Tari Rabbani Wahed, Aceh – Tarian Sufi Khas Bireuen Yang Mendunia

Tari Rabbani Wahed merupakan satu diantara tarian Aceh yang lahir sebagai kesenian masyarakat pesisir. Seperti umumnya tari Aceh, Rabbani Wahid juga sangat kental dengan nuansa ajaran Islam. Namanya sendiri mengandung arti Allah Sang Rabbi Yang Satu.

Rabbani Wahid adalah tarian sufi dari Samalanga, Bireun, Aceh perkembangan dari tari Meugrob yang sudah ratusan tahun berada di Aceh. Pada 1990 dihidupkan kembali oleh T. Muhammad Dawud Gade dengan nama baru didasarkan pada syair Meugrob.

Tari Rabbani Wahid memuat lebih dari 30 gerakan yang terbagi dalam 2 bagian, rateb duek (duduk) dan rateb deung (berdiri). Selain gerakan, tari ini juga berisi syair-syair, seperti Saleum Lingka (salam pencipta), Syuko (bersyukur), Bismillah, dan Hasan Husein.

Tarian ini merupakan satu kesatuan yang melibatkan seorang Syech, Aneuk Syahi dan penari. Tanpa iringan musik eksternal, iringan hanya berupa suara dari para penarinya. Tari ini sering ditampilkan untuk menyambut hari besar Islam, khususnya saat malam Idul Fitri.


Sejarah Tari Rabbani Wahed

Pada hakikatnya, tarian ini sama dengan tarian Meugrob yang dipelopori oleh Tgk. H. Syech Muhammad Saman dan dibawa ke Aceh oleh Tgk. H. Syech Abdurrauf. Tari dan buku yang berisi puisi Ilahi yang dipelajarinya kemudian diwariskan pada Tgk. Diblang Keujeu, ulama di Samalanga, Bireun.

Selama ratusan tahun lamanya, tarian ini disajikan di mushola-mushola. Sering juga dipertunjukkan untuk memeriahkan peringatan hari besar Islam, seperti Maulid Nabi atau di Bulan Ramadhan. Tari ini biasa dilakukan pada malam hari raya Idul Fitri yaitu setelah pembagian zakat fitrah.

Seiring perkembangannya, pertunjukan Meugrob juga turut mewarnai penyambutan tamu atau pengantin (laki-laki) yang baru menikah dan pulang ketempat istrinya, dari sini dikenallah istilah Peugrob Linto. Tidak jarang, juga disajikan untuk memeriahkan pesta panen dan hajatan lainnya.

Popularitas tarian Meugrob di masyarakat surut, terutama diakibatkan oleh perubahan politik. Tarian ini hampir hilang tergerus zaman pada masa penjajahan Belanda dan pascakemerdekaan Indonesia, terlebih saat terjadi perang saudara antara ulee balang dengan ulama pada tahun 1949.

Tersebutlah T. Muhammad Dawud Gade yang menghidupkan kembali tarian ini pada tahun 1990. Hal ini merespon surat edaran Gubernur Aceh Ibrahim Hasan yang menyerukan agar kesenian Aceh yang semakin memudar dilestarikan kembali. Dalam 14 hari, semua gerakan selesai disusun.

Pada tahun yang sama, T. Muhammad Dawud Gade langsung mendapatkan kesempatan untuk menampilkan tarian ini di Jakarta. Karena ingin menampilkan yang terbaik, berbagai persiapan pun dilakukan, sampai-sampai para penarinya berlatih didalam air di wilayah Ujong Kareueng.

Seiring popularitasnya, Tari Rabbani Wahed juga terpilih untuk mewakili Indonesia di festival musik dan tari internasional di Turki yang berlangsung dari tanggal 25-30 Agustus 2002. Pada festival tersebut, para penari tampil memikat dengan mempermainkan ritme emosi penonton.

Rabbani Wahed pernah juga ditampilkan dianjungan Kabupaten Bireuen pada Pekan Kebudayaan Aceh ke-6 dan berhasil menarik perhatian puluhan ribu pengunjung. Selebihnya, tarian ini juga tampil di panggung utama ketika acara penutupan PKA VI pada minggu malam, 29 September 2013.


Penyajian Tari Rabbani Wahed

Tarian ini biasa dibawakan oleh 10 penari laki-laki, dengan seorang syech dan syahi. Dalam durasi sekitar 12 menit, mereka membawakan gerakan-gerakan dalam posisi duduk (rateb duek) dan berdiri (rateb deung). Ada 7 komposisi gerak dalam posisi duduk dan 3 komposisi gerak saat berdiri.

Komposisi gerak saat duduk, ada gerakan Salam, Bismillah, Hattahiyatun, Sultan Maujuudun, Salattullah, Allah Rabbani, dan gerak Din Awaidin. Dalam hal ini, gerakan didominasi oleh tangan, torso dan kepala. Mula-mula bertempo lambat, merambat naik, hingga sangat cepat, kompak dan seragam.

Selanjutnya saat posisi berdiri, penari menyajikan komposisi gerak Hasan Tsumma Husein, Syailellah, dan Allohu. Di mulai dengan secara perlahan berdiri sambil memainkan jari tengah dan jempol, serta menghentakkan kaki kanannya dengan tempo yang semakin cepat.

Ketika berdiri sempurna, mereka bergerak membentuk lingkaran sambil membungkuk dan menengadah dalam ritme semakin cepat. Bergandengan tangan dalam posisi melingkar menjadi adegan terakhir. Disini, mereka bergerak melompat kekanan dengan irama yang semakin cepat.

Akhirnya, satu persatu penari tumbang, sampai tidak ada satupun yang masih berdiri dan melompat. Mereka bangun ketika Syech mengumandangkan adzan atau takbir, untuk kemudian membentuk formasi berbanjar, memberi hormat pada penonton sebagai tanda berakhirnya tarian.


Makna dan Simbol dalam Tari Rabbani Wahed
  • Simpuh Berjajar : simbol berjamaah yang mempunyai arti persatuan dan kebersamaan.
  • Gerak Salam : bermakna bahwa setiap muslim wajib mengucapkan salam saat berjumpa.
  • Gerakan Bismillah : simbol kebaikan.
  • Gerakan Hattahiyatun : Allah Maha Tahu.
  • Gerakan Sultan Maujuudun : simbol kehidupan didunia yang fana dan akherat yang kekal.
  • Gerakan Allah Rabbani : simbol kesadaran iman.
  • Gerakan Din Awadin : bermakna asal mula jadi.
  • Gerakan Hasan Husein : simbol ratapan kesedihan.
  • Gerakan Syailellah : simbol kehidupan yang selalu bergerak hingga pada masanya.
  • Gerakan Allohu : gerak yang bermakna keagungan.

Melalui simbol dan makna yang terkandung dalam Tari Rabbani Wahed, terlihat jelas jejak pengaruh ajaran tarekat Shamaniyah. Tarekat ini berasal dari Madinah abad ke XVIII, didirikan oleh Syeikh Abdul Karim al Hasan Al Madani. Di Aceh, ajarannya dikembangkan oleh Syekh Muhammad Saman.

Meskipun saat ini Tari Rabbani Wahid hanya difungsikan sebagai hiburan semata. Kendati demikian formasi, gerakan, dan syair yang didendangkan sangat sarat dengan tuntunan. Sebuah tari religi yang melengkapi khasanah tarian Aceh yang memang kental dengan nuansa Islam.

  • 2
    Shares

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *