Tari Rampai, Aceh – Perpaduan Cantik & Serempak Berbagai Tarian Aceh

Tari Rampai, Aceh. Rampai merupakan istilah yang biasa digunakan untuk menyebut suatu campuran dari berbagai macam. Demikianlah kiranya Tarian Rampai, tari daerah Aceh yang menyajikan perpaduan gerak dari berbagai tarian. Alhasil, terciptalah keindahan baru yang harmonis dan dinamis.

Langkah penarinya seperti mengusung kekhasan langkah kaki dari Tari Zapin, dan variasi gerak tangannya seperti yang ada dalam Tari Seudati. Sementara itu, ada juga nuansa Tari Saman yang terlihat pada konsentrasi penuh para penarinya untuk menghadirkan gerakan-gerakan yang serempak dan enerjik.

Sumber lain mengatakan, Tari Rampai merupakan kolaborasi beberapa tarian Aceh, yakni Seudati, Laweut, dan Likok Pulo. Perpaduan tersebut menghasilkan tari yang serempak, baik dilihat dari segi waktu, tenaga dan ruang gerak. Keserempakan tersaji tentu menuntut keahlian para penarinya, selain juga adanya penyatuan rasa.


Penyajian Tari Rampai

Awalnya, para penari duduk bersimpuh, berbanjar dan saling merapat antara satu dengan yang lainnya. Formasi atau penempatan penari biasa ditandai dengan penggunaan busana berwarna selang-seling. Mereka menari membawakan serangkaian gerak, seperti menepuk dada, tangan dan paha dengan tempo yang semakin cepat.

Dalam penyajian tari ini, ada seorang pelantun syair (pengaba) yang biasanya duduk di bagian depan. Setiap gerakan yang dihadirkan penari selalu mengikuti tempo dalam syair yang dibawakannya. Ketika tempo semakin cepat, terlihat benar keseragaman gerak penari sehingga menghasilkan sajian seni yang sangat indah dan menarik.

Sebagai tari yang tumbuh dan berkembang ditengah-tengah masyarakat Aceh, nuansa budaya Islam sangatlah kentara. Nuansa keIslaman tergambar melalui busana, syair lagu, serta komposisi gerakannya. Dalam tarian ini, selain dinyanyikan syair tentang kemegahan dan kejayaan Aceh di masa lalu, juga memuat puji-pujian kepada Nabi Muhammad SAW.

Seperti halnya tarian Aceh lainnya, makna yang terkandung dalam Tari Rampai adalah tentang sikap kegotong-royongan dan kebersamaan. Dengan melibatkan setidaknya 10 orang penari, pola gerak penyajian tarian ini sangat serempak yang dilakukan secara bersama-sama. Diiringi tebuhan rebana dan alunan suara, termasuk juga iringan tepuk tangan penarinya.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *