• sumber : sanggartaribalilegong.wordpress.com

Tari Puspanjali, Bali – Tari Penyambutan Bali yang Sederhana & Anggun

posted in: Bali, Seni dan Budaya, Tari | 0
Durasi baca : 3 menit

Tari Puspanjali, Bali. Dalam kebudayaan manusia Indonesia, penghormatan terhadap tamu sangatlah dijunjung tinggi. Bisa dikatakan, masing-masing suku memiliki prosesi yang khas untuk menyambut kedatangan tamu mereka, khususnya tamu yang dianggap penting atau istimewa. Dalam hal ini, prosesi tersebut banyak dirupakan dalam bentuk tari penyambutan atau tarian selamat datang.

Sebagai misal adalah Pulau Bali yang merupakan salah satu pusat kebudayaan di Indonesia, juga memiliki tari yang difungsikan untuk menyambut tamu. Bahkan, tari penyambutan Bali sangat banyak macamnya. Diantara yang populer seperti Tari Pendet, Tari Payembrama, Tari Gabor, ada juga Tari Puspanjali karya dari Swasthi Widjaya Bandem, dengan dibantu penata iringan, I Nyoman Windha.

Puspanjali merupakan jenis tari kreasi baru yang ditarikan secara berkelompok oleh 5-7 penari wanita. Sebuah tari sekuler (balih-balihan) yang indah dalam kesederhanaan gerak, lembut dan dinamis. Dalam hal ini, Puspanjali banyak terinspirasi dari Tari Rejang yang mewakili kegembiraan gadis Bali dalam menyambut tamu. Bedanya, Rejang adalah tarian sakral untuk menyambut para Dewa.

Fungsinya sebagai tari penyambutan telah juga diisyaratkan namanya. puspa berarti bunga dan anjali yang berarti hormat. Jadi, Puspanjali “menghormati bagai bunga” atau yang pasti tarian ini menggambarkan besarnya penghormatan tuan rumah terhadap kedatangan tamu mereka. Meski berdurasi kurang dari 5 menit, perpaduan tari dan musiknya benar-benar anggun dan mempesona.

Sekilas Sejarah Tari Puspanjali

Dalam sejarahnya, tarian Puspanjali tercipta atas permintaan Titik Soeharto selaku ketua panitia pembukaan olahraga wanita sedunia. Untuk menciptakan tari yang digunakan dalam pembukaan kongres tersebut, ditunjuklah N.L.N. Swasthi Widjaja Bandem, salah satu penata tari Bali terkemuka yang juga merupakan istri seniman tari dan budayawan Bali, I Made Bandem.

Dalam menciptakan tarian ini, Ibu Swasthi Widjaja berkolaborasi dengan seniman karawitan Bali, yakni Bapak I Nyoman Winda, sebagai penata iringan tari. Keduanya diminta untuk membuat tari kreasi sebagai tari penyambutan berdurasi singkat, 3-5 menit, dengan pertimbangan efisiensi waktu pelaksanaan kongres yang digelar di Pertamina Cottage, Kuta, tersebut.

Dari kepiawaian kedua seniman tersebut, perpaduan koreografi dan iringan musik yang sempurna akhirnya melahirkan keindahan serta estetika seni tari, yakni Tari Puspanjali. Sejak tercipta pada tahun 1989, tarian ini sangatlah diminati, mengalami perkembangan yang sangat menggembirakan hingga populer di kalangan masyarakat luas, termasuk juga dikenal oleh dunia.

Faktor pesatnya perkembangan tari ini, salah satunya karena sengaja diciptakan sesederhana mungkin, baik gerak tari maupun pengiringnya. Karena mudah dipelajari, Tari Puspanjali pun sering dipentaskan dalam berbagai acara, baik acara resmi menyambut tamu penting maupun sebagai tarian hiburan. Sejauh ini, Puspanjali juga dijadikan materi dasar pembelajaran tari Bali pada anak usia dini.

Struktur Gerak, Tata Busana & Pengiring Tari Puspanjali

Struktur tarian Puspanjali menyesuaikan dengan struktur gending yang terdiri dari bagian pepeson, pengawak, pengecet, dan pekaad. Secara berurutan, bagian-bagian tersebut mewakili pembukaan tari yang dilanjut gerak tari bertempo pelan, kemudian gerak tari bertempo sedang hingga cepat. Bagian penutup biasanya diwarnai gerak-gerak bertempo cepat hingga melambat untuk mengakhiri tarian.

Senada dengan kesederhanaan tari ini, tata busana yang digunakan juga sederhana yang terdiri dari tapih yang diprada bagian bawahnya dan disarung. Selain itu, ada streples polos sewarna dengan tapih dan kain prada yang juga disarung. hiasan rambut disasak, memakai pusung lungguh magonjer. Ada hiasan onggar-onggar lengkap dengan bunga mas cempaka imitasi dan dua untaian semanggi di depan pusung lungguh yang warnanya disesuaikan dengan warna busana.

Musik atau iringan Tari Puspanjali disajikan sejalan struktur tari diatas, terutama di tiga bagian. Iringan pepeson sebagai pembuka tari saat penari tampil ke pentas. Iringan pada bagian pengawak yang merupakan bagian kedua dari komposisi berikut tariannya, dan iringan pada bagian terakhir, yakni pekaad.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *