nilai estetis.

Selain itu, pesona seni tari ini juga semakin kentara melalui perpaduan iringan musik bertempo cepat dengan gerakan penari yang begitu lincah. Keindahan tari ini juga didukung oleh tata busana yang lebih di dominasi oleh pakaian berwarna cerah dengan nuansa warna merah dan kuning keemasan.

Sejarah Tari Piring

Dalam sejarahnya, Tari Piring diperkirakan telah ada sejak 800 tahun yang lalu. Pada mulanya tari ini terlahir sebagai tarian ritual ungkapan rasa syukur masyarakat terhadap dewa-dewa setelah mendapatkan hasil panen yang melimpah.

Saat itu, gadis-gadis menari dengan membawa piring yang berisi hasil panen untuk dipersembahkan kepada dewa-dewa yang diagungkan oleh masyarakat setempat. Tari Piring tetap bertahan dan terus berkembang hingga di zaman pemerintahan Sriwijaya.

Adapun ketika kekuasaan Sriwijaya dijatuhkan Majapahit pada kisaran abad ke-16, tari ini pun semakin tersebar ke negeri-negeri melayu yang lainnya bersamaan dengan pelarian sisa-sisa orang sriwijaya saat itu.

Seiring perkembangan selanjutnya, tarian ini mengalami perubahan dalam hal konsep dan fungsionalitasnya, terlebih sejak kedatangan Agama Islam di Minangkabau. Tradisi Tari Piring tidak lagi digunakan sebagai ritual ucapan rasa syukur kepada dewa-dewa. Akan tetapi digunakan sebagai sarana hiburan bagi masyarakat banyak yang ditampilkan pada acara-acara keramaian.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *